Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
Pertanyaan mengenai kenapa Prabowo cerai dengan Siti Hediati Hariyadi, atau yang lebih dikenal sebagai Titiek Soeharto, sering kali muncul kembali di tengah sorotan publik terhadap karier politik Prabowo Subianto. Kisah perpisahan ini bukanlah sekadar drama rumah tangga biasa, melainkan sebuah epik yang melibatkan dinamika politik tingkat tinggi, sejarah kelam tahun 1998, dan hubungan kompleks antara dua keluarga paling berpengaruh di Indonesia pada masa itu: Keluarga Soeharto (Cendana) dan Keluarga Sumitro Djojohadikusumo.
Untuk memahami alasan di balik perpisahan tersebut, kita harus menengok ke belakang, tepatnya pada 8 Mei 1983, ketika Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto melangsungkan pernikahan. Pernikahan ini digadang-gadang sebagai penyatuan dua kekuatan besar. Prabowo adalah putra dari begawan ekonomi Indonesia, Sumitro Djojohadikusumo, sementara Titiek adalah putri dari Presiden Soeharto yang saat itu sedang berada di puncak kekuasaannya. Namun, seiring berjalannya waktu, perbedaan pandangan politik antara kedua ayah mereka mulai menciptakan retakan yang perlahan membesar.
Ketegangan dalam rumah tangga Prabowo dan Titiek tidak bisa dilepaskan dari hubungan ayah mereka. Sumitro Djojohadikusumo dikenal sebagai sosok yang kritis dan terbuka. Menjelang akhir era Orde Baru, Sumitro kerap melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Soeharto yang dinilai mulai melenceng karena praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Kritik-kritik ini tentu saja membuat suasana antara keluarga Djojohadikusumo dan Cendana menjadi tidak nyaman.
Situasi ini menempatkan Prabowo dalam posisi yang sangat sulit. Di satu sisi, ia adalah seorang prajurit TNI yang loyal dan menantu Presiden. Di sisi lain, ia adalah anak dari seorang tokoh yang vokal mengkritik mertuanya. Tekanan psikologis dan politis ini menjadi beban tersendiri dalam kehidupan rumah tangga mereka, meskipun secara personal hubungan Prabowo dan Titiek dikabarkan harmonis.
Puncak dari segala ketegangan tersebut terjadi pada bulan Mei 1998. Kerusuhan besar melanda Jakarta, mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR, dan desakan agar Soeharto mundur semakin tak terbendung. Pada saat itu, Prabowo menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Posisi strategis ini membuatnya menjadi sorotan utama dalam pusaran konflik.
Ada beberapa faktor kunci pada masa krisis 1998 yang diduga kuat menjadi penyebab utama retaknya hubungan pernikahan mereka:
Meskipun tidak ada dokumen publik yang secara eksplisit merinci tanggal putusan pengadilan agama mengenai perceraian mereka, narasi sejarah mencatat bahwa perpisahan terjadi tak lama setelah jatuhnya Soeharto. Dalam buku biografi Sumitro Djojohadikusumo yang berjudul "Jejak Perlawanan Begawan Pejuang", disebutkan bahwa keluarga Cendana merasa perlu untuk "memisahkan" Titiek dari Prabowo akibat situasi politik yang memanas.
Prabowo kemudian memilih untuk mengasingkan diri ke Yordania untuk menenangkan diri dan menjauh dari hiruk-pikuk politik Tanah Air yang menyudutkannya. Kepergian Prabowo ke luar negeri ini secara de facto menandai berakhirnya kehidupan rumah tangga mereka. Publik pun akhirnya memahami bahwa alasan kenapa Prabowo cerai bukanlah karena hilangnya rasa cinta di antara keduanya, melainkan karena badai politik yang terlalu besar untuk ditanggung oleh sebuah ikatan pernikahan.
Satu hal yang menarik dan patut dicontoh adalah bagaimana Prabowo dan Titiek Soeharto menjaga hubungan baik pasca perpisahan. Berbeda dengan banyak pasangan publik figur yang berkonflik setelah bercerai, keduanya tetap menunjukkan rasa hormat satu sama lain.
Keduanya tetap kompak dalam membesarkan putra semata wayang mereka, Didit Hediprasetyo, yang kini sukses berkarier sebagai desainer internasional di Paris. Dalam berbagai kesempatan politik, terutama saat Prabowo maju dalam kontestasi Pemilihan Presiden, Titiek Soeharto kerap terlihat hadir memberikan dukungan nyata. Hal ini memunculkan spekulasi dan harapan di sebagian masyarakat mengenai kemungkinan rujuk, namun yang pasti, keduanya telah membuktikan bahwa kedewasaan dapat melampaui pahitnya sejarah masa lalu.
Secara garis besar, perpisahan antara Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto adalah "korban" dari turbulensi sejarah Indonesia. Faktor politik tahun 1998, ketegangan antara idealisme Sumitro dan kekuasaan Soeharto, serta posisi sulit Prabowo di militer menjadi penyebab utama keretakan tersebut. Kisah mereka mengajarkan bahwa dalam pusaran kekuasaan tinggi, kehidupan pribadi sering kali harus membayar harga yang sangat mahal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved