Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

TNI AL Ringkus Pimpinan Perompak di Selat Malaka

Rudy Polycarpus
25/11/2015 00:00
TNI AL Ringkus Pimpinan Perompak di Selat Malaka
(Illustrasi Antara Foto/Joko Sulistyo)
Tim reaksi cepat Komando Armada Kawasan Barat TNI AL atau West Quick Fleet Response (WQFR) menangkap pimpinan perompak yang biasa beraksi di Selat Malaka. Pimpinan tersebut diciduk di sebuah hotel di wilayah Jakarta Timur.

Kadispenal Laksamana Pertama M. Zainudin menerangkan, penangkapan pimpinan perompak ini dilakukan setelah pihaknya meringkus anggota komplotan.

"Tersangka bernama Waskim telah ditangkap Selasa, 24 November 2015 di sebuah hotel di Pulogadung, Jakarta," kata Zainudin saat dihubungi, kemarin.

TNI AL sebelumnya sudah menangkap Gayor, anggota kelompok Waskim lainnya di Batam dan Gunung Salak, Bogor. Total sudah 10 anggota komplotan yang dibekuk TNI AL. Kelompok ini adalah sindikat spesialis kejahatan pengambilan suku cadang di atas kapal dengan menggunakan kekerasan. Lokasi operasi mereka berpindah-pindah, tergantung situasi keamanan di perairan.

"Lokasi operasi di perairan Malaka, Perairan Dumai dan Perairan Teluk Jakarta," sebut Zainudin.

Waski tercatat sudah buron selama dua bulan. Zainudin menjelaskan, saat ini tersangka telah dibawa Markas Koarmabar oleh petugas Intel TNI AL untuk kepentingan penyelidikan.

Komplotan Waskim terakhir merompak Motor Tanker Orkim Harmony awal Juni 2015 di timur Johor Bahru. Kapal itu membawa 6.000 metrik ton minyak setara pertamax plus dari Kuantan menuju Malaka. Menurut Zainudin, Waskim Cs terkenal cukup kejam. Selain menguras harta benda ddi kapal, kawanan ini juga tak segan membunuh jika ada korban yang melawan.

Selama ini ada dua sindikat besar yang beraksi di Selat Malaka, yakni sindikat yang dipimpin Waskim dan M. Zakir. Komplotan Zakir sudah diringkus pada Oktober.

Selain Waskim, prajurit Koarmabar juga meringkus donatur berinisial UM komplotan Waskim di Koja, Jakarta Utara. Menurut Zainal, pihaknya terus mengembangkan kasus ini karena tak menutup kemungkinan komplotan ini membentuk kartel. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya