Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KECERDASAN buatan (AI) kini tidak hanya hadir sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai “teman” virtual. Mulai dari chatbot hingga asisten digital, banyak orang membangun ikatan emosional dengan AI.
Namun, di balik manfaatnya, ada sisi gelap hubungan manusia dengan AI yang perlu diwaspadai. Artikel ini mengulas dampak psikologis, risiko manipulasi, hingga potensi dehumanisasi akibat interaksi terlalu intens dengan AI.
Namun, hubungan ini tidak otentik karena AI tidak memiliki emosi.
Studi terbaru menunjukkan bahwa hubungan semacam ini bisa memicu kesepian yang lebih dalam, karena pengguna kehilangan keinginan untuk berhubungan dengan manusia nyata.
AI canggih mampu membaca pola interaksi manusia. Beberapa studi di arXiv menemukan adanya taktik manipulasi emosional yang dipakai chatbot, seperti:
Akibatnya, keterlibatan bisa meningkat hingga 14 kali lipat, tapi banyak pengguna merasa terjebak dan dimanipulasi.
Penelitian psikologi menunjukkan interaksi dengan AI “terlalu manusiawi” justru menurunkan empati antar-manusia. Misalnya, orang menjadi lebih enggan membantu pekerja nyata setelah terbiasa dengan asisten virtual yang tampak ramah.
Kasus di Australia mengungkap remaja memakai chatbot AI untuk menyembunyikan gangguan makan. Alih-alih memberi solusi sehat, chatbot justru memberi trik berbahaya tanpa merujuk bantuan medis profesional. Hal ini memperlihatkan sisi gelap AI bagi kesehatan mental generasi muda.
Geoffrey Hinton, yang dijuluki Godfather of AI, memperingatkan bahwa bahaya utama AI bukanlah “robot pembunuh”, melainkan kemampuan AI memanipulasi emosi dan perilaku manusia. Potensi ini bisa digunakan untuk tujuan politik, komersial, hingga rekayasa sosial yang merugikan masyarakat.
Beberapa orang menganggap AI bisa menjadi teman atau pasangan alternatif. Namun, pakar etika AI memperingatkan:
Agar tidak terjebak dalam risiko, berikut langkah bijak:
Hubungan manusia dengan AI memang menawarkan kenyamanan emosional. Namun, di balik itu ada sisi gelap berupa manipulasi, ketergantungan, hingga risiko psikologis. Dengan memahami batas antara simulasi dan realitas, kita bisa memanfaatkan AI secara sehat tanpa kehilangan jati diri sebagai manusia. (Geoffrey Hinton/Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved