Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Asteroid Raksasa Berpeluang Tabrak Bulan pada 2032, Bisa Picu Gempa dan Hujan Meteorit

Abi Rama
04/2/2026 12:29
Asteroid Raksasa Berpeluang Tabrak Bulan pada 2032, Bisa Picu Gempa dan Hujan Meteorit
Ilustrasi(freepik)

ASTEROID 2024 YR4 menarik perhatian para astronom setelah pembaruan analisis lintasannya mengungkap adanya peluang kecil benda langit ini dapat menabrak Bulan pada 22 Desember 2032. Berdasarkan perhitungan terbaru, kemungkinan terjadinya tumbukan tersebut berada di kisaran 4%, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai potensi dampaknya bagi Bumi.

Menurut para peneliti, tumbukan ini diperkirakan akan melepaskan energi setara 6,5 juta ton TNT dan membentuk kawah berdiameter sekitar satu kilometer. Dampak tersebut berpotensi menjadi tumbukan paling kuat yang pernah tercatat di Bulan sejak era pengamatan modern.

Tumbukannya Dapat Dipantau dari Bumi

Alih-alih membahas upaya pencegahan, para ilmuwan kini justru memusatkan perhatian pada apa yang akan terjadi jika asteroid itu benar-benar menghantam Bulan. Dalam sebuah studi pracetak yang dibahas Discover Magazine, tim peneliti memodelkan berbagai dampak fisik tumbukan, sekaligus menyusun linimasa pengamatan dari detik-detik awal hingga bertahun-tahun setelah kejadian.

Bagi dunia sains, peristiwa ini dipandang sebagai peluang langka untuk menyaksikan secara langsung bagaimana tumbukan besar membentuk permukaan Bulan dan memengaruhi bagian dalamnya.

Kilatan Cahaya dan Panas Ekstrem

Tumbukan Asteroid 2024 YR4 diperkirakan akan diawali dengan kilatan cahaya terang. Para peneliti memperkirakan kilatan tersebut dapat mencapai kecerlangan antara magnitudo –2,5 hingga –3, setara dengan terang planet Jupiter di langit malam, dan berlangsung selama beberapa menit. Dalam kondisi pengamatan yang mendukung, peristiwa ini berpotensi terlihat dari Bumi menggunakan teleskop berukuran kecil.

Tumbukan tersebut diperkirakan melelehkan batuan Bulan hingga suhu sekitar 2.000 Kelvin. Material cair ini kemudian akan mendingin selama beberapa jam hingga beberapa hari, sambil memancarkan radiasi inframerah yang dapat dipantau teleskop.

Gempa di Bulan

Energi tumbukan tidak hanya berdampak di permukaan, tetapi juga merambat ke bagian dalam Bulan. Berdasarkan simulasi, tabrakan ini berpotensi memicu gempa Bulan dengan kekuatan sekitar magnitudo 5, setara dengan gempa sedang di Bumi.

Seismometer yang berada di permukaan Bulan diperkirakan mampu merekam getaran ini dari jarak yang sangat jauh. Karena energi tumbukan dapat diperkirakan sebelumnya, data gempa tersebut dinilai sangat berharga untuk memahami bagaimana gelombang seismik merambat di dalam Bulan dan bagaimana struktur interiornya merespons guncangan besar.

Puing Tumbukan Berpotensi Menuju Bumi

Tidak seluruh material hasil tumbukan akan tetap berada di Bulan. Simulasi menunjukkan puluhan hingga ratusan juta kilogram batuan dapat terlepas dari gravitasi Bulan, tergantung pada sudut tumbukan.

Sebagian puing akan bertahan di sistem Bumi–Bulan, sementara sebagian kecil lainnya berpotensi mencapai Bumi. Dalam beberapa skenario, fragmen kecil dapat tiba dalam hitungan hari dan memicu peningkatan aktivitas meteor untuk sementara waktu. Dalam jangka bulan hingga tahun, pecahan yang lebih besar bahkan berpeluang jatuh ke Bumi sebagai meteorit Bulan.

Para peneliti tidak memandang dampak tumbukan ini sebagai peristiwa terpisah. Setiap fase telah dikaitkan dengan instrumen pengamatan tertentu, mulai dari kamera optik berkecepatan tinggi saat detik tumbukan, teleskop inframerah untuk memantau pendinginan kawah, seismometer untuk merekam gempa, hingga jaringan pemantau meteor dalam jangka panjang.

Dengan menggabungkan prediksi kilatan cahaya, panas, guncangan, dan pergerakan puing, studi ini menyusun linimasa pengamatan dari beberapa detik setelah tumbukan hingga bertahun-tahun kemudian. Jika Asteroid 2024 YR4 benar-benar menghantam Bulan pada 2032, para ilmuwan sudah mengetahui kapan harus mengamati dan sinyal apa saja yang perlu dicermati. (Discover Magazine/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya