Sabtu 02 April 2022, 05:35 WIB

Puasa Pertama seusai Covid-19 Reda

Nadirsyah Hosen Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama di Australia-New Zealand | Renungan Ramadan
Puasa Pertama seusai Covid-19 Reda

MI/Duta
Ilustrasi MI

 

BULAN Ramadan tahun 2022 ini menjadi spesial. Inilah bulan puasa yang pelaksanaan umrah sudah dibuka kembali. Covid-19 juga sudah melandai. Syiar Islam akan kembali semarak di bulan suci ini.

Pada dua tahun sebelumnya, pelaksanaan buka puasa bersama, tarawih, iktikaf dan salat Id serta mudik dibatasi oleh pemerintah karena covid-19 masih menjadi pandemik.

Kita akan melihat kondisi yang berbeda tahun ini, insya Allah. Kondisi dan situasi terkini ini berlaku di seluruh dunia muslim.

Lantas bagaimana kita mensyukuri pelaksanaan ibadah puasa pertama setelah covid-19 mereda?

Dua belas jam atau lebih, tergantung berada di belahan dunia yang mana, kita menahan lapar dan haus di dalam Bulan Suci Ramadan.

Saat menjelang sore, angan-angan kita akan makanan dan minuman semakin menjadijadi. Pancaindera kita menjadi sensitif.

Bau asap knalpot tercium seperti bau orang membakar satai, serangga lewat bisa silap terlihat seperti buah kurma, dan suara azan di waktu Asar dianggap mirip azan Magrib.

Begitulah kondisi kita pada umumnya. Akan tetapi, ketika tiba waktunya berbuka puasa, hanya dengan segelas air dan kolak pisang hilang sudah segala lapar dan dahaga.

Semua angan-angan sebelumnya buyar begitu saja. Bahkan mereka yang dengan lahap langsung mengonsumsi makanan ternyata juga merasa kenyang hanya dengan duatiga suap saja.

Niat menggebu menghabiskan tiga piring ternyata tidak terpenuhi. Cuma seperti itu saja kemampuan kita memuaskan diri.

Inilah kenikmatan sesaat yang Allah SWT ajarkan kepada kita lewat ibadah puasa.

Apa yang tidak kita miliki akan terkesan begitu indah dalam angan-angan. Seandainya kita punya harta, jabatan, atau apa pun yang kita inginkan. Faktanya, begitu kita memiliki apa yang kita sangat inginkan, ternyata biasa saja.

Itu sebabnya banyak yang lupa diri dan malah mengingin kan hal-hal berikutnya untuk memuaskan keinginan.

Angan-angan menjadi ukuran kepuasan diri.

Ibadah puasa memberi ki ta pemahaman bahwa kenikmat an yang kita kejar itu ha nya sesaat rasanya. Puasa akan mengajarkan kita bahwa kepuasan itu bukan pada tercapainya keinginan, tapi pada mensyukuri apa yang Allah SWT berikan.

 

Mensyukuri kesehatan

Pengalaman berpuasa di ma sa pandemi dua tahun se belumnya telah mengetuk sisi kemanusiaan kita yang terdalam.

Puasa yang sejatinya memiliki hikmah berorientasi pada solidaritas sosial telah menjadi amat terbatas. Relasi sosial kita dipagari oleh covid-19.

Dimensi spiritual menjadi kering ketika dalam dua tahun terakhir ini ibadah puasa menjadi ibadah pada level individu semata. Ada sesuatu yang hilang rasanya.

Puasa pertama di era covid mereda, meski tetap dengan kewaspadaan karena virus ini belum benar-benar lenyap, akan menjadi ajang bagi kita untuk mensyukuri kembali nikmat kesehatan yang telah Allah SWT berikan. Semoga ibadah puasa kem ba li terasa nikmat lewat rasa syu kur kita kepada Allah SWT.

Seraya mengenang mereka yang telah wafat di masa pan demi, Ramadan ini kita ha rapkan menjadi momen kem balinya spirit solidaritas sosial. Bismillah.

VIDEO TERKAIT:

Baca Juga

MI/Seno

Merawat Kemabruran Puasa

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal 🕔Sabtu 30 April 2022, 04:10 WIB
Akhlak Tuhan dapat dikenal melalui sifat-sifat-Nya sebagaimana tergambar dalam nama-nama indah-Nya (al-asma`...
MI/Seno

Ramadan dan Mudik Lebaran

👤Moh Najib Wakil Ketua Umum MPP ICMI 🕔Jumat 29 April 2022, 04:55 WIB
DI antara keistimewaan Ramadan ialah Ramadan menjadi bulan penghapus...
MI/Duta

Puasa dari Elektabilitas Survei

👤Nadirsyah Hosen Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-Selandia Baru 🕔Kamis 28 April 2022, 04:15 WIB
SAAT ini hasil survei menjadi ukuran...

RENUNGAN RAMADAN

CAHAYA HATI


JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 28 Mei 2022 / Ramadan 1443 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK RAMADAN