Selasa 13 April 2021, 05:30 WIB

Dzikr, Wird, Tafakkur, dan Tadzakkur

Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal | Renungan Ramadan
Dzikr, Wird, Tafakkur, dan Tadzakkur

Dok.MI
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal

RAMADAN kali ini penuh tantangan. Pandemi covid-19 belum reda, tetapi bencana alam muncul susul-menyusul. Erupsi gunung berapi, angin puting beliung, tanah longsor, banjir, kecelakaan lalu lintas, dan meningkatnya gerakan radikalisme.

Tentu saja semua itu berakumulasi menimbulkan berbagai krisis di tengah masyarakat. Kehadiran bulan Ramadan di tengah berbagai cobaan dan musibah tersebut mudah-mudahan menjadi sebuah isyarat positif bagi kita semua.

Ramadan secara harfiah berarti membakar. Kita berharap Ramadan kali ini bukan hanya membakar hangus dosa masa lampau kita, tetapi juga membersihkan bencana di sekitar kita, khususnya ikut mengangkat pandemi covid-19 dari bumi Indonesia. Mudah-mudahan Ramadan kali ini bisa kita padatkan dengan dzikr, wird, tafakkur, dan tadzakkur.

Dzikr berarti mengingat atau menyebut. Dzikrullah biasa diartikan menyebut-nyebut (nama) Allah SWT seraya mengingat-Nya. Wird dari akar kata warada berarti ‘datang mengambil air’. Seakar kata dengan ward yang berarti ‘bunga mawar’.

Makna wird dalam hal ini sama dengan dzikr. Bedanya, yang pertama biasanya tidak ditentukan jumlah, waktu, dan tempat pelaksanaannya, sedangkan yang kedua (wird) biasanya ditentukan jenis, jumlah, waktu, dan ketentuan pengamalannya. Yang pertama biasanya bersifat insidental dan kedua bersifat permanen.

Dasarnya dalam Alquran antara lain: (Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang/QS al-Ahdzab/33:42), juga ayat: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram/QS al-Ra’d/13:28).

Wirid banyak mendapatkan perhatian khusus para ulama karena secara umum dapat dilaksanakan oleh umat Islam. Sehubungan dengan ini, Ibnu ‘Athaillah mengatakan: “Jangan kita menganggap rendah hamba yang memiliki wirid dan ibadah tertentu karena keduanya memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah.”

IA menambahkan, "Jika engkau melihat seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya dan dilanggengkan-Nya dalam keadaan demikian, tetapi lama ia tidak mendapatkan pertolongan-Nya, maka jangan sampai engkau meremehkan apa yang Allah telah berikan itu kepadanya, hanya karena engkau belum melihat tanda-tanda orang ‘arif ataupun cahaya indah seorang pencinta Allah pada diri hamba itu. Kalaulah bukan karunia berupa warid, tentu tidak akan ada wirid."

Orang-orang yang sudah memperoleh warid dengan sendirinya memilki kepribadian zuhud. Dalam arti tidak lagi didikte kepentingan dunia. Dia sudah diberi kemampuan untuk memiliki dirinya sendiri tanpa tergantung pada kekuatan makhluk. Baginya, cukup dengan kasih-sayang Allah SWT.

Warid sudah menjadi semacam cahaya Tuhan (Nur Allah) yang memantul dalam batin dan pikiran sehingga menjadi perisai dari berbagai kemungkaran. Kalaupun mereka tergelincir secepatnya akan mengendalikan diri, kembali ke jalan yang benar atau yang lebih benar.

Warid tidak perlu dicari, tetapi akan datang dengan sendiri ketika amalan dan komitmen wirid dan zikir hamba-Nya betul-betul dijalankan konsisten. Berbahagialah orang yang memelihara zikir dan wiridnya.

Tafakur dari akar kata fakara berarti berpikir, merenung. Sebagaimana halnya zikir dan wirid, tafakur juga salah satu media pendekatan kepada Allah SWT. Bedanya, yang pertama dan yang kedua, seolah-olah yang aktif ialah manusia, sedangkan yang ketiga (tafakur) seolah-olah manusia pasif, bahkan vakum, tidak ada lagi kata-kata, yang ada hanya kebisuan dan keheningan. Tafakkur biasanya merupakan kelanjutan dari zikir dan atau wirid.

Rasulullah bersabda (dikutip dalam kitab Hadaiq al-Haqaiq karya al-Razi) bahwa, “Tafakur sejam lebih baik daripada setahun ibadah.” Dasar tafakur dalam Alquran antara lain: (Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan/QS al-Ra’d/13:3) dan  ayat: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka/QS Ali ‘Imran/3:191).

Baca Juga

MI/Ardi Teristi Hardi

Haedar Nashir Ajak Umat Islam Sambut Idul Fitri Dengan Kesahajaan

👤Ardi Teristi Hardi 🕔Kamis 06 Mei 2021, 10:17 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan menyongsong Idul Fitri boleh dijalani dengan kegembiraan namun tetap...
Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal). (MI/Seno)

Memaknai Kebebasan (Al-Hurriyah)

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal 🕔Rabu 05 Mei 2021, 05:35 WIB
DALAM dunia spiritu­al tasawuf, arti kebebasan (al-hurriyah) amat berbeda dengan arti kebebasan yang sedang berkembang luas di dalam...
MI/Seno

Ibumu 3x + Ayahmu

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Isitqlal 🕔Selasa 04 Mei 2021, 04:30 WIB
SALAH seorang sahabat mendatangi Nabi dan bertanya: Kepada siapa aku harus...

RENUNGAN RAMADAN

TAFSIR AL-MISHBAH

2021-05-06

JADWAL IMSAKIYAH
Kamis, 06 Mei 2021 / Ramadan 1442 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:31 WIB
Subuh : 04:41 WIB
Terbit : 05:53 WIB
Dzuhur : 11:49 WIB
Ashar : 15:11 WIB
Maghrib : 17:59 WIB
Isya : 18:53 WIB

TAUSIYAH