Senin 11 Juni 2018, 08:04 WIB

Keajaiban Berjemaah

Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta | Renungan Ramadan
Keajaiban Berjemaah

ANTARA/Saptono

 

RASULULLAH SAW sangat menganjurkan umatnya untuk menjalin persatuan dan kesatuan dalam wujud berjemaah. Ia menegaskan berkah itu terletak di dalam suasana berjemaah (al-barakat fi al-jama’ah). Dalam suatu kaul juga dikatakan sinergi mendatangkan energi (al-ittihad yujad al-quwwah).

Ini juga yang sering dipo­pulerkan ahli manajemen dengan istilah the power of we. Dalam bahasa Alquran, kata ‘we’ sepadan dengan ‘nahnu’, berarti kami atau kita. Kata itu menunjukkan kata jamak.

Alquran dan hadis sangat menekankan kerja kolektif (jemaah). Banyak sekali ayat menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan dan melarang kita untuk bercerai-berai, antara lain yang berbunyi, ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.” (QS Ali ’Imran/3:103).

Dalam ayat selanjutnya ditegaskan lagi, “Dan ja­nganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS Ali ’Imran/3:105).

Ilustrasi kekuatan berjemaah dijelaskan dalam hadis bahwa perbandingan antara salat sendiri-sendiri dan salat berjemaah 1:27. Artinya, 27 kali lebih utama salat itu dilaksanakan berjemaah.

Salat berjemaah sesungguhnya juga ialah lesson learning bagi orang yang ingin mencapai kesuksesan. Dalam salat berjemaah ada imam yang berwibawa memimpin salat. Di belakangnya ada makmum atau rakyat yang santun, tetapi tetap kritis.

Antara imam dan makmum diatur aturan dalam bentuk sistem yang disebut konsep keimaman (imamah). Keseluruhannya berorientasi kepada tujuan yang sama, yaitu hanya untuk Allah SWT.

Kita sering menemukan keajaiban pada setiap suasana berjemaah. Suatu ketika Rasulullah SAW ikut menggali parit (khandaq) sebagai benteng di Madinah. Rasulullah SAW lalu diundang seorang diri oleh seorang ibu untuk makan siang di rumahnya.

Alangkah kagetnya sang ibu ketika Rasulullah SAW juga mengundang sahabat-sahabatnya yang lain untuk ikut makan. Rasulullah SAW menyampaikan kepada sang ibu untuk tidak perlu khawatir tidak cukup makanannya.

Nabi mengambil alih belanga tersebut lalu dibagi-bagikan makanan itu kepada semua sahabatnya. Semua sahabat sudah kenyang, tetapi ternyata masih tersisa sebagian makan di dalam belanga. Itu ialah sebuah keajaiban di dalam berjemaah. Artinya, yang sedikit nantinya akan dicukupkan Allah SWT.

Arti lain dari berjemaah ialah ber­sinergi. Dalam ilmu kimia, sinergi antara satu zat dan zat lain akan melahirkan zat lain. Si­nergi berbagai elemen nantinya akan melahirkan power dan force yang luar biasa.

Indonesia yang bersuku-suku bangsa dan dipisah-pisahkan laut ternyata bisa mengusir penjajah karena kekuatan sinergi, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, kemudian dibingkai dalam satu prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Allah yang Mahakuasa pun ’bersinergi’, seperti ditemukan dalam beberapa ayat. Jika Tuhan menggunakan kata ganti jamak (Nahnu/We) untuk diri-Nya dalam suatu peristiwa, itu artinya Tuhan melibatkan unsur lain di dalam terwujudnya peristiwa tersebut.

Misalnya, dalam ayat yang berbunyi, ‘Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang akan memeliharanya)’.

Ini berarti ada keterlibatan pihak lain di dalam terwujudnya Alquran, seperti Jibril, Nabi Muhammad SAW, dan kita sebagai umatnya agar keberadaan Alquran itu utuh dan terpelihara.

Jika umat Islam di seluruh dunia yang kini mencapai 1,5 miliar itu kompak dan bersatu untuk membangun kemanusiaan dan peradaban, sesungguhnya umat Islam akan juga bisa melahirkan peradaban baru yang lebih menusiawi dan lebih mencerahkan.

Baca Juga

MI/Seno

Merawat Kemabruran Puasa

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal 🕔Sabtu 30 April 2022, 04:10 WIB
Akhlak Tuhan dapat dikenal melalui sifat-sifat-Nya sebagaimana tergambar dalam nama-nama indah-Nya (al-asma`...
MI/Seno

Ramadan dan Mudik Lebaran

👤Moh Najib Wakil Ketua Umum MPP ICMI 🕔Jumat 29 April 2022, 04:55 WIB
DI antara keistimewaan Ramadan ialah Ramadan menjadi bulan penghapus...
MI/Duta

Puasa dari Elektabilitas Survei

👤Nadirsyah Hosen Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-Selandia Baru 🕔Kamis 28 April 2022, 04:15 WIB
SAAT ini hasil survei menjadi ukuran...

RENUNGAN RAMADAN

CAHAYA HATI


JADWAL IMSAKIYAH
Senin, 23 Mei 2022 / Ramadan 1443 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK RAMADAN