Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
VALVE memperkenalkan sistem baru bernama X-Ray Scanner untuk mekanisme pembukaan peti (case opening) dalam Counter-Strike 2 dan Counter-Strike: Global Offensive di Jerman. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tekanan terhadap industri loot box, yang selama ini sering dianggap memiliki unsur perjudian.
Dalam komunitas Counter-Strike, membuka peti harta karun sudah lama dipandang mirip dengan praktik perjudian. Pemain harus membeli kunci untuk membuka peti dengan harapan mendapatkan item langka seperti skin Covert yang memiliki nilai jual tinggi di pasar. Sistem ini kerap disamakan dengan memasukkan koin ke mesin slot di kasino, karena hasilnya sepenuhnya bergantung pada keberuntungan.
Seiring meningkatnya sorotan dari regulator terhadap mekanisme loot box, Valve mulai mengambil langkah untuk mengurangi unsur perjudian tersebut.
Melalui fitur X-Ray Scanner, pemain kini dapat melihat isi sebuah peti sebelum memutuskan untuk membeli kunci dan membukanya. Dengan demikian, pemain tidak lagi membeli kunci secara “buta”, karena mereka sudah mengetahui item apa yang akan didapatkan dari peti tersebut.
Meski demikian, sistem ini tetap memiliki aturan khusus. Setelah seorang pemain menggunakan X-Ray Scanner untuk melihat isi sebuah peti, mereka tidak dapat memindai peti lain sebelum membeli kunci dan mengklaim item yang telah terungkap sebelumnya. Artinya, pemain tetap harus mengeluarkan uang untuk melanjutkan proses pemindaian peti berikutnya.
Dalam praktiknya, mekanisme ini justru dapat membuat pemain mengeluarkan lebih banyak uang, terutama ketika item yang terungkap memiliki nilai pasar yang rendah.
Sebagai contoh, sebuah video yang dibagikan di platform X oleh pasar perdagangan skin CS2 white.market menunjukkan hasil pemindaian sebuah peti yang berisi skin SCAR-20 Poultrygeist dengan nilai sekitar US$0,63. Untuk membuka peti tersebut, pemain tetap harus membeli kunci Dreams & Nightmares seharga sekitar US$2,15, yang berarti biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar daripada nilai item yang didapatkan.
Situasi ini memunculkan perdebatan baru di kalangan komunitas pemain. Sebagian menilai sistem X-Ray Scanner memang mengurangi unsur perjudian karena pemain mengetahui apa yang mereka beli.
Namun di sisi lain, sistem tersebut dianggap hanya sebagai celah hukum, bukan solusi nyata terhadap masalah loot box. Pemain tetap harus mengeluarkan uang untuk melanjutkan proses pemindaian peti berikutnya, sehingga mekanisme pengeluaran uang tetap terjadi.
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah Valve akan menerapkan sistem X-Ray Scanner di wilayah lain di luar Jerman atau tidak. Namun kehadiran fitur ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap praktik loot box di industri gim semakin meningkat.
Bersama dengan sistem Trade-Up yang sempat menuai kontroversi tahun lalu dan memengaruhi ekonomi skin dalam semalam, perubahan ini menandakan bahwa mekanisme ekonomi dalam Counter-Strike terus mengalami penyesuaian di tengah pengawasan yang semakin ketat terhadap unsur perjudian dalam gim. (Muhammad Ghifari A/E-4)
Dua perusahan gaming asal Amerika Serikat masing-masing dari produk perangkat dan pengembang video gim Counter Strike 2 (CS2), Razer dan Valve
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved