Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Tragedi Pilu: DN Aidit Meninggal Karena Eksekusi Militer yang Kejam - Kisah Sedih 1965

mediaindonesia.com
14/11/2025 11:49
Tragedi Pilu: DN Aidit Meninggal Karena Eksekusi Militer yang Kejam - Kisah Sedih 1965
Ilustrasi(Antara)

Siapa DN Aidit, Pemimpin PKI yang Berakhir Tragis?

D.N. Aidit, atau Dipa Nusantara Aidit, lahir pada 30 Juli 1923 di Belitung. Ia tumbuh dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai mantri kehutanan. Sejak kecil, Aidit rajin mengaji dan belajar. Tapi, semangatnya untuk berjuang membuatnya pindah ke Jakarta saat usia 13 tahun. Di sana, ia terjun ke dunia politik. Aidit menjadi pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) sejak 1951. PKI tumbuh besar di bawah kepemimpinannya. Tapi, nasibnya berubah setelah peristiwa G30S pada 1965. DN Aidit meninggal karena tuduhan sebagai dalang peristiwa itu. Kisahnya penuh duka dan misteri.

Latar Belakang: Bagaimana Aidit Terlibat dalam Politik Indonesia?

Aidit mulai aktif saat masa perjuangan kemerdekaan. Ia bergabung dengan gerakan pemuda. Pada 1945, ia pimpin Angkatan Pemuda Indonesia di Jakarta. Aidit juga terlibat dalam Madiun Affair 1948, tapi berhasil kabur. Di bawah pimpinannya, PKI jadi partai terbesar ketiga di Indonesia. Ia dukung Nasakom, gabungan nasionalis, agama, dan komunis. Tapi, ketegangan politik memuncak pada September 1965. G30S dituduh PKI. Aidit buron. Ini awal dari tragedi pilu yang membuat DN Aidit meninggal karena pengejaran militer.

Detik-Detik Penangkapan: Malam Gelap di Solo

Pada 30 September 1965 malam, Aidit tinggalkan rumahnya di Jakarta. Ia cium kening istri dan usap rambut anaknya. Lampu depan dimatikan sebagai tanda bahaya. Aidit sembunyi di Solo, Jawa Tengah. Pada 22 November 1965, pukul 21.00 WIB, tentara gerebek rumah persembunyiannya di Kampung Sambeng. Aidit sembunyi di balik pintu. Tapi, ia ketahuan. Letnan Ning Prayitno pimpin penangkapan itu. Aidit dibawa ke markas Brigif IV Loji Gandrung untuk interogasi. Saat itu, ia minta temui Presiden Soekarno. Tapi, permintaannya ditolak. Ini momen pilu sebelum DN Aidit meninggal karena eksekusi cepat.

Perjalanan Terakhir: Dari Solo ke Boyolali

Keesokan paginya, Kolonel Yasir Hadibroto bawa Aidit keluar Solo. Mereka naik tiga jip menuju barat. Aidit berulang kali minta bertemu Soekarno. Yasir tolak. "Kalau diserahkan, fakta bisa diputarbalikkan," katanya. Aidit dibawa ke Markas Batalion 444 di Boyolali. Di sana, ia diinterogasi lagi. Aidit sempat pidato berapi-api, bela PKI. Tapi, Yasir jengkel. Ia putuskan eksekusi tanpa pengadilan. DN Aidit meninggal karena tembakan di tepi sumur tua. Tubuhnya jatuh ke sumur. Jenazahnya tak pernah ditemukan. Misteri ini tambah pilu ceritanya.

Cerita Pilu Eksekusi: Mengapa DN Aidit Meninggal Tanpa Pengadilan?

Eksekusi Aidit terjadi 22 November 1965. Tanpa proses hukum. Ini bagian dari pembantaian massal pasca G30S. Ratusan ribu orang tewas. Aidit dituduh biang kerok G30S. Tapi, bukti tak kuat. Versi lain bilang ia mati dalam ledakan rumah tahanan. Atau, jenazahnya dibuang ke sungai. Kolonel Yasir laporkan ke Jenderal Soeharto. Soeharto tersenyum puas. Keluarga Aidit hancur. Istrinya dipenjara. Anak-anaknya tercerai-berai. DN Aidit meninggal karena politik kejam Orde Baru. Kisah ini ingatkan kita akan luka sejarah Indonesia.

Warisan dan Pelajaran dari Kematian Aidit

Kematian Aidit tinggalkan tanda tanya. Di mana makamnya? Mengapa tanpa adil? Ini pelajaran tentang bahaya fanatisme politik. Hari ini, kita bisa belajar toleransi. Cerita pilu DN Aidit meninggal karena eksekusi ajak kita renungkan masa lalu. Jangan ulangi kesalahan itu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya