Rabu 28 Juli 2021, 20:18 WIB

Migrasi Workload ke Cloud Pangkas Emisi Karbon hingga 78 persen

Siswantini Suryandari | Teknologi
Migrasi Workload ke Cloud Pangkas Emisi Karbon hingga 78 persen

Dok AWS
Data center Amazon Web Services (AWS)

AMAZON Web Services, Inc. (AWS), salah satu perusahaan milik Amazon.com, Inc. hari ini mengumumkan temuan riset Carbon Reduction Opportunity of Moving to the Cloud for APAC yang diselenggarakan oleh 451 Research yang bernaung di bawah S&P Global Market Intelligence.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa organisasi-organisasi di Asia Pasifik dalam membangun aplikasi-aplikasi bisnis mereka di data center yang semula dibangun secara on-premises beralih ke infrastruktur cloud rata-rata bisa memangkas pemakaian energi berikut jejak karbon yang dihasilkannya hingga 78 persen.

Lebih jauh lagi, apabila operasi cloud di Asia Pasifik bisa didayai 100 persen oleh energi terbarukan, upaya memindahkan workload komputasi ke cloud akan meningkatkan pemangkasan emisi karbon lebih lanjut hingga 93 persen bagi perusahaan-perusahaan. Di sisi  di mana di sisi lain, pengadaan energi terbarukan itu sendiri masih menjadi kendala di kawasan tersebut.

Studi yang diprakarsai oleh AWS ini menyurvei lebih dari 500 perusahaan di wilayah Asia Pasifik yang bergerak di beragam industri di negara-negara, seperti Australia, India, Jepang, Singapura, hingga Korea Selatan.

"Bagi pelanggan di Asia Pasifik yang sudah memindahkan workload komputasi ke AWS Cloud diharapkan bahwa upaya mereka tersebut dapat memangkas jejak karbon secara signifikan, memberikan andil pada upaya-upaya dalam menjaga kelestarian," tutur Ken Haig, Head of Energy Policy for Asia Pacific & Japan at AWS.

Kelly Morgan, Research Director, Datacenter Infrastructure & Services at 451 Research, mengatakan saat ini masih ada perusahaan-perusahaan yang belum menganggap pengembangan infrastruktur digital sebagai inti bisnis dari sebuah perusahaan. Sehingga bagi mereka biaya energi dan jejak karbon di data center bukan menjadi prioritas mereka. Terlebih masih adanya kendala dalam pengadaan energi terbarukan di kawasan Asia Pasifik.

"Kurangnya akses dan ketersediaan pilihan untuk energi terbarukan yang terjangkau di kawasan ini berpotensi menghambat upaya-upaya dalam mewujudkan pemangkasan karbon," kata Morgan.

Dalam riset ini disebutkan bahwa data center berbasis cloud punya keuntungan dalam menghadirkan efisiensi secara lebih signifikan baik di tingkat server hingga fasilitas. Lebih jauh lagi, server-server cloud menyumbang hampir lebih dari 67 persen pemangkasan energi karena penggunaan teknologi-teknologi canggih dan utilisasi yang baik. Selaras dengan hal tersebut, sistem server AWS selama ini dirancang agar mampu menghadirkan optimalisasi daya dan menggunakan komponen-komponen berteknologi mutakhir.

451 Research juga menyampaikan bahwa tingkat efisiensi fasilitas pada data center, seperti sistem distribusi daya canggih dan penggunaan teknologi pendinginan mutakhir, menjadi salah satu faktor diraihnya efisiensi energi hingga 11 persen, dibandingkan dengan infrastruktur on-premises pada umumnya.

Untuk merealisasikan ini, AWS merancang data center sedemikian rupa sehingga mampu memangkas tingkat kehilangan energi dengan dukungan infrastruktur elektrik yang teroptimalisasikan serta penggunaan metode pendinginan yang hemat energi. AWS juga berinovasi di sisi desain sistem pendingin agar penggunaan air dapat ditekan sedemikian rupa. Penggunaan data sensor secara real-time diharapkan juga akan mampu mendukung infrastruktur mampu beradaptasi dengan dinamika kondisi cuaca yang terjadi.

"Semua inovasi yang dikembangkanuntuk pembangunan berkelanjutan, termasuk penggunaan material rendah karbon, prosesor Graviton2, dan teknologi baterai termutakhir, dapat ditemukan di setiap data center yang dioperasikan oleh AWS, termasuk di Region Jakarta yang akan kami luncurkan nanti," lanjut Ken Haig.

451 Research menyebutkan bahwa penyedia cloud punya gol yang lebih agresif dalam penggunaan energi terbarukan. Mereka tidak main-main dalam menggelontorkan investasi untuk mendukung upaya ini, bahwa dalam setiap proyek baru yang mereka kembangkan ada peningkatan penggunaan 10 megawatts energi terbarukan. Namun demikian, masih terdapat kendala yang besar terkait dengan penggunaan energi terbarukan di Asia Pasifik. Ini terlihat dari rendahnya tingkat renewable power purchase agreements (PPAs) yang dieksekusi oleh perusahaan-perusahaan di kawasan tersebut hingga hari ini.

Menurut Bloomberg New Energy Finance (BNEF), hingga akhir 2020, baru terdapat 75 PPA korporasi (dengan total 4,5GW) yang telah dieksekusi di kawasan Asia Pasifik hingga hari ini. Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kawasan Eropa yang sudah mengeksekusi sekitar 233 (14GW). Di Amerika Serikat sendiri angka ini tercatat sebesar 959 (43GW).

Apabila didukung dengan pasar energi lokal dalam menghadirkan energi 100 persen terbarukan dalam mendukung operasi di Asia Pasifik, ini bisa mendukung penyedia cloud dalam memangkas emisi pada workload yang dijalankan di cloud 15 persen lebih tinggi lagi. Apabila ditambah dengan tingkat efisiensi pada server dan fasilitasnya, ini bisa memangkas angka emisi karbon yang dihasilkan dari workload IT yang dijalankan di cloud hingga rata-rata 93 persen di Asia Pasifik.

Investasi secara besar-besaran untuk pengadaan energi terbarukan krusial untuk memangkas jejak karbon Amazon secara global. Amazon sebagai perusahaan terbesar di dunia yang menggunakan energi terbarukan serta mengembangkan 232 proyek tenaga surya dan angin di seluruh dunia.

Proyek-proyek tersebut punya kapasitas hingga 10.000 megawatts (MW) dan menghasilkan lebih dari 27 juga megawatt hours (MWh) energi setiap tahunnya. Proyek-proyek energi terbarukan yang digalang oleh Amazon di antaranya adalah pengembangan lima proyek utilitas berskala besar di Asia Pasifik, hingga proyek energi surya sebesar 62MW di Singapura.

baca juga: Sistem Cloud Jadi Solusi di Era Pendidikan Digital

Didukung oleh lebih dari 200 layanan cloud yang memiliki jangkauan terluas serta dengan pemahaman yang mendalam di bidang ini, AWS mendukung pelanggannya mampu berinovasi melalui solusi-solusi di cloud yang dihadirkannya dalam medukung upaya lestari berkelanjutan.

Amazon berkomitmen untuk membangun bisnis yang berkelanjutan, baik untuk pelanggan maupun untuk kelestarian planet bumi, dan mengundang berbagai lembaga atau organisasi untuk bergabung ke dalam The Climate Pledge. The Climate Pledge adalah sebuah komitmen untuk mewujudkan karbon nol pada tahun 2040, 10 tahun menjelang Perjanjian Paris.

 Saat ini, lebih dari 100 organisasi telah menandatangani The Climate Pledge dan menyatakan komitmennya untuk untuk menggunakan skala mereka untuk mendekarbonisasi ekonomi melalui perubahan dan inovasi bisnis yang nyata. (N-1)

 

Baca Juga

Dok. Litedex

Antisipasi Maraknya Peretasan, Litedex.io Akan Gunakan Auditor CertiK

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 17 September 2021, 14:03 WIB
CertiK sendiri merupakan salah satu perusahaan teknologi keamanan blockchain paling tepercaya di dunia dan terdepan dalam penelitian dan...
ANTARA/Wahdi Septiawan

Yuk Kenali Macam Perangkat Keras Komputer dan Fungsinya

👤Anggi Putri Lestari 🕔Jumat 17 September 2021, 11:36 WIB
Hardware (perangkat keras) merupakan komponen-komponen fisik nyata yang membentuk sebuah sistem komputer yang fungsinya untuk menunjang...
Medcom

Jaringan Komputer, Pengertian, Jenis, Transmisi, dan Topologi

👤Ajeng Ayu Winarsih 🕔Jumat 17 September 2021, 08:45 WIB
Jaringan dapat bersifat privat maupun publik,dalam penggunaan jaringan private, biasanya memerlukan akses user untuk memasukkan kredensial...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Ramai-Ramai Abai Laporkan Kekayaan

KPK mengungkap kepatuhan para pejabat membuat LHKPN tahun ini bermasalah. Akurasinya juga diduga meragukan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya