DI Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan dua pemangku kekuasaan 'Bumi Serambi Mekah',
Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf, tentang pentingnya kekompakan.
Kalla yang memberikan pidato pada acara puncak peringatan 10 Tahun Perdamaian Aceh menyatakan tanpa kekompakan, dana otonomi khusus yang dalam satu dasawarsa telah disalurkan sebesar Rp70 triliun akan sulit dikelola untuk menyejahterakan Tanah Rencong.
"Sekarang bola di tangan Gubernur dan Wakil Gubernur, juga Wali Nanggroe, untuk menjalankan pemerintahan sebaik-baiknya. Pemerintah harus baik, harus kompak kerja bersama-sama, saling mengisi," kata JK diiringi tepuk tangan hadirin, kemarin.
JK sebelumnya menyebutkan pemerintah pusat telah menjalankan komitmennya dalam mengoreksi kesalahan kebijakan di masa lalu.
Bentuknya ialah pembagian kue kesejahteraan yang lebih besar untuk Aceh.
Mulai dana otonomi khusus, dana bagi hasil, dan dana alokasi khusus.
"Pak Gubernur dan Pak Wagub, rakyat mengharapkan senyum Anda berdua di depan umum. Saya di Jakarta selalu berharap Anda bergandengan tangan dengan kuat untuk rakyat Aceh," lanjutnya disambut tawa riuh para undangan seperti tokoh masyarakat, agama, dan pegawai pemprov.
Seusai sambutan, acara selanjutnya ialah memukul Rapa'i Pasee (rebana besar khas Aceh).
Sesuai dengan urutan posisi, JK ditemani Zaini, Wali Nanggroe, dan Muzakir.
Lantaran posisi memukul tak cukup, Muzakir diminta pindah ke tengah dan bersebelahan dengan Zaini.
Sorak-sorai warga bergema melihat peristiwa tersebut. Zaini terlihat fokus pada rebana, sedangkan sang Wagub tertawa melambai kepada para undangan.
Berdasarkan penelusuran, Muzakir berniat maju pada Pilgub 2017 dengan mengorganisasi seluruh sumber daya Partai Aceh (PA).
Namun, Zaini yang berasal dari fraksi berbeda di PA memiliki pandangan lain.
Kerja perdamaian JK di Aceh terbukti tak berhenti di Helsinki, Finlandia.
Ia terus mengupayakan Zaini-Muzakir, kombinasi pas kaum tua dengan kebijaksanaannya dan kaum muda yang energik dan dinamis, untuk bersinergi memimpin Aceh.