Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
Pergeseran nilai Pancasila tidak hanya terjadi di generasi muda, tetapi juga di lembaga pemerintahan, bikrokrasi, legislatif, hingga yudikatif.
SEPULUH tahun lamanya memori kolektif tentang Pancasila tersingkir dari sistem pendidikan nasional. Akibatnya, ada generasi yang tidak tersentuh memori tersebut, apalagi mengamalkan nilai-nilai luhurnya.
Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada Heri Santoso mengemukakan hal itu, di sela-sela Kongres Pancasila VIII, di Balai Senat Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada (UGM), kemarin.
Menurut Heri, Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah menghilangkan Pancasila dalam kurikulum wajib pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Kurikulum wajib saat itu hanya mencantumkan kewarganegaraan, tanpa ada kata Pancasila.
"Yang ada saat itu pendidikan tentang ketatanegaraan yang tidak ada roh jiwa ideologi Pancasila di dalamnya," ujar Heri.
Tidak mengherankan apabila generasi yang mengenyam kurikulum tersebut banyak yang tidak memahami Pancasila, bahkan tidak hapal sila-silanya.
Barulah, melalui UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, kurikulum pendidikan tinggi mencantumkan kembali Mata Kuliah Pancasila. Kemudian, dalam kurikulum 2013, Pancasila kembali dimasukkan.
Untuk mengembalikan generasi Pancasila yang hilang, kata Heri, Pancasila jangan hanya dipelajari sebagai kognisi, tetapi juga afeksi dan pengamalan.
Pembelajaran Pancasila dapat dilakukan melalui pelembagaan dan pembudayaan. Pelembagaan dijalankan melalui jalur negara, adapun pembudayaan lewat jalur masyarakat.
Pedidikan Pancasila juga harus dilakukan dengan model-model baru yang mudah dimengerti dan diamalkan. Misalnya, untuk anak-anak, diberi permainan cara membagi kue yang adil atau diajak ke museum dan makam pahlawan untuk belajar menghargai jasa para pahlawan.
Di kesempatan terpisah, Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyatakan nilai-nilai budaya, nilai-nilai Pancasila, dan adat ketimuran, terdegradasi teknologi yang tidak disertai bimbingan. Generasi muda sangat terikat pada gawai, gim, maupun internet yang bisa diakses secara bebas.
Di sisi lain, lanjut Pastika, orangtua tidak memperhatikan yang dimainkan ataupun ditonton anak-anak mereka. Akibatnya, unsur kekerasan, hal-hal berbau seksual, dan berbagai pengaruh negarif lainnya melenggang dengan mudahnya dan merasuki benak generasi muda. Tidak ada ruang untuk Pancasila.
"Jangankan nilai Pancasila, anak-anak sekarang disuruh hafal Pancasila saja susah. Bagaimana menerapkannya."
Dikaburkan
Tokoh pemuda Bali Imam Munawir sependapat telah terjadi pergeseran karakter bangsa dari nilai-nilai Pancasila. Pergeseran tersebut bukan hanya terjadi pada generasi muda, melainkan juga di lembaga pemerintahan, birokrasi, eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
"Pergeseran itu memang tidak kelihatan, tetapi kalau diselisik memang nyata adanya," ujarnya.
Pancasila tidak lagi menjadi landasan dari upaya untuk mencapai keadilan sosial. Sebaliknya, malah dikaburkan menjadi keadilan sekelompok orang. Menurut Imam, semangat antiimperialisme dalam Pancasila bergeser dan imperialisme makin subur di Indonesia hingga saat ini. (OL/P-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved