Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Senin (11/10/2025), Presiden Prabowo Subianto secara resmi menambahkan 10 nama ke dalam daftar pahlawan nasional Indonesia. Salah satu nama yang diabadikan dalam sejarah adalah Rahmah El-Yunusiyah, tokoh perempuan asal Minangkabau yang berjasa besar di bidang pendidikan Islam dan pemberdayaan perempuan.
Rahmah lahir pada 20 Desember 1900 di Bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatra Barat, sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, putri pasangan Muhammad Yunus dan Rafiah. Ia dibesarkan dalam keluarga religius, ayahnya seorang ulama besar yang menjabat kadi di Pandai Sikat dan pernah menempuh pendidikan agama di Mekkah selama empat tahun. Lingkungan keluarga yang taat beragama serta kakaknya, Zainuddin Labay, merupakan seorang tokoh pembaharu pendidikan Islam. Kakaknya inilah yang memberikan inspirasi besar bagi Rahmah dalam meniti jalan pendidikan.
Meski hanya menempuh pendidikan dasar tiga tahun di Diniyah School, Rahmah memiliki wawasan luas. Ia belajar otodidak dan mendalami ilmu agama dari kakak-kakaknya serta para ulama terkenal seperti Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) dan Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim. Rahmah dikenal cerdas, tekun, dan memiliki tekad baja. Sifatnya tersebut membawanya menjadi guru almamaternya sendiri dan melanjutkan pendidikan dalam bidang kebidanan serta ilmu kesehatan.
Rahmah prihatin dengan rendahnya akses pendidikan bagi perempuan. Pada 1 November 1923, ia bersama kakaknya Zainuddin Labay mendirikan Madrasah Diniyah Li al-Banat, sekolah khusus perempuan pertama di Padang Panjang.
Sekolah ini awalnya menampung 71 murid, namun berkembang pesat seiring waktu hingga meliputi berbagai tingkat pendidikan dari anak-anak hingga calon guru. Rahmah juga memperluas kurikulum, menambahkan pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, ilmu kesehatan, dan ilmu alam, serta program ekstrakurikuler seperti renang, musik, menganyam, dan menenun.
Rahmah menegaskan independensi sekolahnya dengan menolak bantuan dana dari pemerintah kolonial Belanda dan menolak penggabungan sekolah Islam di Minangkabau. Ia aktif dalam berbagai organisasi perempuan dan kemasyarakatan, termasuk Serikat Kaum Ibu Sumatra dan Taman Bacaan.
Pada masa pendudukan Jepang, Rahmah menjadikan sekolahnya sebagai rumah sakit darurat dan menjadi orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di Sumatra Barat sebelum kabar proklamasi kemerdekaan tersebar luas.
Keberhasilan Rahmah mengelola Madrasah Diniyah Putri menarik perhatian dunia internasional. Pada 1955, Rektor Universitas Al-Azhar Mesir mengunjungi perguruan tersebut dan mengadopsi sistem pendidikan Rahmah untuk pendidikan perempuan di Al-Azhar. Atas jasanya, pada 1957 Rahmah dianugerahi gelar Syaikhah, menjadi perempuan pertama yang meraih gelar prestisius ini.
Rahmah El-Yunusiyah tidak hanya meninggalkan jejak dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia, tetapi juga menjadi simbol pemberdayaan perempuan dan kemandirian pendidikan. Dengan pengakuan sebagai pahlawan nasional, kiprah dan jasa-jasa Rahmah kini diabadikan untuk generasi masa depan.
Sumber: Dispersip Kabupaten Kampar.
Memperingati HUT Ke-80 RI, mari mengenang perjuangan tiga pahlawan lokal berpengaruh: Tan Malaka, Cut Nyak Meutia, dan I Gusti Ngurah Rai.
Kenali 40 nama pahlawan nasional dan asalnya. Kisah inspiratif pejuang Indonesia untuk generasi muda. Baca sekarang!
Kenali 50 nama pahlawan nasional dan asalnya. Kisah perjuangan mereka untuk Indonesia, cocok untuk pelajar dan umum.
Jelajahi 25 pahlawan nasional Indonesia! Baca biografi singkat tokoh legendaris yang berjuang untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa.
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sejarah perjuangan. Para pahlawan nasional adalah individu-individu yang memberikan kontribusi besar pada kemerdekaan bangsa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved