Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMASUKI sepuluh malam terakhir Ramadan 2026, atmosfer masjid-masjid mulai dipenuhi oleh jemaah yang ingin melaksanakan Itikaf. Ibadah berdiam diri di masjid ini menjadi sarana paling efektif untuk melakukan muhasabah diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun, muncul dilema bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu: "Mana yang lebih baik, Itikaf satu malam dengan maksimal atau Itikaf 10 malam namun tidak fokus?"
Secara syariat, hukum asal Itikaf adalah sunah muakkadah (sunah yang sangat dianjurkan). Namun, durasi pelaksanaannya memiliki tingkatan keutamaan yang berbeda.
Itikaf selama 10 malam terakhir Ramadan adalah durasi yang paling afdhal. Mengapa? Karena inilah yang dipraktikkan oleh Rasulullah SAW secara konsisten.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Aisyah RA menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sampai beliau wafat.
Keunggulan: Jaminan mendapatkan Lailatul Qadar jauh lebih besar karena jemaah "menjemput" malam mulia tersebut di setiap malamnya tanpa terlewat.
Bagi Anda yang tidak bisa meninggalkan pekerjaan atau tanggung jawab keluarga selama 10 hari penuh, Itikaf satu malam (terutama di malam-malam ganjil) tetap diperbolehkan dan sah.
Mazhab Syafi'i menjelaskan bahwa tidak ada batas minimal waktu Itikaf yang kaku; selama seseorang berdiam di masjid dengan niat ibadah walau sejenak, ia sudah mendapatkan pahala Itikaf.
Keunggulan: Memungkinkan jemaah untuk tetap menjalankan sunah di tengah kesibukan duniawi yang mendesak.
Penting: Itikaf 10 malam lebih afdhal secara kualitas dan kuantitas, namun Itikaf satu malam jauh lebih baik daripada tidak melaksanakan Itikaf sama sekali.
Niat adalah rukun utama dalam Itikaf. Berikut adalah perbedaan lafaz niat berdasarkan durasi yang Anda pilih:
نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ لِلّهِ تَعَالَى
Nawaitu an a’takifa fii haadzal masjidi lillahi ta’ala.
Artinya: "Aku berniat Itikaf di masjid ini karena Allah Ta’ala."
نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ عَشْرَةَ أَيَّامٍ لِلّهِ تَعَالَى
Nawaitu an a’takifa fii haadzal masjidi ‘asyrata ayyamin lillahi ta’ala.
Artinya: "Aku berniat Itikaf di masjid ini selama sepuluh hari karena Allah Ta’ala."
| Aspek | Itikaf 1 Malam | Itikaf 10 Malam |
|---|---|---|
| Hukum | Sunah | Sunah Muakkadah |
| Peluang Lailatul Qadar | Spekulatif (Hanya di malam tsb) | Sangat Tinggi (Pasti dapat) |
| Kesesuaian Sunah | Sesuai Dasar Ibadah | Sempurna (Mengikuti Nabi) |
Jika Anda bertanya mana yang lebih afdhal, jawabannya jelas adalah Itikaf 10 malam terakhir. Namun, Allah Maha Mengetahui kondisi hamba-Nya. Jika keterbatasan waktu hanya mengizinkan Anda Itikaf satu malam, lakukanlah dengan kualitas ibadah terbaik.
Kekhusyukan di satu malam yang tulus bisa jadi lebih bernilai di mata Allah daripada sepuluh malam yang penuh dengan kelalaian.
Bolehkah Itikaf di rumah? Mayoritas ulama (Jumhur) menyatakan Itikaf hanya sah dilakukan di masjid. Namun, bagi wanita, sebagian ulama memperbolehkan Itikaf di mihrab atau tempat salat khusus di dalam rumahnya.
Apakah tidur membatalkan Itikaf? Tidak. Tidur adalah kebutuhan manusiawi dan tidak membatalkan Itikaf, namun disarankan untuk tidak menghabiskan waktu Itikaf hanya dengan tidur. (Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved