Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Bukan Sekadar Liburan, Urban Traveling Bentuk Pola Mobilitas Baru Generasi Muda

Ihfa Firdausya
07/2/2026 02:51
Bukan Sekadar Liburan, Urban Traveling Bentuk Pola Mobilitas Baru Generasi Muda
Tas tidak lagi hanya berfungsi sebagai wadah penyimpanan saat bepergian jauh, tetapi menjadi bagian dari aktivitas harian yang menemani berbagai peran sekaligus.(Dok. Taylor Fine Goods)

PERKEMBANGAN gaya hidup urban di kota-kota besar Indonesia melahirkan pola perjalanan yang semakin beragam. Aktivitas berpindah tempat kini tidak selalu dimaknai sebagai liburan panjang, melainkan menjadi bagian dari rutinitas harian yang berkaitan dengan pekerjaan, pendidikan, hingga eksplorasi kota. 

Fenomena ini mendorong lahirnya konsep urban traveling, sebuah cara bepergian yang lekat dengan mobilitas tinggi dan ritme hidup perkotaan.

Di tengah dinamika tersebut, perjalanan tidak lagi berdiri sebagai aktivitas terpisah dari keseharian. Generasi muda memadukan fungsi, efisiensi, dan ekspresi diri dalam setiap perpindahan ruang. Pilihan barang yang digunakan, mulai dari tas hingga perlengkapan pendukung, tidak semata soal kegunaan, tetapi juga merepresentasikan cara pandang terhadap gaya hidup modern yang fleksibel dan serba cepat.

Perubahan ini turut memengaruhi cara masyarakat memandang produk perjalanan. Tas, misalnya, tidak lagi hanya berfungsi sebagai wadah penyimpanan saat bepergian jauh, tetapi menjadi bagian dari aktivitas harian yang menemani berbagai peran sekaligus. Dari bekerja, kuliah, hingga perjalanan singkat di dalam kota, kebutuhan akan perlengkapan yang adaptif semakin nyata di ruang-ruang urban.

Tren tersebut menjadi latar belakang munculnya berbagai inisiatif dari pelaku industri kreatif lokal. Salah satunya disampaikan Dwi Hanni Yunianto Purwanto Putro, CEO Taylor Fine Goods, yang melihat adanya celah kebutuhan di kalangan pelancong urban. 

"Taylor Fine Goods lahir sebagai respons terhadap berkembangnya tren urban traveling di Indonesia. Masyarakat, terutama generasi muda, membutuhkan perlengkapan perjalanan yang fungsional, praktis, namun tetap stylish," ujarnya.

Dwi menjelaskan bahwa konsep perjalanan yang diusung tidak terbatas pada perjalanan jarak jauh. Menurutnya, mobilitas perkotaan menuntut produk yang dapat digunakan lintas aktivitas.

"Taylor Fine Goods mendefinisikan urban travel goods sebagai perlengkapan perjalanan yang dirancang untuk mobilitas tinggi di lingkungan perkotaan, dengan mengutamakan fungsi, kenyamanan, dan desain minimal yang stylish," kata Dwi. 

Produk dengan konsep ini dinilai relevan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bekerja, kuliah, city traveling, hingga short getaway.

Dalam proses perancangan, keseimbangan antara tampilan dan fungsi menjadi perhatian utama. Bagi generasi muda, desain yang menarik perlu berjalan seiring dengan kenyamanan dan kemudahan penggunaan. 

"Taylor Fine Goods percaya bahwa fashion bukan hanya soal tampilan, tetapi juga tentang bagaimana produk tersebut bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari," tutur Dwi. 

Ia menambahkan bahwa kebutuhan nyata pengguna diterjemahkan melalui desain yang ringan, nyaman, serta memiliki kompartemen yang mendukung berbagai aktivitas urban.

Lebih dari sekadar fungsi, filosofi perjalanan juga menjadi bagian dari karakter produk yang dikembangkan. Dwi menyebutkan bahwa nilai Travel to Learn menjadi salah satu landasan dalam pengembangan produk.

"Filosofi 'Travel to Learn' kami wujudkan dengan memandang perjalanan sebagai proses belajar, tentang tempat, budaya, dan diri sendiri. Nilai tersebut tecermin melalui desain yang sederhana, adaptif, dan berfokus pada esensi penggunaan," ujarnya.

Pendekatan tersebut tidak terlepas dari kesadaran akan perubahan tren konsumsi. Menurut Dwi, tren kini tidak lagi semata soal warna atau model yang sedang populer.

"Saat ini tren bukan sekadar soal warna atau model, tetapi bergerak ke arah fungsi dan sustainability. Konsumen semakin memperhatikan kualitas serta kegunaan jangka panjang dari produk yang digunakan sehari-hari," ujarnya.

Taylor Fine Goods sendiri didirikan pada 2012 oleh Edwin Yani Widjaja, dengan legalitas resmi pada 2017, dan berbasis di Surabaya. Berawal dari sektor ritel tas, brand ini terus berkembang mengikuti dinamika gaya hidup urban generasi muda di Indonesia. 

Pada 2025, Taylor Fine Goods resmi diakuisisi oleh PT Terang Fajar Gemilang, dengan Dwi Hanni Yunianto Purwanto Putro menjabat sebagai Direktur sekaligus CEO.

Seiring berkembangnya tren urban traveling, kebutuhan akan perlengkapan perjalanan yang adaptif diperkirakan akan terus meningkat. Mobilitas yang kian dinamis menuntut produk yang tidak hanya menunjang aktivitas, tetapi juga selaras dengan nilai dan gaya hidup generasi muda di perkotaan. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya