Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG ibu dengan tergopoh-gopoh berjalan keluar dari rumah sederhananya. Usianya 76 tahun, rambutnya memutih, matanya pun tak bisa lagi melihat jelas. Dari balik kacamata yang dikenakannya tampak sorot mata kecewa dan marah dalam dirinya.
Namanya Laymanda, istri mantan pejuang pembebasan Timor-Timur (kini Timor Leste) pada 1975, Koptu AP Abu Laymanda. Ia tinggal bersama anak terakhirnya, menantu, dan empat cucu di rumah peninggalan sang suami di Kompleks Zeni Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Di Hari Pahlawan 10 November 2015 ini, Laymanda kembali dilanda kegalauan. Maklum saja, rumahnya akan dikosongkan oleh Kodam Jaya dan dia harus pindah entah ke mana.
"Saya tidak bisa lagi mengungkapkan apa yang saya rasakan, sedih, kecewa, marah, di hari tua saya sebagai istri pejuang diperlakukan seperti ini oleh negara. Tidak ada sama sekali penghargaan terhadap perjuangan suami saya," tuturnya, kemarin.
Di wajahnya tak ada lagi keceriaan, hanya kegetiran hidup yang harus dirasakan di hari tuanya. Dulu, sewaktu suaminya masih hidup, ia ikut berjuang untuk keluarga dengan berjualan apa pun. Gaji suaminya yang hanya Rp46 ribu per bulan jauh dari mencukupi.
"Selama menjadi istri tentara Seroja ini lebih banyak dukanya. Tapi saya ikhlas dan bersyukur apa yang sudah diberikan kepada saya dan keluarga saya.
''Laymanda menganggap mereka yang akan mengusir dia dan istri-istri pejuang lainnya yang berusia 70 hingga 90 tahun kurang berperikemanusiaan. "Mereka ini seperti tak memahami Pancasila, nggak membaca Pancasila. Kami ini seperti penjahat, seperti koruptor yang harus diusir-usir," cetusnya.
Di rumah berukuran 4x28 meter itu hanya ada dua pasang kursi dan satu bufet. Tak ada peralatan ataupun barang-barang mewah. Itulah satu-satunya rumah sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan.
"Saya bingung harus ke mana bila rumah ini benar-benar dieksekusi Kodam Jaya. Semoga saja para pejabat itu tergugah hatinya, tidak jadi menggusur kami," harap Laymanda.
Harapan yang sama diungkapkan anak dari pejuang Letda Dardji, Budi Lestari. Menurutnya, proses eksekusi sementara dihentikan sampai ada solusi terbaik. Kalau nanti Kodam Jaya benar-benar mengusir penghuni kompleks, ia pun akan membongkar makam ayahnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
"Kalau sampai digusur, berarti kami dimiskinkan. Kalau dimiskinkan, itu artinya koruptor. Berarti kami ini keluarga koruptor. Buat apa orangtua saya dimakamin di sana (Taman Makam Pahlawan Kalibata) kalau jasanya tak dianggap,'' serunya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved