Roesna Syatria, Kelas Bahasa Arab sang Bunda Kanduang
Rizky Noor Alam
30/4/2015 00:00
(MI/ARYA MANGGALA)
FISIKNYA ia pelihara dengan olahraga, ingatannya terus diasah dengan kursus bahasa Arab, dan kalbu terus diasah dengan berbagai aktivitas organisasi.
Kelas bahasa Arab itu berlangsung di Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Center, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Sebanyak delapan peserta mengikuti kursus yang berlangsung dua pekan sekali, mulai pukul 16.00 WIB hingga 18.00 WIB itu.
Istimewanya, di kelas yang berlangsung Selasa (14/4) itu, turut belajar Roesna Syatria, 82.
Seperti juga peserta lainnya, ia juga menyimak pembelajaran sang guru, menulis dan mengikuti lafal kata yang dicontohkan.
"Kendalanya adalah masalah ingatan yang sudah mudah lupa. Jika orang biasanya, misalnya, hanya butuh waktu satu jam untuk belajar, Umi butuh tiga jam. Umi juga harus buka lagi pelajaran yang didapat dan diulang-ulang lagi dipelajari," kata perempuan yang memanggil dirinya Umi Cia.
Panggilan serupa juga lazim diucapkan para aktivis organisasi pemuda itu, baik yang telah jadi pucuk pimpinan, pengurus, hingga anak-anak muda yang masih merintis jalannya di KAHMI.
"Alhamdulillah, guru dan teman-teman Umi juga memahami hal itu. Makanya kalau diberi PR, Umi diberi waktu lebih lama untuk menyelesaikannya," jelas Umi Cia ketika dijumpai Media Indonesia di rumahnya, di kawasan Petukangan, Jakarta Selatan, (23/4).
Umi memang baru bisa dijumpai sepuluh hari setelah wawancara singkat di KAHMI Center karena demam.
Namun, begitu pulih, ia segera menghubungi dan antusias berkisah tentang delapan dasawarsa hidupnya.
"Umi sangat happy masih diberikan kesempatan Allah SWT untuk belajar bahasa Arab di usia yang sudah tidak muda lagi," ungkap ibu empat anak tersebut sambil duduk di kursi goyang.
Prioritaskan kursus Jika waktu kursus sudah tiba, lanjut Umi, tidak ada yang boleh mengganggu jadwal tersebut.
Bahkan, jika ada undangan atau acara lain yang waktunya berbarengan, ia akan tinggalkan dan memilih pergi kursus.
"Semua acara, Umi tinggalkan karena sayang jika harus meninggalkan kelas meski hanya satu kali pertemuan," tambah Umi bersemangat.
Bukan cuma memperkaya keterampilan, Umi Cia memang menargetkan lancar menulis dan berkata-kata dalam bahasa Arab agar lebih memahami Alquran.
"Umi semasa muda sudah cukup mengejar kesenangan duniawi, sehingga sekarang ingin lebih dekat dengan Sang Pencipta. Namun, sesungguhnya Umi menyarankan anak-anak muda untuk mempelajari Alquran dengan baik, sehingga bisa mengaplikasikannya lebih baik pula," kata Umi Cia.
Bahasa Arab yang dipelajari Umi Cia, memang mengacu metode mustaqilin, yang memang menekankan penggunaannya untuk memahami Alquran.
Umi sudah mengikuti kursus bahasa Arab tersebut sejak gelombang pertama pelatihan itu dibuka Juni 2014 lalu.
Sejak saat itu, ia pun tertantang untuk mengatasi kesulitan mengingat.
Pembicaraan pun berlanjut hingga waktu makan siang.
Umi Cia berkisah, hingga kini belum punya pantangan apa-apa, termasuk mengonsumsi daging yang lazim dihindari para senior lainnya.
"Kiat Umi untuk menjaga kesehatan adalah berolahraga jalan pagi setiap hari. Biasanya juga berenang dua kali seminggu. Selain itu, banyak berbagi dan menolong sesama, ditambah rajin kontrol ke dokter," jelas Umi Cia sambil menikmati makan siang dengan menu telur balado khas Minang, kampung halamannya. Aktivis sejak muda Tentang KAHMI, Umi Cia ternyata bukan cuma peserta kelas bahasa Arab semata.
Di sana, ia menjadi dewan penasihat, berkat jejak panjangnya di organisasi pemuda muslim itu.
"Umi mulai berorganisasi sejak awal kuliah, tahun 1956, di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Di sana, Umi berkenalan dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ketika harus putus kuliah karena menikah dan ikut suami ke Palembang, ya terus berorganisasi dengan menjadi Ketua Umum Persatuan Istri Insinyur Indonesia (PI3) se-Sumatra Selatan, selama delapan tahun," kata Umi Cia.
Tak cuma aktif di organisasi yang telah eksis, Umi pun merintis pendirian Persatuan Wanita Minang, serta Persatuan Wanita Perusahaan Niaga Negara.
Begitu pula ketika ia mendampingi Malik Zain, sang suami bertugas di Tokyo, Jepang.
Ia menjadi Wakil Ketua Organisasi Wanita Indonesia Tokyo (OWIT), merintis Organisasi Pengajian Indonesia Tokyo, hingga ikut mengajar mengaji anak-anak di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT).
Ketika Malik meninggal, Umi kembali aktif di HMI, bahkan membuka pintu rumahnya sebagai tempat menginap para mahasiswa anggota organisasi itu yang sedang berkunjung ke Jakarta.
Konsistensinya di jalur organisasi, membuat Umi Cia dianugerahi HMI Awards 2015, sekaligus gelar sebagai Bundo Kanduang, yang dalam istilah Minangkabau ialah ibu.
Umi ditahbiskan sebagai ibu tempat mengadu anak-anak anggota HMI dari Sabang sampai Merauke.
Bukan cuma di HMI, Umi Cia pun dekat dengan para alumnus HMI yang kemudian berorganisasi di KAHMI.
Berinteraksi dengan sosok dan semangat anak-anak muda, juga membuatnya tak berjarak dengan 12 orang cucunya, karena terus beradaptasi dengan kehidupan anak muda. Nenek gaul "Cucu-cucu saya sering menjuluki sebagai Nenek Gaul, hubungan saya dengan mereka dekat tidak ada kesenjangan komunikasi. Mereka sering curhat sama saya, bahkan teman-teman mereka pun dekat dengan saya," jelas Umi Cia.
Kisah-kisah tentang kiatnya menyiasati tantangan hidup, termasuk ketika ditinggal wafat sang suami.
Tak menyempatkan menabung selama delapan tahun di Tokyo, Umi dan anak-anaknya terpaksa tinggal bersama orangtua, setiba di Jakarta.
Umi menghidupi anak-anaknya dari uang hasil menjual barang-barangnya yang dia beli selama tinggal di Tokyo.
Berkat keteguhan dan dukungan keluarganya, Umi berhasil membesarkan anak-anaknya, mengawal mereka menempuh pendidikan, dan mencapai agenda hidupnya masing-masing.
Tak hanya di lingkaran terkecil, Umi pun berkontribusi dengan caranya sendiri bagi organisasi.
Dengan membuka pintu rumahnya, menjadi teman curhat, berbagi daya untuk para aktivis, calon pemimpin negeri. (M-1)
Biodata Nama: Roesna Syatria (Umi Cia) Tempat, tanggal lahir: Pariaman, 24 Januari 1934 Suami: (Alm) Malik Zain Anak: Andina Rufiani, Muh Ismiransyah Zain, Alinda Fitriany, dan Muh Zakarullah Zain
SETELAH lima hari diumumkan tak lagi menjabat pelatih timnas Indonesia, Shin Tae-yong (STY) akhirnya buka suara. Ini untuk kali pertama STY mengucapkan perpisahan.
KETUA Umum PSSI Erick Thohir menyebut bahwa pergantian pelatih Timnas Indonesia dari Shin Tae-yong ke Patrick Kluivert dilakukan agar Timnas Indonesia dapat lebih baik