Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
STRIKER Porto Moussa Marega, Senin (17/2), mengatakan dirinya tidak bisa bertahan di lapangan setelah menjadi sasaran serangan rasisme dari pendukung Vitoria Guimaraes dalam laga Liga Portugal, akhir pekan lalu.
Penyerang Mali berusia 28 tahun itu meninggalkan lapangan setelah para pendukung Vitoria menirukan suara monyet ke arahnya setelah dia mencetak gol untuk mengantarkan Porto menang 2-1, Minggu (16/2).
"Dengan semua ejekan yang saya terima, suara monyet ke arah saya, saya tidak bisa bertahan di lapangan," ujar Marega kepada stasiun radio Prancis RMC.
"Anda tidak bisa terus bermain saat para penonton mengejek warna kulit Anda," imbuhnya.
Baca juga: Casillas Resmi Calonkan Diri Jadi Presiden RFEF
Pada menit ke-71, Marega mengatakan kepada pelatih Porto bahwa dia akan meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes meski rekan setimnya, pelatih Porto Sergio Conceicao, dan para pemain Vitoria berusaha menahannya.
"Saya merasa sangat buruk. Ini sangat memalukan dan mempengaruhi saya," kata Marega.
"Hal itu sudah terjadi saat pemanasan. Namun, saat itu yang melakukannya hanya tiga orang."
"Jika hanya tiga orang, saya rasa semua pesepak bola mengalami hal semacam ini. Namun, jika satu stadion melakukannya, saya rasa tidak mungkin Anda bertahan di lapangan." lanjutnya.
Pada Minggu (16/2) malam, Marega mengirimkan pesan penuh amarah di akun Instagram miliknya.
"Saya hanya ingin mengatakan kepada para idiot yang datang ke stadion untuk melancarkan serangan rasisme..fuck you," kata Marega.
"Saya juga ingin berterima kasih kepada wasit yang tidak membela saya dan memberi saya kartu kuning karena membala warna kulit saya. Saya harap saya tidak pernah bertemu lagi dengan Anda di lapangan hijau," pungkasnya. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved