Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA astronom menemukan perilaku tak biasa dari galaksi-galaksi yang berada dalam sebuah filamen materi gelap raksasa. Banyak galaksi di dalam struktur tersebut ternyata berputar ke arah yang sama dengan rotasi filamennya. Penemuan yang menantang pemahaman saat ini mengenai bagaimana lingkungan kosmik mempengaruhi evolusi galaksi.
Filamen yang berjarak sekitar 140 juta tahun cahaya tersebut merupakan bagian dari cosmic web, jaringan besar materi gelap dan materi biasa yang membentang di seluruh alam semesta. Struktur ini memiliki bentuk berlapis, di pusatnya terdapat deretan 14 galaksi yang tersusun hampir sempurna dalam garis sepanjang 5,5 juta tahun cahaya dan lebar 117.000 tahun cahaya. Semua galaksi ini kaya akan gas hidrogen, bahan utama pembentukan bintang. Deretan tersebut berada di dalam filamen yang lebih besar, sepanjang 50 juta tahun cahaya dan dihuni sekitar 300 galaksi.
Keistimewaan struktur ini bukan hanya pada susunan galaksi yang memanjang, tetapi pada arah rotasinya. Banyak galaksi tampak berputar searah dengan rotasi filamen itu sendiri, seperti "gasing" yang mengikuti putaran alas tempatnya berada.
“Apa yang membuat struktur ini luar biasa bukan hanya ukurannya, tetapi kombinasi keselarasan spin dan gerakan rotasinya,” ujar Lyla Jung dari University of Oxford. “Hal ini dapat diibaratkan wahana teacups di taman hiburan. Setiap galaksi seperti cangkir yang berputar, sementara platformnya, filamen kosmik, juga ikut berputar.”
Penelitian ini dipimpin Jung bersama Madalina Tudorache dari Oxford, menggunakan 64 antena radio teleskop MeerKAT di Afrika Selatan untuk melacak pergerakan gas hidrogen netral pada galaksi dan filamen. Data ini dilengkapi pengamatan optik dari Dark Energy Spectroscopic Instrument (Arizona) dan Sloan Digital Sky Survey (New Mexico).
Pada 2022, ilmuwan telah menemukan bahwa filamen dalam cosmic web dapat berotasi, berdasarkan gerakan galaksi-galaksi di dalamnya. Namun, temuan bahwa galaksi juga berputar searah dengan rotasi filamen menjadi kejutan besar, mengingat teori pembentukan galaksi selama ini.
Dalam contoh Bima Sakti, rotasi galaksi merupakan warisan dari awan gas primordial yang berputar 13 miliar tahun lalu. Setelah terbentuk, galaksi biasanya mengalami interaksi, tabrakan, atau merger yang dapat mengubah arah putarannya. Namun, pada struktur ini, rotasi filamen tampak lebih dominan dan mungkin memengaruhi bagaimana galaksi-galaksi tersebut memperoleh momentum putar.
“Filamen ini adalah rekaman fosil aliran kosmik,” kata Tudorache. “Ini membantu kita memahami bagaimana galaksi mendapatkan putaran dan bertumbuh dari waktu ke waktu.”
Galaksi-galaksi tersebut juga tampak relatif muda, sehingga rotasinya mungkin akan berubah seiring perkembangan lebih lanjut. Temuan ini diperkirakan memengaruhi model evolusi galaksi dan berpotensi berdampak pada survei weak lensing yang memetakan materi gelap melalui distorsi bentuk galaksi.
Penelitian mengenai keselarasan rotasi galaksi dalam filamen ini dipublikasikan pada 4 Desember di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. (Space/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved