Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

The Herdman Way: Mengapa High-Intensity Football Jadi Kunci Garuda di 2026?

Cahya Mulyana
15/1/2026 20:05
The Herdman Way: Mengapa High-Intensity Football Jadi Kunci Garuda di 2026?
John Herdman (kiri)(dok.PSSI)

SEJAK John Herdman mengambil alih kursi kepelatihan, ada satu kata yang terus berdengung di pusat latihan Timnas Indonesia: Intensitas. Pelatih asal Inggris ini tidak hanya membawa skema baru, tetapi sebuah identitas yang ia sebut sebagai "The Herdman Way". Ini adalah antitesis dari gaya bermain menunggu yang selama ini sering diperagakan tim-tim Asia Tenggara saat menghadapi lawan tangguh.

Filosofi 'The Herdman Way': Brotherhood & Bravery

Di luar lapangan, Herdman membangun budaya "Brotherhood" yang sangat kuat, mirip dengan apa yang ia lakukan saat membawa Kanada ke Piala Dunia 2022. Namun di dalam lapangan, "The Herdman Way" adalah tentang keberanian (bravery) untuk melakukan high-press tanpa henti. Herdman menuntut pemainnya untuk tidak membiarkan lawan bernapas sejak dari area pertahanan mereka sendiri.

High-Intensity Football: Menakar PPDA Skuad Garuda

Dalam skema Herdman, statistik Passes Per Defensive Action (PPDA) menjadi indikator utama. Semakin rendah angka PPDA, semakin agresif sebuah tim dalam menekan. Di bawah asuhannya, Indonesia kini mencatatkan rata-rata PPDA di angka 8.2, jauh lebih agresif dibandingkan edisi sebelumnya yang berada di angka 12.5.

Metrik Taktik Era Sebelumnya (2024) Era John Herdman (2026)
Defensive Line (Garis Pertahanan) Medium-Low High-Press
Rata-rata Sprint per Laga 145 Sprint 198 Sprint
Ball Recovery (Final Third) 4.2 per laga 7.8 per laga
Transisi Positif (Detik) 6-8 Detik 3-5 Detik

Peran Vital 'The Engine Room': Ivar Jenner & Marselino Ferdinan

Untuk menjalankan High-Intensity Football, Herdman membutuhkan pemain dengan kapasitas paru-paru di atas rata-rata. Ivar Jenner berperan sebagai deep-lying playmaker yang sekaligus menjadi filter pertama serangan balik lawan. Sementara itu, Marselino Ferdinan diberikan peran bebas (free role) untuk menekan center-back lawan, memaksa mereka melakukan kesalahan umpan.

Herdman menggunakan formasi dasar 3-4-2-1 yang sangat fleksibel. Saat menyerang, dua wing-back akan naik sejajar dengan penyerang, menciptakan situasi 3-2-5 yang sangat mematikan dalam membanjiri kotak penalti lawan.

Kesiapan Fisik: Tantangan Terbesar di ASEAN Cup

Kritik utama terhadap gaya bermain intensitas tinggi adalah risiko kelelahan dan cedera, terutama dalam turnamen dengan jadwal padat seperti ASEAN Cup. Namun, Herdman telah mengantisipasi ini dengan membawa tim sport science dari Inggris untuk memantau beban kerja pemain secara real-time melalui sensor GPS.

Kesimpulan: Identitas Baru Menuju Juara

Indonesia bukan lagi tim yang takut mendominasi penguasaan bola. Dengan "The Herdman Way", Garuda kini memiliki alat tempur yang modern: kecepatan, tekanan tinggi, dan mentalitas predator. Jika fisik pemain mampu terjaga hingga partai final, kutukan 30 tahun itu sangat mungkin berakhir di tangan pelatih bertangan dingin ini.

Pertanyaan untuk Pembaca: Apakah menurut Anda fisik pemain Indonesia sudah cukup kuat untuk menjalankan 'High-Intensity Football' selama 90 menit penuh di cuaca tropis yang lembap?

(P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik