DALAM Piala Jenderal Sudirman terdapat satu tim yang di pandang sebelah mata, yakni PS TNI.
Klub internal TNI itu merupakan satu-satunya klub non-ISL yang berlaga di turnamen tersebut. Tim asuhan Edy Saputra itu bahkan diprediksi menjadi lumbung gol klub-klub lain di Grup C.
Akan tetapi, prediksi awal itu terbukti meleset. Saat melakoni laga perdana melawan Surabaya United di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, kemarin, PS TNI menunjukkan tajinya setelah berhasil menaklukkan 'Bajul Ijo' dengan skor tipis 2-1.
Dengan diisi mayoritas punggawa PSMS Medan dan sejumlah jebolan timnas Indonesia seperti Manahati Lestusen, PS TNI tidak gentar menghadapi Surabaya United.
PS TNI pun terbukti menguasai pertandingan di paruh pertama meski hanya berakhir dengan skor kacamata.
Empat menit setelah turun minum, PS TNI akhirnya menjawab keraguan dengan gol pertama melalui gelandang sarat pengalaman Legimin Raharjo.
Manahati yang juga mantan kapten timnas U-23 berhasil menggandakan keunggulan pada menit ke-85.
Tendangan bebas Manahati mampu mengelabui kiper Surabaya United, Jendry Pitoy.
Sebaliknya, gol pelipur lara skuat asuhan Ibnu Grahan dicetak Fandi Eko pada menit akhir pertandingan.
Kemenangan itu membuat PS TNI mengantongi angka sempurna, 3 poin.
Mereka pun akan mencoba kembali peruntungan saat melakoni laga kedua melawan Pusamania Borneo FC pada Rabu (18/11).
Di sisi lain, terdapat hal unik dalam laga tersebut.
Pasalnya, suporter PS TNI merupakan kumpulan pria-pria berbadan tegap dengan potongan rambut cepak.
Suporter PS TNI yang merupakan anggota TNI pun dengan semangat terus menyanyikan yel-yel selama pertandingan.
Aksi pendukung PS TNI pun membuat sejumlah netizen mengeluarkan komentar menggelitik.
'Suporter PS TNI ini gabungan dari hooligan AD, AL, dan AU', tulis pemilik akun Twitter @AdnanDKusuma.
Debut Huistra Pelatih Belanda yang juga Direktur Teknik Usia Muda PSSI Pieter Huistra akhirnya segera merasakan debutnya sebagai pelatih di sepak bola Indonesia.
Dengan mengarsiteki Persipasi Bandung Raya (PBR), menir 48 tahun itu akan mendapatkan tantangan dari Arema Cronus di Piala Jenderal Sudirman, hari ini.
Sebelumnya, Huistra gagal menjalani debutnya bersama timnas Indonesia pada perte-ngahan tahun lalu.
Pelatih yang kala itu dipercaya mendampingi skuat Garuda di kualifikasi Piala Dunia 2018 itu harus gigit jari setelah sanksi FIFA akhirnya turun pada Mei 2015 lalu.
Ia pun lantas dicabut kembali dari mandatnya sebagai pelatih timnas Indonesia dan kembali ke posisi awalnya sebelum merapat ke PBR untuk kompetisi Piala Jenderal Sudirman.
Ia pun menaruh perhatian khusus kepada penyerang Samsul Arif yang tampil baik dengan mencatat hattrick dalam laga itu.
"Mereka punya lini serang yang bagus. Arema punya Cristian Gonzales dan pemain timnas seperti Samsul Arif yang membuat tiga gol," ungkap Huistra.
Sementara itu, pelatih Arema Joko Susilo mewaspadai warna baru PBR pascakedatangan Huistra.
Joko menilai PBR lebih berbahaya saat ini jika dibandingkan dengan saat mereka turut ambil bagian di Piala Presiden lalu.
Apalagi, saat ini terdapat dua pemain asing baru PBR, yakni Antonio Teles dan Ibrahim Conteh, yang menjadi kunci permainan Gaston Castano dkk. (R-1)