Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
LEBIH dari 70 tahun lalu, astronom di Palomar Observatory, California, merekam sejumlah kilatan cahaya mirip bintang yang muncul lalu menghilang dalam hitungan jam. Jauh sebelum satelit pertama, Sputnik 1, diluncurkan ke orbit.
Studi terbaru yang meninjau kembali foto langit dari era 1950-an menemukan bahwa kilatan singkat tersebut, atau transients, muncul dalam hari-hari yang berdekatan dengan uji coba senjata nuklir pada masa Perang Dingin. Kemunculannya juga bertepatan dengan meningkatnya laporan mengenai UFO.
Meski kilatan cahaya dapat dipicu fenomena alam seperti meteor, bintang variabel, atau gangguan instrumen, beberapa objek yang terekam di Palomar menunjukkan ciri tidak biasa, termasuk bentuk titik yang tersusun lurus. Para peneliti menyatakan pola tersebut tidak sesuai dengan penyebab alamiah atau gangguan teknis yang dikenal.
“Kami telah menyingkirkan beberapa penjelasan prosaik, dan ini berarti kita harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa objek-objek ini mungkin merupakan benda buatan dari suatu tempat,” ujar Stephen Bruehl, rekan penulis studi, kepada Live Science. Ia bekerja bersama astronom Beatriz Villarroel dari Nordic Institute for Theoretical Physics.
Namun tidak semua ilmuwan sepakat. Beberapa pakar menilai kualitas data dari periode pra-Sputnik sangat terbatas. Michael Garrett, direktur Jodrell Bank Centre for Astrophysics di Inggris, memuji penggunaan data arsip tersebut namun mengingatkan agar hasilnya tidak ditafsirkan terlalu jauh. “Kekhawatiran utama saya bukan pada kualitas tim peneliti, tetapi pada kualitas data yang mereka miliki,” ujarnya.
Dalam studi yang menelusuri 2.718 hari data POSS-I (1949–1958), tim menemukan kilatan pada 310 malam, dengan ribuan titik cahaya yang muncul di berbagai lokasi namun tidak tampak pada foto sebelum atau sesudahnya. Analisis menunjukkan transients 45% lebih mungkin terjadi dalam 24 jam setelah uji coba nuklir di AS, Uni Soviet, dan Inggris, serta meningkat 8,5% untuk setiap tambahan laporan UFO.
Meski demikian, para peneliti tidak menyimpulkan adanya hubungan sebab akibat. Sebagian ahli juga menilai kilatan tersebut mungkin terkait efek samping ledakan nuklir, seperti serpihan logam atau debu radioaktif yang memantulkan cahaya. Namun Villarroel dan Bruehl menyatakan pola tersebut tidak sesuai dengan bentuk difus yang dihasilkan radiasi atau kontaminasi, dan menilai penjelasan tersebut tidak memadai.
Beberapa astronom lain menekankan kemungkinan adanya ketidaksempurnaan pada pelat fotografi, seperti goresan, debu, atau artefak digital yang muncul selama proses pemindaian ulang. Nigel Hambly dari University of Edinburgh menyebut garis-garis lurus bisa berasal dari debu atau serpihan yang menempel pada emulsi film, bukan objek nyata di langit.
Para ilmuwan sepakat analisis independen diperlukan, termasuk memeriksa ulang pelat asli Palomar secara mikroskopis untuk memastikan apakah kilatan tersebut merupakan deteksi nyata atau artefak. Perdebatan ini, menurut sejumlah peneliti, mencerminkan bagaimana sains bekerja dalam menguji fenomena yang belum terjelaskan. (Live Science/Z-2)
Ia melihat sebuah cahaya tiba-tiba muncul di langit malam, bergerak dari barat ke timur, sebelum melesat ke atas seperti yang disebut UFO Nimitz dengan kecepatan luar biasa.
MUMI yang diduga merupakan jasad dari dua makhluk bukan manusia dipamerkan dalam sebuah sidang kongres di Meksiko.
NASA dianggap tepat untuk memainkan peran penting berkat kemampuan satelit dan aset teknis lainnya yang mereka miliki.
NASA menggelar pertemuan publik pertama mereka mengenai UAP pada Mei lalu, meminta pendekatan ilmian untuk menjelaskan berbagai penemuan misterius selama ini.
Dilansir dari Daily Mail, Rabu (8/3) ilmuwan dan pejabat tinggi intelijen berhipotesis bahwa alien mungkin telah lama mengirim pesawat 'kapal induk' melintasi galaksi,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved