Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Pelatih Hector Souto Tolak Label 'Si Pengukir Sejarah'

Khoerun Nadif Rahmat
06/2/2026 13:53
Pelatih Hector Souto Tolak Label 'Si Pengukir Sejarah'
Skor 3-3 bertahan hingga waktu normal berakhir, memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan.(Antara)

KEBERHASILAN Timnas futsal Indonesia menembus final Piala AFC Futsal 2026 langsung menempatkan pelatih Hector Souto dalam sorotan. Namun, di tengah euforia sejarah yang tercipta, pelatih asal Spanyol itu justru menolak diposisikan sebagai sosok paling berjasa.

Indonesia memastikan tiket ke partai puncak Piala Asia Futsal usai menyingkirkan Jepang 5-3 lewat babak tambahan waktu dalam laga semifinal yang berlangsung ketat di Indonesia Arena, Jakarta, Kamis (5/2). Hasil tersebut sekaligus menandai pencapaian bersejarah karena untuk pertama kalinya skuad Merah Putih melaju ke final ajang futsal tertinggi di Asia.

Meski publik dan media banyak mengaitkan capaian itu dengan racikan taktik sang pelatih, Souto menegaskan sejarah tersebut bukan miliknya secara personal. Ia menolak label “pembuat sejarah” dan memilih mengembalikan kredit sepenuhnya kepada tim.

"Saya tidak menciptakan sejarah. Saya bukan pembuat sejarah. Tim sayalah pembuat sejarahnya. Ini bukan soal satu orang. Ini soal semua orang," tegas Souto kepada pewarta.

Laga kontra Jepang sendiri menjadi ujian berat, baik dari sisi strategi maupun mental. Indonesia sempat memimpin, namun kehilangan kendali permainan pada awal babak kedua setelah lawan memperkecil ketertinggalan. Skor 3-3 bertahan hingga waktu normal berakhir, memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan.

Pada fase krusial itu, ketenangan menjadi pembeda. Reza Gunawan mencetak gol penting sebelum Dewa Rizki mengunci kemenangan melalui situasi gawang kosong. Souto menilai respons para pemain terhadap tekanan menjadi kunci, termasuk dalam menyikapi momen penalti untuk Jepang yang sempat memicu kontroversi.

Alih-alih memperdebatkan keputusan wasit, Souto memilih menyoroti bagaimana timnya tetap fokus dan tidak kehilangan arah permainan. Baginya, sikap itulah yang menunjukkan kekuatan kolektif skuad Garuda.

Indonesia selanjutnya akan menghadapi Iran di final, setelah tim tersebut mengalahkan Irak 4-2 di semifinal lainnya. Souto melihat performa anak asuhnya di babak tambahan sebagai sinyal positif, terutama dalam hal penguasaan tempo saat tekanan mencapai puncaknya.

"Kami bisa mengendalikan permainan. Itu mengejutkan bagi saya karena terlihat seperti mereka lebih kuat dari kami, tetapi para pemain kami mencoba menangani bola, kami menjaga penguasaan," tutup Souto. (Ndf/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya