Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam setiap upacara pemakaman militer atau peringatan kenegaraan, suara dentuman senjata yang meletus secara serentak selalu berhasil menciptakan suasana khidmat sekaligus haru. Tradisi ini dikenal sebagai tembakan salvo kehormatan. Namun, di balik suaranya yang menggelegar, terdapat protokol ketat dan sejarah panjang yang melintasi berabad-abad peradaban militer dunia.
Secara teknis, salvo adalah tembakan serentak dari sejumlah senjata api atau meriam yang ditujukan untuk memberikan penghormatan. Dalam konteks militer Indonesia, tembakan ini merupakan bagian dari Upacara Pemakaman Kebesaran bagi prajurit TNI atau tokoh yang dianggap berjasa besar kepada negara.
Berbeda dengan tembakan peringatan atau pertempuran, salvo dilakukan dengan peluru hampa (blank cartridge). Tujuannya murni simbolis: sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas pengabdian sang almarhum selama masa hidupnya.
Dalam tradisi militer, jumlah personel regu penembak salvo hampir selalu ganjil (7, 9, atau 11). Hal ini berasal dari kepercayaan militer kuno bahwa angka ganjil melambangkan penghormatan yang tidak terputus dan membedakannya dari formasi taktis pertempuran.
Tradisi ini berakar dari kebiasaan perang kuno di Eropa. Dahulu, ketika kedua belah pihak yang bertikai sepakat untuk menghentikan pertempuran sejenak guna mengevakuasi jenazah dari medan laga, mereka akan menembakkan senjata ke udara sebanyak tiga kali. Tembakan ini menjadi sinyal bahwa jenazah telah diurus dengan layak dan pertempuran bisa dilanjutkan kembali.
Angka tiga sering kali menjadi standar dalam jumlah rentetan tembakan. Secara historis, tiga kali salvo melambangkan tiga kata sakral militer: Duty, Honor, Country (Tugas, Kehormatan, Negara).
Banyak masyarakat umum yang menyamakan antara tembakan salvo dan gun salute (dentuman meriam). Berikut adalah perbedaannya:
Berdasarkan Peraturan Panglima TNI, penghormatan tembakan salvo umumnya diberikan kepada:
Dalam protokol militer yang sangat ketat, setiap anggota regu salvo dibekali amunisi cadangan. Jika terjadi misfire (senjata macet), anggota tersebut tetap pada posisi tegak sempurna agar tidak merusak formasi visual, sementara anggota lain tetap melepaskan tembakan sesuai aba-aba.
Tembakan salvo bukan sekadar prosedur formalitas. Secara psikologis, suara keras yang tiba-tiba di tengah keheningan pemakaman berfungsi sebagai tanda bahwa sang prajurit telah menyelesaikan tugasnya di dunia. Ini adalah "salam perpisahan terakhir" sebelum jasad menyatu dengan tanah Pertiwi.
| Jenis Penghormatan | Alat/Senjata | Konteks Upacara |
|---|---|---|
| Salvo Kehormatan | Senapan Laras Panjang (SS1/SS2) | Pemakaman Militer |
| Gun Salute (17 Kali) | Meriam Artileri | HUT Kemerdekaan RI |
| Gun Salute (21 Kali) | Meriam Artileri | Penyambutan Kepala Negara Asing |
1. Apakah tembakan salvo menggunakan peluru tajam?
Tidak, salvo menggunakan peluru hampa (blank cartridge) yang hanya berisi bubuk mesiu tanpa proyektil logam.
2. Berapa jumlah personel regu salvo?
Biasanya terdiri dari 7 hingga 9 orang prajurit, dipimpin oleh satu orang Komandan Regu.
Dengan memahami makna di balik tembakan salvo, kita diajak untuk lebih menghargai setiap pengabdian yang diberikan oleh para penjaga kedaulatan negara hingga akhir hayat mereka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved