Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM film The Lord of the Rings: The Return of the King, nyala api suar (beacon) Gondor menjadi simbol panggilan bantuan yang menentukan nasib dunia. Kini, para ilmuwan menemukan "sinar suar" serupa di kedalaman alam semesta yang membawa kabar baik bagi dunia astronomi: penemuan dua sistem lubang hitam supermasif biner yang diberi nama Gondor dan Rohan.
Sistem Gondor (SDSS J0729+4008) dan Rohan (SDSS J1536+0411) ditemukan tim North American Nanohertz Observatory for Gravitational Waves (NANOGrav). Penemuan ini menggunakan teknik mutakhir yang menggabungkan dengung latar belakang riak ruang-waktu yang disebut "gelombang gravitasi" dengan pengamatan terhadap quasar.
Logika di balik penemuan ini didasarkan pada perilaku lubang hitam supermasif biner yang saling mengorbit dan perlahan menyatu. Saat orbitnya mengecil, sistem ini memancarkan gelombang gravitasi dengan frekuensi yang meningkat, menciptakan dengung latar belakang.
Ilmuwan menemukan penggabungan lubang hitam ini lima kali lebih mungkin ditemukan di dalam quasar, inti galaksi yang sangat terang dan ditenagai lubang hitam yang sedang "memakan" materi di sekitarnya. Dengan menjadikan quasar sebagai penanda, para ilmuwan kini memiliki metode untuk membuat peta kosmik dari penggabungan raksasa ruang angkasa tersebut.
"Temuan kami memberikan tolak ukur konkret pertama bagi komunitas ilmiah untuk mengembangkan dan menguji protokol deteksi sumber gelombang gravitasi tunggal yang berkelanjutan," ujar Chiara Mingarelli, anggota tim NANOGrav, dalam pernyataan resminya.
Mingarelli menjelaskan pemilihan nama unik ini terinspirasi dari budaya populer dan anggota tim peneliti.
"Nama-nama itu berasal dari orang-orang dan budaya populer. Rohan adalah yang pertama, dinamai menurut Rohan Shivakumar, mahasiswa Yale yang pertama kali menganalisisnya. Dan Gondor adalah berikutnya, karena—api suarnya sudah menyala!" jelas Mingarelli.
Penelitian yang diterbitkan di The Astrophysical Journal Letters pada 5 Februari ini melibatkan pemindaian terhadap 114 Inti Galaksi Aktif (AGN). Hasilnya, Gondor dan Rohan muncul sebagai kandidat utama yang memerlukan pengamatan lebih lanjut.
Ke depannya, NANOGrav berencana untuk terus mengidentifikasi sistem lubang hitam biner lainnya. Tim peneliti meyakini bahwa katalog penggabungan lubang hitam, meski dalam jumlah kecil, dapat membantu menciptakan peta latar belakang gelombang gravitasi. Riset ini diharapkan mampu mengungkap lebih dalam mengenai proses penggabungan galaksi, fisika lubang hitam, hingga sifat dasar gelombang gravitasi itu sendiri.
"Pekerjaan kami telah menyusun peta jalan untuk kerangka kerja deteksi lubang hitam supermasif biner yang sistematis," pungkas Mingarelli. (Space/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved