Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Berwisata, Swafoto, Unggah di Media Sosial

Bayu Anggoro
17/11/2017 12:30
Berwisata, Swafoto, Unggah di Media Sosial
(MI/BAYU ANGGORO)

Tak dapat dimungkiri, masyarakat semakin membutuhkan wisata.

Selain untuk melepas stres, mereka ingin melakukan swafoto untuk dibagikan kepada kerabat dekat melalui media sosial.

Dapat dibilang wisata tanpa swafoto kini dianggap bagai taman tak berbunga.

Bicara soal taman, sejumlah daerah menjadi primadona bagi masyarakat karena dianggap Instagramable.

Salah satunya Kota Bandung.

Selain dikenal sebagai pusat Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, daerah berhawa sejuk ini pun kaya dengan taman yang indah.

Di kota berjuluk Paris van Java itu terdapat taman-taman yang menarik minat untuk berfoto ria seperti Taman Alun-Alun, Teras Cikapundung, dan Taman Sejarah.

Tidak hanya menyuguhkan pepohonan, taman-taman tematik ini menampilkan keindahan hasil kreasi manusia.

Taman Lansia di Jalan Diponegoro yang dekat dengan Gedung Sate menjadi favorit, terutama bagi anak-anak. Taman berukuran sekitar 50 x 100 meter ini memajang patung dinosaurus yang menjulang tinggi.

Mereka sengaja datang ke Taman Lansia untuk mengambil foto bersama patung dinosaurus.

Pemandangan serupa terlihat di Taman Dewi Sartika, di dalam kompleks Balai Kota.

Selain pepohonan rindang berusia tua, taman di kawasan Jalan Merdeka itu pun menampilkan hamparan taman bunga dan pelintasan anak sungai.

Asyiknya lagi, pengunjung dengan leluasa menikmati pemandangan alam di tengah kota tanpa dipungut biaya.

Berbeda dengan Taman Lansia, pengunjung Taman Dewi Sartika didominasi warga berusia dewasa, terutama saat hari kerja.

"Biasanya mereka yang habis dari Balai Kota suka berfoto-foto di sini," ucap Didin, seorang petugas kebersihan di taman tersebut.

Mereka pun langsung mengabadikan momen melalui kamera telepon seluler.

"Saya memang suka berfoto. Kalau bagus, saya upload," kata Syarif Abdussalam, warga Ciganitri, yang ditemui di taman tersebut.

Empunya akun Instagram @schariev ini memang acap membanjiri media sosialnya itu dengan foto-foto tempat yang pernah ia singgahi.

Kebun raya

Kondisi di Bandung itu tidak jauh berbeda dengan Banyumas, Jawa Tengah. Pada Selasa (14/11), di dalam rumah kaca milik Kebun Raya Baturraden, tampak dua pemuda terlihat asyik dengan kamera mereka.

Pemuda yang satu asyik membidik bunga anggrek yang tengah mekar. Satunya lagi tengah swafoto dengan kamera Go Pro.

Latar belakangnya kebun anggrek dalam rumah kaca itu.

"Saya sengaja memotret anggrek karena punya warna asyik. Hasilnya nanti saya unggah di Instagram," ungkap Indra, 26, salah satu pemuda itu yang berasal dari Purbalingga.

Teman Indra, Galuh, 21, mengaku pula suka dengan warna-warni bunga anggrek.

Di ruangan yang penuh dengan anggrek bermekaran itu, dia sengaja menjeprat-jepret sekaligus mengeksplorasi keindahan bunga dengan kameranya.

Tentu saja sesekali ia menampangkan wajah di kamera dengan swafoto.

Kebun Raya Baturraden menjadi salah satu lokasi yang kerap menjadi tempat wisata dan para pengunjungnya swafoto di lokasi setempat.

Tidak mengherankan jika tagar #kebunrayabaturraden cukup terkenal di Instagram dengan unggahan foto hingga ribuan.

Menurut Rebika, salah seorang pengelola anggrek, koleksi di Kebun Raya Baturraden telah mencapai lebih dari 500 spesies.

"Hampir setiap saat ada saja yang berswafoto di kebun anggrek. Akan tetapi, yang paling ramai biasanya pada saat akhir pekan," ujarnya.

Pengunjung Kebun Raya Baturraden juga dapat menikmati taman bunga yang cukup asri. Ada jalan setapak yang dibuat dari batu untuk berjalan-jalan di tengah taman bunga.

Kalau mau swafoto, di situ tempatnya karena latar belakangnya pasti memanjakan mata.

Lokasi kebun raya itu gampang dijangkau, hanya 15 kilometer dari pusat Kota Purwokerto.

Untuk masuk ke Kebun Raya Baturraden harus lewat Wana Wisata dengan tiket Rp13 ribu.

Kalau tiket terusan ke objek wisata lain seperti Pancuran Tujuh mencapai Rp23 ribu.

Tiket mobil bertarif Rp10 ribu dan sepeda motor Rp4.000.

Danau

Ada sedikit cerita berbeda di Kabupaten Buleleng, Bali. Pengelolaan wisata swafoto dengan latar belakang Danau Buyan dan Danau Tamblingan kini diperebutkan kelompok masyarakat setempat dari Banjar Yeh Ketipat, Banjar Bhuana Sari, Banjar Asah Panji Kaja, dan Banjar Asah Panji Kelod.

Semua berada di wilayah Desa Pakraman Wanagiri, Kabupaten Buleleng.
Kelian Banjar Dinas Asah Panji Ketut Suwena menjelaskan awalnya ada sekelompok masyarakat membangun sendiri spot-spot yang dijadikan swafoto bagi wisatawan.

"Ternyata lahan itu milik BKSDA Provinsi Bali. Semua spot itu belum memiliki izin resmi dari BKSDA. Koordinasi juga sudah dilakukan dan BKSDA meminta warga agar mengajukan secara resmi izin. Namun sampai sekarang belum terealisasi," ujarnya di Wanagiri, kemarin.

Menurutnya, awalnya ada delapan spot swafoto yang dibangun kelompok warga. Namun, kini tinggal enam titik.

Dari enam titik itu, baru ada satu titik yang sudah diajukan ke BKSDA untuk mendapatkan izin.

Kunjungan ke tempat swafoto itu terus meningkat dari hari ke hari.

Rata-rata dalam sehari bisa mencapai 50 orang per titik.

Tiket yang dipungut hanya Rp15 ribu per orang.

Hutan

Di wilayah Mangunan, selain hutan pinus yang naik daun beberapa waktu lalu, ada objek wisata lain yang kini tengah populer, yaitu hutan bakau (mangrove) di Kabupaten Kulonprogo yang berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Lokasinya sekitar 47 km dari Malioboro atau tidak sampai 1 km dari calon bandara baru Yogyakarta di Kulonprogo, berada di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kulonprogo.

Objek wisata tersebut berawal dari upaya dari Universitas Gadjah Mada untuk menanam pohon bakau di kawasan tersebut pada 2006.

Waktu itu, masyarakat di sekitar diberdayakan untuk ikut serta menjaga dan melestarikan pohon bakau.

"Dulu penanaman pohon mangrove untuk penanggulangan abrasi, seluruh bibitnya dari UGM," kata Suparyono, Ketua Kelompok Hutan Mangrove Pantai Pasir Kadilangu, Selasa (14/11).

Seiring dengan berjalannya waktu, bibit-bibit pohon bakau yang ditanam tumbuh besar dan membentuk ekosistem hutan bakau yang cukup lebat.

Sekitar sepuluh tahun berselang, seiring dengan semakin populernya ekowisata dan aktivitas swafoto di alam terbuka, kawasan hutan bakau banyak dikunjungi wisatawan. Kawasan wana tirta, sebelah barat Pasir Kadilangu, menjadi yang pertama kali dikenal wisatawan awam.

Melihat ramainya wisatawan, kelompok masyarakat di sekitar Pantai Pasir Kadilangu pun tertarik.

Mereka mulai mengerjakan jalur di sekitar Februari 2016 dari bambu dan kayu.

Pembiayaan pembangunannya bertahap, bersumber dari sumbangan swadaya masyarakat dan pendapatan pengelolaan wisata.

Saat ini, sudah ada jalur untuk jalan kaki sepanjang 3.500 meter.

Di tengah-tengah jalur, terdapat berbagai spot menarik bagi pengunjung, dari gardu pandang hingga menara tinggi dari bambu.

"Ide spot-spot foto kita gali dari para pemuda karena ini konsumsinya muda-mudi."

Harga yang dikenakan Rp5.000 per orang dengan tiket parkir Rp2.000 untuk sepeda motor, Rp5.000 untuk mobil, dan Rp10 ribu untuk bus.

Ia mengaku, walau telah ramai, masih banyak pekerjaan rumah agar kawasan hutan bakau lebih menarik, misalnya soal sampah.

"Kalau pagi dibersihkan, begitu pasang sudah penuh sampah lagi."

Bagi Polo, warga Piyungan, lokasi hutan Mangrove sangat strategis.

Pada sore hari, pengunjung bisa melihat keindahan matahari tenggelam dan bisa naik perahu di antara hutan mangrove. Pengunjung pun bisa melihat petak-petak tambak udang dan duduk-duduk di tepian pantai.

Sayangnya, pembelajaran tentang mangrove hampir tidak ada.

"Wisatawan seharusnya tidak hanya menikmati keindahan hutan, tapi juga bisa tahu pentingnya hutan mangrove dan lebih peduli pada lingkungan." (LD/OL/AT/S-4)




Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya