Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo menginstruksikan agar birokrasi penyaluran bantuan tunai kepada masyarakat terdampak pandemi covid-19 dipermudah. Prosedur yang berbelit-belit ditengarai membuat bantuan sosial (bansos) tunai dan bantuan langsung tunai (BLT) dana desa lamban sampai sasaran.
Dalam rapat terbatas jajaran kabinet, kemarin, Presiden Jokowi menyebut penyaluran BLT desa baru mencapai 15% dan bansos tunai 25%.
“Saya minta aturan itu dibuat sesederhana mungkin tanpa mengurangi akuntabilitas, sehingga pelaksanaan di lapangan bisa fleksibel. Yang paling penting bagaimana mempermudah pelaksanaan di lapangan. Oleh sebab itu, keterbukaan sangat diperlukan sekali,” ungkap Jokowi dalam rapat terbatas kabinet secara daring di Istana Merdeka, Jakarta.
Terkait dengan sisi akuntabilitas, Presiden mendorong agar dilakukan pendampingan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), atau Kejaksaan Agung. Pendampingan diperlukan untuk mencegah potensi penyimpangan maupun korupsi.
Presiden juga menyoroti data penerima bansos yang disebutnya tidak sinkron. “Oleh sebab itu, saya minta segera diselesaikan agar masyarakat yang menunggu bantuan ini betul-betul segera bisa mendapatkan. RT/RW, desa, dilibatkan dan dibuat mekanisme yang lebih terbuka, lebih transparan, sehingga semuanya bisa segera diselesaikan,” ucap Presiden.
Menteri Sosial Juliari Batubara menargetkan hingga H-1 Idul Fitri, bansos tunai sebesar Rp600 ribu per kepala keluarga (KK) akan menjangkau 8,36 juta KK dari target keseluruhan 9 juta KK. Bantuan itu mencakup periode tiga bulan.
“Kemarin penyaluran sudah 3,73 juta KK menerima bansos tunai tahap pertama, jadi 45% sudah menerima. Sisanya kita kebut sampai Sabtu,” ungkap Juliari seusai rapat terbatas kabinet.
Terkait data yang tidak sinkron, Juliari mengungkapkan sebagian daerah masih belum juga memberikan data calon penerima bansos tunai. Padahal, data penerima bansos tunai sepenuhnya berasal dari pemerintah daerah.
“Kami sudah putuskan untuk me-locked (mengunci) data yang mereka bisa, lalu sisanya di tahap kedua agar (penyaluran) tidak menggantung di daerah tersebut,” ucap Juliari.
Semrawut
KPK menilai masih ada kesemerawutan penyaluran bansos untuk masyarakat yang terdampak pandemi covid-19. Plt juru bicara KPK Bidang Pencegahan Ipi Maryati Kuding menyebutkan hal itu akibat masih adanya Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTSK) yang belum diperbarui di sejumlah daerah.
“Potensi kerawanan dalam penyelenggaraan bansos, baik oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah, ialah terkait pendataan penerima, klarifikasi dan validasi data, belanja barang, distribusi bantuan, serta pengawasannya,” imbuh Ipi, dalam keterangannya, kemarin.
Dikatakannya, KPK telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 11 Tahun 2020 pada 21 April 2020 tentang Penggunaan DTKS dan Data non-DTKS dalam Pemberian Bantuan Sosial ke Masyarakat. Surat tersebut dapat menjadi rujukan awal pendataan hingga tingkat RT/RW. (Rif/P-2)
Cek desil bansos 2026 secara online melalui website dan aplikasi Kemensos. Simak cara cek status penerima bansos dan penjelasan fungsi desil.
PEMERINTAH mengucurkan anggaran bantuan sosial (bansos) sebesar Rp17,5 triliun menjelang Lebaran 2026.
Gus Ipul menekankan bahwa akurasi data adalah fondasi utama agar program bantuan sosial (bansos) tidak lagi salah sasaran.
Pemerintah menyediakan dua kanal utama untuk cek penerima bansos Februari 2026 yang bisa diakses secara daring
PEMERINTAH menyiapkan anggaran senilai Rp12,83 triliun untuk paket stimulus ekonomi kuartal I 2026 yang mencakup diskon tiket transportasi, potongan tarif jalan tol, serta bansos.
Masalah tawuran tidak cukup diselesaikan hanya dengan imbauan moral atau nasihat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved