Jumat 02 Juni 2017, 10:32 WIB

[Tafsir Al Misbah] Berusaha Maksimal Lalu Bertawakal

Indriyani Astuti | TAFSIR AL-MISHBAH
[Tafsir Al Misbah] Berusaha Maksimal Lalu Bertawakal

Quraish Shihab---MI/Seno

 

TAFSIR Al-Mishbah kali ini membahas Alquran Surah ke-33, yakni Al-Ahzab, ayat 1-6. Di dalam surah ini terkandung banyak petunjuk dari Allah SWT.

Dalam firman-Nya Allah berkata, "Wahai Nabi bertakwalah kepada Allah dan janganlah mengikuti orang-orang kafir. Ikutilah secara sungguh-sungguh apa yang diwahyukan Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dengan teliti atas segala sesuatu, dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pemelihara (dirimu dan orang-orang beriman)."

Jadi, setiap orang harus meningkatkan ketakwaannya. Caranya dengan lebih banyak mempelajari agama. Semakin banyak kita mengetahui ilmu agama, semakin meningkat keimanan kita.

Pesan lainnya dalam ayat itu ialah manusia diminta bertawakal. Maksudnya, manusia diminta untuk berusaha terlebih dahulu dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin, baru kemudian memasrahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Jadi, janganlah beranggapan bahwa perintah berserah diri kepada Tuhan ialah menyerahkan pekerjaan kita kepada Tuhan, tetapi berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan apa yang kita harapkan, baru setelah itu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Ayat selanjutnya dalam surah ini membahas pentingnya manusia melihat substansi. Dijelaskan, kecintaan manusia kepada Allah dan Rasulullah diukur ketika manusia dihadapkan pada pilihan, apakah lebih memilih mencintai dirinya sendiri atau cinta Rasulullah dan Allah.

Mengenai hal itu, manusia diminta untuk lebih mengedepankan substansi agar dapat melihat hal yang lebih penting karena manusia tidak bisa memilih dua hal yang bertentangan dalam jiwanya.

Disebutkan dalam firman-Nya, Allah tidak menjadikan manusia memiliki dua rongga hati. Misalnya, kita lebih memilih kepentingan dunia atau akhirat? Kita harus memilih salah satunya.

Pada ayat selanjutnya, disebutkan bahwa Islam tidak melarang pengangkatan anak. Namun, ketika dewasa, anak tersebut harus diberi penjelasan tentang asal usulnya, tidak boleh dirahasiakan.

Dikisahkan, pada awal Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah bersama umatnya, banyak di antara mereka yang meninggalkan harta dan pekerjaan. Maka Nabi mempersaudarakan penduduk Madinah, terutama yang tergolong mampu, dengan orang-orang yang datang dari Mekah, sehingga mereka menjadi seperti keluarga (waris-mewarisi).

Ayat-ayat dalam surah ini meluruskan beberapa kebiasaan yang terkait dengan hal tersebut, termasuk soal harta warisan keluarga. Warisan memang hanya dibagikan untuk anggota keluarga sebagaimana diatur dalam Alquran. Namun, warisan itu boleh juga diberikan kepada orang lain yang bukan anggota keluarga, tetapi kedudukannya bukanlah sebagai hak waris.

Ayat-ayat dalam surah ini turun setelah Rasullah hijrah ke Madinah. Karenanya, banyak petunjuk teknis yang Allah berikan untuk kehidupan manusia. (Ind/H-3)

Baca Juga

MI/Seno

Kisah Nabi Musa Melawan Firaun

👤Quraish Shihab 🕔Kamis 31 Maret 2022, 18:30 WIB
TAFSIR Al Mishbah kali ini membahas Alquran Surah Al Ghafir mulai ayat 23. Dalam surah ini dikisahkan upaya Nabi Musa AS melawan penguasa...
MI.Seno

Arti Jihad Sesungguhnya

👤Quraish Shihab 🕔Rabu 12 Mei 2021, 05:15 WIB
TAFSIR Al-Mishbah pada episode kali ini masih melanjutkan pembahasan surah At-Tahrim ayat 9 sampai...
MI/Seno

Larangan Mengharamkan yang Halal

👤Quraish Shihab 🕔Selasa 11 Mei 2021, 02:00 WIB
SURAH At-Tahrim dinamai demikian karena karena pada awal surat ini terdapat kata tuharrim yang kata asalnya...

RENUNGAN RAMADAN

CAHAYA HATI


JADWAL IMSAKIYAH
Selasa, 17 Mei 2022 / Ramadan 1443 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK RAMADAN