Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT Kepolisian Bambang Rukminto menilai adanya dugaan pemerasan yang dilakukan oleh polisi menjadi sinyal bahwa lemahnya kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dugaan pemerasan oleh personel Polri bukan lagi menjadi rahasia.
Ia mengatakan kasus pemerasan penonton DWP beberapa lalu hanya yang tampak di permukaan atau seperti fenomena gunung es. "Ke depan akan semakin banyak yang akan speak up terkait kasus serupa di berbagai satuan kepolisian. Mulai satnarkoba, satreskrimum terkait judol, maupun pidana yang lain, satlantas terkait penyelesaian laka lantas," kata Bambang kepada Media Indonesia, Senin (27/1).
Ia menjelaskan problem di institusi Polri ialah kontrol dan pengawasan di internal relatif hanya stempel, karena yang mengawasi juga bagian dari problem. Sidang kode etik dan disiplin hanya menjalankan prosedural tanpa menyentuh substansi perbaikan etik dan disiplin.
"Hal itu terkonfirmasi, mereka yang sudah diberi sanksi etik dan disiplin juga masih bisa dipromosikan di jabatan penting," katanya.Bambang mengatakan Amanat TAP VII/MPR/2000 tentang peradilan pidana umum bagi personel kepolisian juga tidak dilakukan secara konsisten. Demikian juga dengan PP 1/ tentang pemberhentian personel Polri, di mana mereka yang melakukan tindak pidana harusnya bisa langsung dipecat atau PTDH, faktanya masih dilindungi institusi bahkan mendapat promosi.
"Peraturan terkait sanksi bagi penegak hukum sudah banyak. Problemnya adalah konsistensi dari penegakan peraturan itu sendiri," katanya.
"Hal ini dipicu lemahnya kepemimpinan dari penegak hukum itu sendiri. Jadi selama kepemimpinannya lemah, tidak konsisten menegakkan aturan, problem tersebut akan terus terjadi. Sanksi etik dan disiplin hanya sekedar gimmick saja. Tidak akan membuat efek jera," tambahnya.
Lebih lanjut, Bambang mengingatkan kembali pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang mengatakan ikan busuk dari kepalanya.
"Pembusukan di tubuh penegak hukum itu harus dihentikan. Makanya butuh political will dari Presiden Prabowo untuk menyelamatkan Polri, dengan segera memotong kepala ikan yang busuk," katanya. (Faj/I-2)
Meskipun masih menjadi salah satu yang terbesar di lautan saat ini, gunung es tersebut kini diperkirakan memiliki luas sekitar 1.182 kilometer persegi setelah "beberapa bagian besar"
Gunung es terbesar di dunia, A23a, kini dilaporkan mulai pecah.
Gunung es A23a, yang memiliki ukuran sekitar 3. 900 kilometer persegi—lebih dari dua kali luas kota London—mulanya terpisah dari Lapisan Es Filchner-Ronne pada 1986.
Gunung es raksasa A-23A, dengan luas 3.460 km², telah kandas di lepas pantai Pulau South Georgia setelah menempuh perjalanan panjang dari Antartika.
Gunung es terbesar di dunia, A23a, dilaporkan kandas di landas kontinen sekitar 90 km dari Pulau Georgia Selatan setelah mengapung sejak 2020.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved