Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kasus Alvaro: Kriminolog Analisis Bahaya "Cinderella Effect" pada Anak Tiri

Mohamad Farhan Zhuhri
26/11/2025 12:52
Kasus Alvaro: Kriminolog Analisis Bahaya
Situasi di rumah duka anak laki-laki bernama Alvaro Kiano Nugroho (6) yang hilang di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (24/11/2025)(Antara)

KRIMINOLOG Reza Indragiri mengingatkan publik bahwa kasus penculikan dan pembunuhan anak bukan hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga kekhawatiran kolektif. “Sedih sekali membayangkannya. Sekaligus waswas, bagaimana jika situasi serupa terjadi pada darah daging kita sendiri. Na’udzubillaahi min dzalik,” ujar Reza melalui keterangannya, Rabu (26/11).

Reza menyinggung bahwa kasus Alvaro serupa dengan tragedi di Bandung, di mana seorang anak dibakar oleh orangtua tirinya. Di mata sebagian orang, kedua kasus itu tampak serupa karena sama-sama melibatkan pelaku orangtua tiri.

Ia menegaskan bahwa banyak orangtua tiri menyayangi anak sepenuh hati. Namun riset konsisten menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam keluarga tiri memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekerasan. 

“Fenomena itu dijelaskan oleh Cinderella Effect. Secara evolusioner, makhluk hidup cenderung mengasuh keturunan yang punya kesamaan genetik. Karena itu, ketika terjadi cekcok besar, impuls agresif bisa lebih mudah meledak,” jelasnya.

Kendati demikian, Reza menekankan bahwa status tiri bukan faktor tunggal. Kompleksitas relasi keluarga, tekanan ekonomi, hingga dinamika psikis turut membentuk risiko tersebut. “Ini peringatan bagi siapa pun yang hendak menikah kembali ada tanggung jawab besar ketika seseorang kelak menjadi orangtua tiri,” katanya.

Reza kemudian menyoroti persoalan lain yang mencuat dari kasus Alvaro, yakni kematian ayah tiri korban yang disebut bunuh diri di ruang tahanan polisi. Ia mengatakan publik selama ini memiliki bayangan sempit tentang prison culture sebagai kekerasan antarnapi, padahal perilaku menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri sama seriusnya.

"Ada terpidana seumur hidup kasus Cirebon yang saya temui di LP. Ia bercerita bagaimana ia menyayat pergelangan tangannya sendiri, lalu menggores-gores keningnya, kemudian mencari obat merah untuk menutup lukanya. Dan itu berulang,” papar Reza.

Seruan Pembenahan Sistem Penahanan

Ia menilai fasilitas penahanan harus dibenahi secara sistematis, mulai dari penambahan CCTV, pembatasan perlengkapan pribadi tahanan, akses memadai kepada keluarga dan advokat, hingga pemantauan kesehatan mental yang lebih ketat. Konseling, menurutnya, wajib diberikan kepada tahanan yang berisiko tinggi.

Namun ia juga realistis bahwa pembenahan semacam itu sering terhambat oleh stigma terhadap tahanan. “Mereka sering dianggap sampah, manusia buangan. Perlakuan terhadap makhluk serendah itu pasti buruk,” ucapnya.

Reza menegaskan bahwa setiap kematian tahanan, termasuk dalam kasus ayah tiri Alvaro, harus diinvestigasi menyeluruh. Polisi yang lalai atau terindikasi mengondisikan juga harus diberi sanksi. “Lembaga juga tak boleh berlepas tangan. Ini bisa menjadi masukan penting bagi Komisi Percepatan Reformasi Polri,” tuturnya.

Motif pembunuhan

Sebelumnya, polisi mengungkap bahwa pelaku pembunuhan Alvaro adalah ayah tirinya, Alex Iskandar (AI). Alex diketahui menikah dengan ibu Alvaro sejak 2023 dan hubungan keduanya sempat berada di ambang perceraian.

Alvaro, yang dilaporkan hilang sejak Maret 2025 di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Polisi kemudian menangkap Alex pada Rabu (19/11) malam.

Penyidik juga menyampaikan bahwa motif Alex melakukan pembunuhan adalah rasa cemburu terhadap istrinya.

Belakangan dikabarkan, ayah tiri Alvaro tewas bunuh diri saat berada dalam tahanan.Kepolisian menyatakan Alex ditemukan tewas diduga akibat bunuh diri di ruang konseling Polres Metro Jakarta Selatan, Minggu (23/11) pagi.

Hal itu sudah dibenarkan oleh Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Nicolas Ary Lilipaly. (Far/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya