Senin 25 April 2022, 04:55 WIB

Puasa dari Jualan Emosi Umat

Nadirsyah Hosen Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-Selandia Baru | Renungan Ramadan
Puasa dari Jualan Emosi Umat

MI/Duta
Nadirsyah Hosen Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-Selandia Baru

 

JUALAN yang paling laris saat ini ialah jualan emosi umat. Perasaan kalah membuat orang mudah marah.

Betapa tidak? Yang dulunya umat Islam menguasai peradaban dunia, kini dianggap kalah segalanya dari peradaban Barat. Dalam bidang politik, baik skala lokal maupun internasional, begitu juga sosial dan ekonomi. Bahkan, dalam bidang budaya pun bisa kalah dengan budaya K-pop. Karena itu, muncul berbagai propaganda bahwa Islam saat ini dihina dan diserang.

Untuk kepentingan jangka pendek, itu cara yang efektif dalam membakar sekaligus meninabobokan umat. Semua hal yang dianggap simbol Islam tidak boleh dikritik, dijadikan candaan, ataupun dikriminalkan. Ancamannya, emosi umat akan tumpah ruah.

Lama-lama kita tidak lagi terbiasa bertabayun, berdialog, atau berpikir kritis. Pemerintah juga harus mengalkulasi setiap kebijakannya, bahkan salah pernyataan sedikit, risiko politiknya menjadi sangat besar.

Namun, benarkah umat Islam kini dihina dan dikalahkan? Sebagaimana ada produk kw (palsu), jualan emosi umat juga memanfaatkan berbagai isu hoaks dan fitnah. Emosi tinggi, tapi literasi rendah.

Faktanya, semua rukun Islam bisa ditunaikan dan bahkan turut difasilitasi pemerintah. Meski Presiden Joko Widodo bukan dari partai Islam, jelas beliau seorang muslim yang berkali-kali ke Tanah Suci.

Wakil Presiden pun seorang kiai. Umat Islam sebenarnya telah banyak mendapatkan hak-hak khusus, yang kelompok minoritas hanya bisa bermimpi mendapatkannya. Namun, kenapa emosi umat masih terus gampang tersulut? Membingungkan, bukan?

Ibadah puasa, salah satunya, justru sebagai cara kita berlatih menahan emosi. Ketika ada yang marah mengajak bertengkar, Nabi menyarankan kita untuk tidak meladeninya, cukup dengan berkata: "Saya sedang berpuasa." Dalam riwayat Bukhari, seorang sahabat meminta nasihat. Nabi menjawab, "Jangan marah." Lelaki itu mengulangi permintaannya, tetapi jawaban Nabi pun tetap sama. Dalam riwayat Thabrani, Nabi juga berpesan, "Jangan marah, maka bagimu surga."

Siapa yang dalam kondisi marah, maka hilang akalnya dan buram hatinya. Macam-macam ekspresi orang marah itu. Salah satunya ialah dengan unjuk gigi identitas kelompoknya lewat tampilan kesalehan di ruang publik seperti trotoar jalan. Tentu saja itu mengganggu pengguna jalan dan melanggar ketertiban umum. Namun, kalau dihentikan nanti muncul gorengan bahwa pemerintah melarang umat ramai-ramai membaca Al-Qur’an. Repot, bukan?

Puasa sejatinya melatih kita untuk tetap tenang meski perut lapar. Bukankah urusan perut ini paling gampang menyulut emosi? Kalau dalam kondisi lapar saja kita bisa menahan emosi dan syahwat, tentu diharapkan efeknya saat kondisi normal pun orang yang terlatih berpuasa bisa lebih mengontrol diri. Cerdas, bukan?

Puasa bukan buat orang-orang kalah. Ini ibadah cerdas buat mereka yang mampu mengontrol emosinya dan tidak mudah tersulut isu tak jelas. Itu sebabnya selepas Ramadan kita akan memasuki Lebaran yang juga disebut sebagai hari kemenangan melawan nafsu, emosi, dan syahwat.

Mari kita bikin rugi para penjual emosi umat dengan menyatakan, "Maaf, kami sedang berpuasa! Simpel, bukan?

 

Baca Juga

MI/Seno

Merawat Kemabruran Puasa

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal 🕔Sabtu 30 April 2022, 04:10 WIB
Akhlak Tuhan dapat dikenal melalui sifat-sifat-Nya sebagaimana tergambar dalam nama-nama indah-Nya (al-asma`...
MI/Seno

Ramadan dan Mudik Lebaran

👤Moh Najib Wakil Ketua Umum MPP ICMI 🕔Jumat 29 April 2022, 04:55 WIB
DI antara keistimewaan Ramadan ialah Ramadan menjadi bulan penghapus...
MI/Duta

Puasa dari Elektabilitas Survei

👤Nadirsyah Hosen Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-Selandia Baru 🕔Kamis 28 April 2022, 04:15 WIB
SAAT ini hasil survei menjadi ukuran...

RENUNGAN RAMADAN

CAHAYA HATI


JADWAL IMSAKIYAH
Minggu, 29 Mei 2022 / Ramadan 1443 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK RAMADAN