Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
PULUHAN akademisi dari berbagai kota di tanah air mendeklarasikan berdirinya Forum Akademisi Penggemar Sepak Bola Indonesia (FAPSI) di Jakarta, Sabtu (14/1).
Koordinator nasional FAPSI Amsori Bahruddin Syah mengatakan latar belakang didirikannya FAPSI berangkat dari kegelisahan para akademisi melihat kondisi sepak bola Indonesia yang sangat memprihatinkan.
Pasalnya, nilai Akademisi dari Universitas Nasional (UNAS) itu, desakan publik yang menginginkan perubahan besar dalam sepak bola Indonesia sangat banyak, tetapi tidak banyak memberikan dampak signifikan karena suara mereka tidak pernah didengar.
“Hadirnya FAPSI ini seperti arus besar yang akan membawa banyak aspirasi masyarakat pecinta sepak bola Indonesia. Jika selama ini aspirasi netizen atau suporter tidak didengarkan, mungkin melalui para akademisi yang ikut bersuara, akan didengarkan dan dijadikan pertimbangan kebijakan bagi stakeholder terkait dalam mewujudkannya,” kata Amsori dalam sambutannya, Sabtu (14/1).
Amsori mengatakan, para akademisi yang ada dalam FAPSI merupakan tokoh yang memiliki kapasitas, kepakaran, dan ahli di bidangnya dengan kualifikasi keilmuan yang mumpuni. Selain itu, mereka juga bagian dari masyarakat pecinta sepak bola Indonesia.
“Sehingga dalam membedah permasalahan soal sepak bola, hasil kajian dan analisanya memiliki pijakan keilmuan yang kuat,” ungkap Amsrori
“Para akademisi kita ada dari professor dan guru besar bidang keolahragaan, ahli teknik sipil, ahli ekonomi, ahli manajemen, ahli bidang SDM, ahli bidang politik, sosiologi, komunikasi dan lain-lain. Merka memiliki komitmen dengan keahliannya turut serta mengawal dan mendorong lahirnya revolusi sepak bola Indonesia,” imbuhnya
Sementara itu, dalam forum yang sama, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof Ma’mun Murod mengapresiasi kehadiran FAPSI. Menurutnya, kehadiran para akademisi dalam komunitas FAPSI diharapkan dapat membantu meyampaikan kegelisahan dan aspirasi masyarakat Indonesia terkait perbaikan sepak bola nasional.
"Pembentukan forum akademisi ini sangat luar biasa. Saya kira kalau orang kampus yang bicara akan didengar dan dipertimbangkan cukup serius," kata Prof Ma'mun Murod, Sabtu (14/1).
Wacana revolusi sepak bola Indonesia, kata Prof Ma'mun Murod, sangat tepat dan keharusan di tengah kondisi sepak bola Indonesia yang minim prestasi. Selain itu, tragedi Kanjuruhan yang menelan korban 135 nyawa sampai saat ini belum ada yang mau bertanggung jawab.
"Ini kan luar biasa, menggambarkan sesungguhnya bagaimana kondisi pengelolaan sepak bola di Indonesia. Saya kira seruan dan tuntutan untuk melakukan revolusi sepak bola Indonesia sebuah keharusan yang mesti kita lakukan. Revolusi itu adalah ekstrem, perubahan yang fundamental dan berlangsung cepat. Kita tidak ada pilihan," ungkapnya.
Lanjut Prof Ma'mun Murod, di awal tragedi Kanjuruhan, ia sudah geram dengan tingkah federasi sepak bola Indonesia atau PSSI yang seolah tidak mau bertanggung jawab. Kegeraman itu ia tulis di Twitter dan berbagai kesempatan sebagai bentuk aspirasi dari kalangan akademisi.
"Baik di Twitter atau dimanapun saya sampaikan, ketua umum PSSI harus mundur. Tapi tidak ada reaksi apapun, untung ada KLB," terangnya.
"Saya teriak, ketua Arema itu harus mundur itu pun tidak ada respon apapun, padahal dunia kampus yang ngomong," tambahnya.
Prof Ma'mun berharap FAPSI bisa mewarnai wacana dan dinamika sepak bola Indonesia, terutama dalam memberikan masukan untuk perbaikan sepak bola ke depan. Sebab, pascatragedi Kanjuruhan banyak pihak mulai sadar dan menyuarakan pentingnya revolusi sepak bola Indonesia.
"Saya kira harapan (masyarakat) itu ada pada kelompok-kelompok kecil, di forum akademisi. Ini hal yang baru, bila perlu dibuat (koordinator wilayah) di seluruh Indonesia, akademisinya tampil dan saat ada momentum Kongres PSSI kita harus berteriak terkait pengembangan sepak bola Indonesia," ujarnya. (RO/OL-1)
Pelatih Persib Bandung Bojan Hodak menegaskan laga kontra Persita Tangerang di pekan ke-22 Super League 2025/26 akan berjalan sulit meski dimainkan di Stadion GBLA.
PSMS Medan menang 3-1 atas Sumsel United dalam laga Pegadaian Championship di Stadion Utama Sumatra Utara, Sabtu (14/2). Felipe Cadenazzi cetak dua gol.
Persija Jakarta fokus memulihkan mental pemain jelang laga tandang kontra Bali United di pekan ke-21 BRI Super League 2025/2026.
Semen Padang FC menargetkan mencuri poin saat menghadapi Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Minggu (15/2), guna memperbesar peluang keluar dari zona degradasi BRI Super League.
Ezequiel Vidal mencetak dua gol saat PSIM Yogyakarta menahan imbang Persik Kediri 2-2 di Stadion Gelora Joko Samudro. Hasil ini menjaga posisi PSIM di papan tengah klasemen.
Sumsel United membidik kemenangan atas PSMS Medan di Stadion Utama Sumatera Utara demi menjaga peluang promosi ke Super League. Laga krusial penentuan tiga besar.
Nama Marc Klok masuk dalam daftar Garuda Calling perdana di era John Herdman.
Thom Haye dan Shayne Pattynama terpaksa menepi dari panggung internasional lantaran sedang menjalani sanksi larangan bermain dari FIFA.
Di bawah Persija, tim penyumbang pemain terbanyak adalah Dewa United Banten FC. Tim asuhan Jan Olde Riekerink itu menyumbangkan empat pemainnya.
Indonesia akan menjadi salah satu tuan rumah turnamen mini FIFA Series 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 27-30 Maret di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Proses naturalisasi pemain tidak lepas dari mekanisme yang melibatkan DPR. Karena itu, PSSI masih menunggu kepastian mengenai jadwal persidangan sebelum melangkah lebih jauh.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meyakini Jakarta International Stadium (JIS) menjadi simbol masa depan Jakarta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved