Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
SEIRING dengan kemajuan teknologi, industri pariwisata di Tanah Air terus mengalami perkembangan termasuk dari segi mekanisme perjalanan wisata.
Para pelancong (traveler) umumnya kini lebih mengandalkan aplikasi berbasis digital ketimbang menggunakan metode konvensional.
Erika K Paramisora, 25, seorang travel blogger yang juga berprofesi sebagai jurnalis, mengatakan cara-cara digital memang relatif lebih memudahkan.
Mulai soal mencari informasi destinasi wisata yang hendak dituju sampai mengatur urusan akomodasi seperti pesan tiket, hotel, dan sebagainya.
"Dari transportasi sampai akomodasi semua sudah online, bayarnya pun online. Kalau untuk bisa tahu info perjalanan, seringnya nanya lewat medsos atau forum backpacker," ujar pemilik akun www.paramisora.id tersebut saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (14/11).
Selain memudahkan, digitalisasi turut meningkatkan minat masyarakat yang semula kurang tertarik berwisata menjadi hobi traveling.
Bahkan tidak sedikit di antara para pemula yang justru malah ketagihan.
Bagi Erika yang mengaku gemar berwisata alam dan budaya, dunia digital lebih kaya akan informasi sehingga memungkinkan manajemen perjalanan wisata jadi lebih terarah.
Tak ayal hal itu berdampak pada pengalaman yang nantinya akan didapat.
"Kalau dari awal kita sudah banyak tahu dan enggak ribet ngurus akomodasi dan sebagainya, liburan pasti akan lebih menyenangkan," ucapnya.
Dari suatu survei oleh platform travel niaga global, Travelport, para pelancong asal Indonesia ternyata menduduki rangking tiga besar dunia untuk pemanfaatan alat digital saat merencanakan, memesan, dan melakukan perjalanan.
"Ini hasil survei terhadap wisatawan global dengan 11 ribu responden di seluruh dunia," kata Managing Director Asia Pacific Travelport, Mark Meehan, seperti dilansir Antara, Selasa (14/11)
Menurut Mark, survei global ini dilakukan terhadap mereka yang tahun lalu setidaknya telah melakukan minimal satu kali perjalanan pulang pergi menggunakan moda transportasi udara.
Survei itu mengungkapkan wisatawan Indonesia sangat menyukai dan menghargai pengalaman digital yang baik, yang disediakan maskapai penerbangan.
Hal itu menunjukkan kegemaran dan kecenderungan wisatawan Indonesia menggunakan alat digital di setiap bagian dan proses perjalanan.
Mark mencontohkan, saat merencanakan perjalanan, wisatawan Indonesia menyukai kegiatan penelitian untuk membuat rencana perjalanan, 93% menggunakan video dan foto dari media sosial, sedangkan rata-rata Asia Pasifik adalah 76%.
Mark juga menyebut India, Tiongkok, dan Indonesia berada di puncak klasemen sebagai negara dengan pelancong paling bergantung pada alat digital di seluruh dunia.
"Temuan itu menunjukkan pentingnya alat digital bagi wisatawan sepanjang perjalanan mereka. Kami mengidentifikasi kebutuhan bagi industri perjalanan dan perhotelan global senilai US$7,6 triliun dini, untuk beradaptasi secara terus-menerus untuk memberikan layanan yang responsif, relevan, dan tepat waktu bagi pelanggan," ujar Mark.
Kian kompetitif
Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani tidak menafikan belakangan ini orang cenderung berharap segala sesuatu bisa dilakukan secara online, termasuk soal urusan berwisata.
Peralihan ke dunia digital sontak berpengaruh besar terhadap penjualan.
Bahkan lebih dari itu, bisnis perhotelan maupun agen perjalanan konvensional pun dihadapkan pada era kompetisi yang ketat karena hadirnya para pemain baru yang menawarkan sewa apartemen dengan biaya relatif murah.
"Sekarang ini banyak orang punya apartemen yang tidak ditempati lalu disewakan dengan harga suka-suka. Jadi enggak fair kompetisinya karena yang konvensional bayar pajak, sedangkan mereka enggak," cetusnya.
Lebih ironis, masyarakat di era digital juga tidak peduli lagi dengan hal-hal menyangkut kepatuhan terhadap aturan pemerintah semacam itu.
"Masyarakat kan biasanya cari di internet, mana yang paling murah itu yang diambil. Meski belum kita identifikasi, dampak dari perubahan digital memang sudah terasa," ucap Hariyadi.
Ketua DPP Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar mengamini peralihan offline ke online merupakan sebuah keniscayaan.
Artinya, hal tersebut tidak bisa dihindari, tetapi harus jadi bahan introspeksi.
Karena itu, enam bulan lalu, Asita merilis Asita Go guna menjawab tantangan di era digital.
Bermula dengan konsep business to business (B2B), menurut Asnawi, pihaknya akan tetap mampu mempertahankan pasar.
"Kami optimistis, meski banyak bermunculan para pesaing baru di digital, biro perjalanan punya keunggulan kualitatif dan kuantitatif tersendiri yang tidak mereka miliki," tuturnya.
Itu antara lain, terang Asnawi, kekuatan di dalam melayani wisatawan skala besar atau kelompok.
Ia meyakini, meski marak bermunculan agen travel yang menyediakan jasa via daring, itu tidak akan sebanding dengan biro perjalanan konvensional.
"Namun, tetap kita harus ikut perkembangan zaman. Kita jadikan sistem digital itu sebagai tools yang membantu kita. Kalau enggak, lama-kelamaan akan tergerus." (S-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved