Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
KEGAGALAN di ajang Liga Champions memang bukan kiamat bagi sebuah klub.
Namun, hal itu tetap sulit diterima klub sekelas Barcelona, Bayern Meunchen, dan Juventus.
Hanya trofi itulah sejatinya yang bisa menahbiskan kebesaran mereka sebagai para penguasa Eropa.
Bahkan, gelar kompetisi domestik pun tidak cukup.
Contohnya ialah Barcelona.
Setelah mereka meraih treble winners musim lalu, kegagalan mengangkat si 'kuping lebar' musim ini seperti dosa tak termaafkan, meski mereka masih berpeluang mengawinkan gelar La Liga dengan Copa del Rey.
Blaugrana memang masih berpeluang menambah koleksi trofi mereka musim ini jika mampu melibas Sevilla di final Copa del Rey, besok.
Hal sama dialami raksasa Jerman, Bayern Muenchen.
Kebetulan juga, kedua tim itu disingkirkan klub yang sama di Liga Champions, yakni Atletico Madrid.
Bedanya, jika Barca dihentikan Atletico di semifinal, Muenchen dihentikan di perempat final.
Untungnya, Muenchen sedikit terhibur dengan keberhasilan mengunci gelar liga.
Mereka pun berpeluang menambah gelar itu dengan trofi antarklub domestik, yaitu DFB Pokal.
Kedua trofi itu setidaknya bisa menjadi kado perpisahan bagi arsitek Muenchen, Pep Guardiola, yang mulai musim depan hijrah ke Manchester City.
Hanya, sebelum itu, FC Hollywood harus bisa melewati seteru utama, Borussia Dortmund.
Cerita sama dialami si 'Nyonya Tua', Juventus.
Alih-alih mengulang prestasi musim lalu saat menjadi runner-up Liga Champions, Bianconeri kali ini langsung tersingkir di fase knockout setelah dikandaskan Muenchen.
Meski begitu, the Old lady masih bisa membusungkan dada karena mereka masih menguasai panggung Seri A kendati sempat tertatih di awal musim.
Tim besutan Massimiliano Allegri itu bahkan berpeluang mengulang prestasi musim lalu lewat mengawinkan gelar Seri A dengan Coppa Italia.
Hanya, kali ini mereka harus bisa melewati rintangan raksasa pesakitan, AC Milan, di final.
Motivasi lebih
Bagi Barca, kegagalan di Liga Champions memang seperti menodai kisah cemerlang mereka musim ini. S
etelah sempat tampil superior hingga pertengahan musim, Blaugrana justru mengendur menjelang akhir musim.
Bak mobil kehabisan bensin, Barca pun sempat menjadi bulan-bulan lawan.
Untungnya di saat-saat terakhir, Lionel Messi dkk mampu bangkit.
Namun, itu sudah terlambat. Satu trofi pun lewat.
Untungnya trofi La Liga dapat mereka selamatkan.
Kini ada satu trofi lagi yang mereka bidik untuk melupakan kekecewaan.
Keberadaan trio MSN--Lionel Messi, Neymar, dan Luis Suarez--di kubu Barca memang membuat raksasa Catalan lebih diunggulkan.
Apalagi, grafik penampilan mereka kini sudah mulai menanjak lagi.
Meski begitu, kekuatan Sevilla juga tidak bisa dipandang enteng.
Los Nervionenses saat ini dipastikan dalam motivasi tinggi setelah sukses menjuarai Liga Europa.
Faktor itulah yang diwaspadai para punggawa Los Cules.
Bek Jordi Alba bahkan mewanti-wanti rekan-rekannya untuk tidak memandang sebelah mata lawan.
"Tentu saja satu trofi tidak cukup buat kami. Kami seharusnya tidak akan tertekan pada laga sulit untuk memenangi dua dari kompetisi penting musim ini. Faktanya kami berhasil menjuarai enam dari delapan trofi La Liga terakhir," jelas Alba.
Di sisi lain, arsitek Sevilla, Unai Emery, amat mungkin tidak akan mengubah banyak skema pemain saat menghadapi Barcelona
Ia hampir pasti akan menurunkan tim yang sama seperti saat mengalahkan Liverpool 3-1 di final Liga Europa.
Di lini depan ia akan mengandalkan Kevin Gameiro, sedangkan di tengah ia tetap bersandar pada trio kreatif Grzegorz Krychowiak, Steven N'Zonzi, dan Vitolo Perez.
"Hadiah bukanlah sesuatu yang penting. Hal terpenting saat ini kami menang dan kami memiliki musim yang luar biasa. Sekarang kami siap untuk melakoni laga final yang lain," ujar pemain depan Sevilla, Coke.
Kado perpisahan
Sementara itu, Josep 'Pep' Guardiola harus menyampaikan permintaan maaf setelah gagal mempersembahkan gelar Liga Champions dalam tiga tahun masa baktinya bersama Bayern Muenchen.
Karena itu, gelar DFB Pokal musim ini diharapkan menjadi kado manis perpisahan dirinya dengan publik Allianz Arena.
"Jika saya sebagai seorang pelatih, saya akan mempersembahkan trofi di pertandingan terakhir saya. Memenangi Piala ini ialah suatu target yang besar," tegas striker Muenchen, Thomas Mueller.
Namun, the Bavarians harus menghadapi tantangan berat melawan rival Borussia Dortmund dalam perebutan gelar DFB Pokal di Olympiastadion, besok, karena klub itu selalu menjadi batu sandungan mereka.
"Bayern selalu memulai laga sebagai tim favorit, tapi saya pikir kedua tim punya kualitas yang baik dan tidak akan banyak ruang nantinya. Ini akan menjadi sedikit tes tentang ketahanan fisik dan mental," imbuh Mueller.
Salah satu yang wajib diwaspadai the Bavarians ialah pergerakan penyerang andalan Dortmund, Pierre-Emerick Aubameyang.
Pemain 26 tahun yang mengandalkan kecepatan itu terbukti sangat berbahaya di mulut gawang lawan.
Sebanyak 39 gol di berbagai kompetisi menjadi torehan Aubameyang musim ini.
Apalagi, penyerang timnas Gabon itu menjadi aktor sentral tersingkirnya Muenchen.
Namun, sayangnya di partai puncak, Dortmund harus dipaksa menyerah dengan Wolfsburg.
"Saya harap kami dapat memenanginya musim ini. Kami selalu kalah dalam dua musim terakhir dan ini waktunya kami untuk menang. Final adalah final. Semuanya bisa terjadi," tutur Aubameyang. (Berbagai sumber/R-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved