Rabu 12 Januari 2022, 08:44 WIB

Megawati Tolak Perpanjangan Masa Jabatan Presiden

RO/Micom | Politik dan Hukum
Megawati Tolak Perpanjangan Masa Jabatan Presiden

Dok MI
.

 

KETUA Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Sukarnoputri tidak setuju dengan ide perpanjangan masa jabatan presiden. Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, dalam diskusi di sebuah stasiun televisi.

"Ibu Megawati patuh pada konstitusi," kata Hasto dikutip pada Rabu (12/1). 

Hasto menuturkan bahwa putri mendiang Presiden Soekarno itu konsisten dengan aturan masa jabatan presiden sebanyak dua periode sebagaimana tercantum dalam UUD 1945. Menurutnya, itu mekanisme secara periodik yang dijalankan sebagai perintah konstitusi.

"Jadi memang tidak ada perpanjangan masa jabatan presiden karena konstitusi telah mengatur secara tegas dua periode," lanjut Hasto.

Hasto menuturkan mengatakan sikap itu sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Megawati saat menjabat sebagai presiden. Ketika itu, Megawati melaksanakan pemilihan umum pada 2004 secara demokratis.

Bagi Hasto, itu adalah fundamen dalam transisi kekuasaan pemilu yang selalu disempurnakan tingkat kualitas demokrasinya agar tidak terjadi manipulasi, dan tidak terjadi pengumpulan kekuasaan.

Sebelumnya, Menteri Investasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa kalangan pengusaha menginginkan pemilu tahun 2024 diundur. Hal ini dia sampaikan saat memberikan tanggapan hasil survei Indikator Politik Indonesia terkait masa jabatan Presiden Joko Widodo ditambah menjadi hingga 2027 akibat pandemi covid-19.

"Di dunia usaha rata-rata mereka memang berpikir adalah bagaimana proses demokrasi ini dalam konteks peralihan kepemimpinan kalau memang ada ruang untuk dipertimbangkan dilakukan proses untuk dimundurkan jauh lebih baik," kata dia Minggu, (9/12). 

Menurut Bahlil, ini karena kalangan pengusaha baru merasa selesai babak belur dengan persoalan kesehatan akibat covud-19. Dalam masa pemulihan tidak ingin diganggu persoalan politik.

Di sisi lain, dia melanjutkan, persoalan memajukan dan memundurkan pemilu dalam sejarah bukan sesuatu yang haram dilakukan. Dia mencontohkan saat terjadinya krisis pada 1997-1998.

"Memajukan pemilu atau memundurkan pemilu dalam sejarah bangsa itu bukan sesuatu yang diharamkan juga, karena tahun 1997 kita pemilu kan harusnya 2002, karena kita pemilu lima tahun sekali, tapi kita majukan karena persoalan krisis waktu itu, ya, reformasi," tegas Bahlil. (J-1) 

Baca Juga

Antara/Rivan awal Lingga

Kejagung Sebut Putusan Terhadap Heru Hidayat Ingkari Keadilan Masyarakat 

👤Tri SUbarkah 🕔Rabu 19 Januari 2022, 00:02 WIB
Terlebih, Heru sebelumnya juga pernah terseret skandal korupsi di PT Asuransi Jiwasraya dan sedang menjalani hukuman pidana penjara seumur...
MI/REZA SUNARYA

Kajati Terima Suap Wajib Dipecat, Kalau Berbahasa Sunda, Apa Salahnya?

👤Reza Sunarya 🕔Selasa 18 Januari 2022, 23:35 WIB
 Penggunaan bahasa daerah dalam kegiatan rapat adalah sesuatu yang...
MI/M IRFAN

Politikus PDIP Minta Arteria Dahlan Dievaluasi

👤Kristiadi 🕔Selasa 18 Januari 2022, 23:25 WIB
Arteria dinilai tidak memiliki jiwa nasionalisme yang menjunjung tinggi perbedaan suku dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya