Sabtu 12 Juni 2021, 05:05 WIB

Pesta yang tidak Terbayang Kerepotannya

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Sepak Bola
Pesta yang tidak Terbayang Kerepotannya

MI/Seno
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group

 

PADA 2012 ketika menetapkan tuan rumah Piala Eropa 2020, Presiden Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) Michel Platini hanya memikirkan kemeriahannya. Daripada hanya menunjuk Turki —yang satusatunya mencalonkan diri sebagai tuan rumah—, Platini memilih menyebar pelaksanaan putaran final di 13 kota Eropa.

Apalagi permintaan Platini agar Turki memilih salah satu sebagai tuan rumah Piala Eropa atau Olimpiade tidak diikuti Presiden Abdullah Gul. Turki berambisi menyelenggarakan kedua event olahraga itu pada tahun yang bersamaan, sehingga mencalonkan diri untuk menjadi tuan rumah di kedua event besar itu.

Platini berpandangan mustahil dua event dilakukan secara berdekatan di sebuah negara. Pasti kualitas penyelenggaraan akan terganggu karena semua fasilitas harus disiapkan pada waktu yang bersamaan.

Empat tahun kemudian setelah memutuskan penyelenggaraan Piala Eropa 2020 di seluruh Benua Eropa, Platini mundur sebagai Presiden UEFA karena kasus korupsi.

Mantan kapten kesebelasan Prancis itu dituduh menerima aliran dana dari Presiden FIFA Joseph Blatter dan dihukum empat tahun tidak boleh terlibat dalam kegiatan sepak bola.

Kepemimpinan di UEFA pun kemudian berpindah dari Platini ke Aleksander Cerefin. Pengacara asal Slovenia itu kini harus memikul tanggung jawab menyelenggarakan pesta sepak bola Eropa yang benar-benar sebuah festival raksasa.

Bayangkan penyelenggaraan harus dilakukan di 11 kota, setelah dua kota, Bilbao dan Dublin, mengundurkan diri sebagai tuan rumah. Sebelas kota itu terbentang dari Glasgow, Skotlandia, di sebelah barat kawasan Eropa hingga Baku, Azerbaijan, di sebelah timur Eropa.

Baku yang berada di Laut Kaspia bahkan sudah lebih dekat ke Asia daripada Eropa. Negara itu sudah berbatasan dengan Iran dan Irak di Persia.

Bayangkan 32 tim harus bermain di kota yang berjauhan. Pengawas pertandingan harus bekerja di tempat yang juga begitu berjauhan. Begitu pun penonton harus berpindah tempat ke negara-negara yang sistem imigrasinya berbeda-beda.

Kerumitan ditambah lagi dengan pandemi covid-19 yang melanda dunia. Meski kejuaraan sudah diundur satu tahun, persoalan tidak kunjung menurun, malah justru semakin meningkat.

Setiap pemain mau tidak mau harus menjalani pemeriksaan setiap waktu. Ketika ada satu pemain kedapatan positif, seluruh tim harus menjalani pemeriksaan lebih ketat dan bahkan bukan tidak mungkin mereka harus diisolasi.

Karantina bagi pemain mustahil dilakukan sesuai aturan karena pertandingan harus dimainkan dalam waktu yang berdekatan. Tim juara harus bermain tujuh kali dalam satu bulan atau hampir dua kali dalam seminggu.

"Cukup sekali saja kejuaraan seperti ini diselenggarakan," kata Ceferin menyerah. "Kerumitan yang harus dihadapi lebih parah dari yang diperkirakan."

Presiden UEFA berharap tidak ada kasus covid-19 yang mengganggu jalannya kejuaraan. Tidak terbayangkan kalau muncul kasus baik itu menimpa pemain maupun pendukung sepak bola yang berjalan dari satu negara ke negara lain.

Ceferin sedang berjuang juga agar kerumitan penyelenggaraan festival sepak bola Eropa ini akhirnya bisa dibayar ‘impas’. Bukan hanya tidak sampai ada kasus covid-19 yang muncul, tetapi memberikan kemeriahan terutama pada pertandingan puncak.

"Saya sedang berupaya bisa berkomunikasi dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, bila memungkinkan pertandingan final di Stadion Wembley, 11 Juli nanti bisa dipenuhi penonton. Jadi, tidak ada pembatasan jumlah penonton di Wembley nanti," harap Ceferin.

 

 

The show must go on

Sekarang memang tidak ada lagi kata mundur. Apa pun yang terjadi the show must go on. Dini hari tadi kejuaraan sudah mulai bergulir, Italia menjamu Turki di Stadion Olimpiade Roma.

Juara Dunia 2018 Prancis pantas untuk dijagokan sebagai juara, setelah lima tahun lalu gagal mengangkat piala di kandang sendiri. Bukan hanya konsistensi untuk tampil di dua final turnamen besar yang pantas membuat Les Bleus dijagokan, melainkan juga pemainnya cukup lama bersama di dalam satu tim.

Trio Kylian Mbappe, Karim Benzema, Antoine Griezmann pantas membuat pelatih Didier Deschamps yakin dengan kemampuan tim asuhannya. Apalagi di lapangan tengah mereka mempunyai gelandang bertahan terbaik N’Golo Kante dan pemain-pemain terbaik, seperti Paul Pogba, Corentin Tolisso, Ousmane Dembele, Blaisse Matuidi.

Di belakang, dua bek sayap Bayern Muenchen, Benjamin Pavard dan Lucas Hernandes, menjadi jaminan pertahanan yang kukuh. Sementara itu, di jantung pertahanan duet Raphael Varane dan Presnel Kimpembe merupakan palang pintu andalan bagi kapten kesebelasan Hugo Lloris.

Pertandingan pertama mereka Selasa malam atau Rabu dini hari melawan Jerman menjadi ujian terpenting untuk memastikan apakah Prancis bisa kembali mengawinkan Piala Dunia dan Piala Eropa atau tidak. Jerman sendiri sedang berupaya untuk membangun kembali tim dengan lebih banyak memasukkan pemain muda.

Jerman untuk pertama kalinya harus tampil tanpa striker murni. Pemain kawakan Thomas Mueller terpaksa dipanggil kembali untuk mengisi posisi ujung tombak karena pelatih Joachim Loew belum puas dengan penampilan Timo Werner atau Kai Havertz yang diandalkan sebagai mesin gol.

Namun, ancaman Prancis di Grup F tidak hanya Jerman. Juara bertahan Portugal pantas untuk juga diperhatikan. Lima tahun lalu, Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan yang membuyarkan mimpi indah Les Bleus merebut gelar juara Eropa yang ketiga kalinya.

Portugal bisa kembali menjadi kuda hitam karena mereka memiliki banyak pemain berbakat. Di sana ada Bruno Fernandes, Bernando Silva, Ruben Dias, dan pemain muda asal Atletico Madrid, Joao Felix.

Perjalanan menuju tangga juara akan sangat terjal karena kali ini akan kembali hadir Italia yang absen di Piala Dunia 2018. Bersama Belanda, tim muda Italia akan bisa membuat kejutan besar.

Tentu tidak bisa dilupakan tuan rumah pertandingan final, Inggris. Kapten kesebelasan Three Lions, Harry Kane, merasa yakin kali ini bersama rekan-rekannya akan bisa mengembalikan sepak bola ke daratan Inggris.

"Saya merasa kali ini mempunyai tim yang lebih berpengalaman, pemain-pemain yang teruji di pertandingan besar di klubnya, dan kami sudah tampil bersama sejak Piala Dunia 2018," kata Kane optimistis.

Kini, mari kita nikmati pesta sepak bola Eropa!

Baca Juga

AFP

Kondisi Christian Eriksen Stabil

👤Rahmatul Fajri 🕔Minggu 13 Juni 2021, 00:47 WIB
GELANDANG Denmark Christian Eriksen telah berada di rumah sakit dan berada dalam kondisi yang stabil. Hal tersebut disampaikan melalui akun...
 AFP/WOLFGANG RATTAY

UEFA Tangguhkan Lanjutan Laga Denmark-Finlandia

👤Widhoroso 🕔Minggu 13 Juni 2021, 00:30 WIB
FEDERASI Sepak Bola Eropa (UEFA) menangguhkan laga penyisihan Grup B EURO 2020 antara Denmark dan Finlandia di Stadion Parken, Copenhagen,...
AFP/ Jonathan NACKSTRAND

Christian Eriksen Kolaps Di Lapangan Hijau

👤Widhoroso 🕔Minggu 13 Juni 2021, 00:13 WIB
CHRISTIAN Eriksen, bintang sekaligus andalan timnas Denmark tidak sadarkan diri di lapangan saat laga melawan Finlandia di penyisihan Grup...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Perangkat Terenkripsi Jerat Penjahat di Seluruh Dunia

LEBIH dari 800 penjahat telah ditangkap di seluruh dunia seusai dijebak menggunakan aplikasi pesan terenkripsi yang dijalankan FBI.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya