Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Bagian dari Pengamalan Agama, Pancasila Tidak Antiagama

Melalusa Sushtira Khalida
16/8/2019 23:43
Bagian dari Pengamalan Agama, Pancasila Tidak Antiagama
FGD yang digelar Gerakan Suluh Kebangsaan(Antara/Aprilio Akbar)


IDEOLOGI Pancasila tidak antiagama, ideologi tersebut menurut Dewan Penashiat Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Alwi Shihab justru menyebut Pancasila merupakan bagian dari agama.

"Pancasila ini sejak awal sampe sekarang sama sekali tidak mengandung pemahaman atau kebijakan yang antiagama. Justru Pancasila ini bagian dari agama," ujar Alwi saat acara focus group discussion (FGD) Gerakan Suluh Kebangsaan di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta, Jumat (16/8).

Mantan menteri luar negeri tersebut menuturkan narasi bahwa Pancasila merupakan ideologi yang antiagama dilontarkan oleh kelompok radikal yang sengaja menyesatkan.

Menurut Alwi, hal tersebut dilancarkan kelompok radikal tersebut melalui provokasi-provokasi yang sifatnya menyudutkan dan memaksa.

"Berusaha memaksakan pandangannya kepada masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang tidak mengerti dan mudah untuk diprovokasi dengan cara mengedepankan islam seakan-akan Pancasila ini memang tidak islami," ungkap Alwi.

Selain lewat agenda Gerakan Suluh Kebangsaan yang diinisiasi oleh sejumlah tokoh bangsa dalam negeri guna mensosialisasikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia bahwa Pancasila tidaklah antiagama, khususnya Islam, Alwi berharap dapat pula mengajak sejumlah tokoh Islam moderat dari Arab.

Baca juga : Gerakan Suluh Kebangsaan Berupaya Tangkal Radikalisme

Gagasan tersebut muncul, ungkap Alwi, dari paradigma kelompok radikal yang selalu mengacu pada alam pemikiran maupun tokoh-tokoh negara di Jazirah Arab, negeri di mana Islam lahir.

Alwi lantas berkelakar sekaligus menganalogikan, bahwa tokoh-tokoh Islam di Arab adalah Kualitas 1 (KW 1) dan tokoh-tokoh Islam di Indonesia Kualitas 2 (KW 2).

"Kelompok radikal ini selalu mengacu pada tokoh-tokoh di negeri Arab dan menganggap tokoh-tokoh Islam di Indonesia ini tokoh-tokoh yang KW 2. Jadi kami datangkan apa yang dianggap KW 1 itu dan membantah apa yang mereka sebarluaskan di masyarakat kita," pungkasnya.

Ditemui dalam kesempatan yang sama, mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Amin Abdulah menjelaskan bibit radikalisme awalnya tumbuh sepuluh tahun sejak era reformasi.

Dari situ, lanjut Amin, demokrasi yang kian berkembang seolah kebablasan dan tersusupi oleh ideologi transnasionalisme.

"Ada perkawinan yang saya sebut perkawinan yang tidak suci antara keran kebebasan yang kebablasan, demokrasi yang kebablasan, kawin dengan gerakan transnasionailsme, itu yang jadikan kita seperti ini," jelas Amin.

Amin lantas mengingatkan bila paham-paham radikalisme maupun transnasionailsme dilanggengkan dan tidak segera diantisipasi, maka berpotensi menghancurkan kesatuan bangsa Indonesia.

"Perkawinan itu bahaya sekali kalau kita enggak hati-hati. Indonesia yang besar itu bisa porak-poranda," tutup Amin. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya