Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Gerakan Optimistis Indonesia Maju

Micom
28/2/2019 14:30
Gerakan Optimistis Indonesia Maju
(Dok TKN Jokowi-Amin)

BERTEMPAT di On Three Space, Senopati Suites 3 lantai 2 Jakarta Selatan, talkshow Rabu Satu kali ini sangat spesial karena menghadirkan pengusaha nasional yang juga Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Amin, Erick Thohir sebagai narasumber, bersama Dini Purwono, Budiman Sudjatmiko, dan Mariya Mubarika.

Penyelenggaraan Rabu Satu Talkshow kali ini berkolaborasi dengan Gerak Cepat dan dihadiri lebih dari 170 pengunjung dari berbagai elemen masyarakat.

Bertindak sebagai host acara talkshow Rabu Satu sekaligus membuka acara adalah Fiki Satari, praktisi ekonomi kreatif, yang juga merupakan penggagas Rabu Satu.

Dalam kesempatan tersebut, Fiki menyampaikan beberapa harapan berkenaan dengan penyelenggaraan Rabu Satu khususnya untuk terus secara konsisten mengangkat dan mengamplifikasi berbagai hal baik di sekitar kita.

Dalam paparannya, Fiki menampilkan video cuplikan dari Konvensi Rakyat Optimis Indonesia Maju. Tayangan video berdurasi 2 menit tersebut memunculkan sosok Jokowi yang berorasi dengan sangat menggugah semangat dan optimisme saat menyampaikan penjabaran program dari visi misi Indonesia Maju.

Tayangan tersebut sekaligus menjadi pembuka sesi pertama yang langsung diisi Erick Thohir, Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Amin itu kemudian memaparkan beberapa data capaian pemerintahan Jokowi sejak 2014 serta program-program unggulan Jokowi-Amin.

Di sesi tersebut, Erick menggarisbawahi ajakan untuk terus mempertahankan optimisme dalam menyongsong Indonesia Maju mengingat potensinya dan fondasi infrastruktur yang juga telah dibangun oleh pemerintahan Jokowi.

Baca juga: TKN Siapkan 2 Juta Saksi untuk Pemilu

“Membangun infrastruktur itu sama juga membangun peradaban manusia.. peradaban bangsa” sebutnya sebagai penekanan akan pentingnya pembangunan infrastruktur yang selama ini berjalan sangat signifikan di era Jokowi.

Ditambahkan juga oleh Erick, penting sekali memiliki pemimpin yang bervisi ke depan dan mempersiapkan manusia-manusia Indonesia agar siap menghadapi era industry 4.0.

Menurut Erick, pemerintahan periode pertama Jokowi sudah mulai mempersiapkan hal tersebut dengan sangat terstruktur. Hal tersebut ditandai dengan proses pembangunan infrastruktur yang kemudian akan disusul dengan pembangunan manusia Indonesia ke depan.

Dalam sesi berikutnya, Budiman Sudjatmiko mengulas langsung beberapa program yang selama ini kebermanfaatannya sudah dirasakan masyarakat secara langsung.

Budiman juga menambahkan bahwa baru alokasi dana sebesar Rp187 triliun untuk Dana Desa yang meski belum teroptimalkan 100% sesuai Undang-undang Desa telah melahirkan 34.000 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dari 74.000 desa.

Budiman mengajak membayangkan bagaimana peningkatan kualitas hidup masyarakat desa bisa terus naik jika prosesnya terus dioptimalkan, bahkan nilainya ditingkatkan menjadi Rp400 triiyun seperti yang direncanakan Jokowi.

“Orang desa akan punya company, punya korporasi, punya unit bisnis, yang macem-macem bisnisnya. Mau bisnis jualan pisang goreng, sampai kalau perlu bisnis teknologi.“ ungkap Budiman sembari menekankan optimismenya bahwa penerapan ke depan akan semakin optimal.

Mengenai semangat membangun desa, narasumber berikutnya Dini Purwono juga menyatakan sangat setuju. Dini menambahkan agar tidak berorientasi pada pengadaan semata, apakah pengadaan traktor, pupuk semata, namun juga diimbangi dengan peningkatan ilmu pengetahuan dan skill kepada petani-petani kita.

Bayu Permana, pendamping program Dana Desa yang juga hadir langsung dari Sukabumi sebagai salah satu narasumber kemudian berbagi cerita mengenai pemanfaatan Dana Desa yang berdampak sangat positif ke masyarakat desa.

Bayu memulai paparannnya dengan menggambarkan kondisi sebelum program Dana Desa dihadirkan. Saat itu pembangunan desa hanya berhenti di perencanaan. Kantor Desa saat itu tidak lebih dari peran administratif semata, perpanjangan tangan pemerintah daerah.

“Pada 2014, sebelum ada Undang-undang Desa, masyarakat desa itu dikumpulkan di desa mereka bertengkar, berkontestasi, menyusun rencana program dan lain sebagainya tetapi hasilnya tidak pernah direalisasikan. Karena uangnya enggak ada,” kata Bayu. Dia menambahkan, desa saat itu tidak lebih hanya menjadi objek saja.

“Saya sangat menyaksikan bagaimana masyarakat yang tadinya datang ke desa hanya sekedar mau ngurusin KTP, mau ngurusin surat nikah dan lain-lain, sekarang mereka datang ke desa membawa aspirasi, membawa kepentingan, membawa harapan.”

Dalam sesi berikutnya, Tita Larasati, Ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) dan Dosen ITB bergabung sebagai narasumber untuk memperdalam konsep Creative Space yang disebutkan Jokowi dalam Konvensi Rakyat Optimis Indonesia Maju sebagai salah satu program yang akan diusung.

“kegiatan ekonomi yang tidak berasal dari menggali sumber daya alam lagi, tapi memakai atau menggunakan daya cipta, daya kreasi dll..”

Sesuai dengan paparan Jokowi mengenai Creative Space, nantinya, ruang ini akan dapat difungsikan sebagai tempat pelatihan skill dan keahlian berkaitan dengan industri kreatif.

Di sesi terakhir, Mariya Mubarika hadir memberikan penjelasan mengenai keberjalanan program Kartu Indonesia Sehat dan BPJS Kesehatan yang selama ini telah banyak membantu masyarakat.

“Sekarang kita bisa menyaksikan mungkin jutaan orang, ketika dia gagal ginjal dan harus cuci darah mayoritas hampir 100% menggunakan Kartu Indonesia Sehat atau BPJS Kesehatan,“ ujarnya

Mariya menjelaskan saat menggambarkan perbedaan program dukungan kesehatan pemerinah sejak sebelum dan setelah hadirnya KIS dan BPJS. (RO/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya