Pencatutan Nama Presiden, ICW : Belasan Kali Disebut, Janggal Jika Respon Luhut Biasa Saja
Ilham Wibowo
20/11/2015 00:00
()
Nama Luhut Binsar Pandjaitan belasan kali disebut dalam pembicaraan diduga melibatkan Setya Novanto, pengusaha M Reza Chalid, dan Direktur PT FI Maroef Sjamsuddin. Hal ini dinilai janggal. Sebab, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan ini merespon dengan biasa saja.
"Ini janggal kalau responnya biasa saja dan cenderung tidak mempermasalahkan secara hukum. Biasanya Pak Luhut itu kalau ada kaitan yang menyangkut konteks masalah ekonomi secara keseluruhan pasti beliau akan bergerak. Yang tadiya keras tiba-tiba melunak," tutur peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Donal Fariz, Jumat (20/11).
Donal menilai apa yang disampaikan Luhut dalam menanggapi polemik ini merupakan peryataan standar. "Pak Luhut mengatakan tidak akan melacurkan profesinya, itu peryataan standar. Ada yang lebih tinggi yaitu pernyataan sumpah jabatan," ucap Donal.
Donal mengatakan rangkaian kasus ini aneh dan menimbulkan banyak pertanyaan. Sebab, Pernyataan Presiden kontradiktif dengan menteri koordinatornya.
"Saya melihat bisa juga kemudian orang yang tidak ada beban apapaun seperti Pak Jokowi karena merasa dirugikkan namamnya dengan melapor. Kalau benar Pak Luhut merasa namanya disalahgunakan harusnya juga melakukan hal yang sama. Itu seharusnya menjadi item yang perlu diklarifikasi dan dijelaskan oleh Pak Luhut dalam konferensi pers kemarin," ucapnya.
Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku mendorong Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said untuk melapor ke Majelis Kehormatan Dewan. JK meminta Sudirman mengungkap pertemuan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, Ketua DPR Setya Novanto, dan pengusaha minyak Muhammad Riza Chalid.
JK tak main-main dalam melihat perkara ini. Dia sempat menanyakan langsung apakah isu yang dilontarkan Sudirman adalah fakta atau isapan jempol belaka. Sudirman pun meyakinkan JK bahwa perkara itu benar adanya dan dapat dipertanggungjawabkan. "Saya bilang, 'harus Anda clear-kan, harus tuntut ini kalau begitu'," ujar Kalla di New World Hotel, tempatnya menginap selama APEC, di Manila, Filipina, Kamis (19/11).
Wapres melanjutkan Sudirman mengaku sudah melapor kepada Presiden Joko Widodo sebelum menemuinya ketika akan mengadu ke MKD. Namun, JK belum dapat 'bisikan' soal apakah yang disampaikan Sudirman ke kuping Jokowi. "Saya tak tahu apa laporannya," ucap dia.
JK pun khawatir jika Sudirman tak melapor kepada MKD, kasus ini berlarut-larut dan merembet ke mana-mana. Pasalnya, salah satu yang dikhawatirkan JK bila nantinya polemik ini menghilangkan kepercayaan investor karena nama kepala negara turut diseret-seret. "Kalau tidak percaya lagi (kepada) Presiden dan Wakil Presiden, maka negeri ini bisa rusak," pungkas dia.
Dalam sejumlah kesempatan, Kalla selalu menegaskan dirinya dan Presiden satu suara dalam kasus ini, yakni mengusutnya hingga tuntas. Sementara, hal berbeda justru diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut mengatakan, tindakan Sudirman Said itu tak mendapat restu Presiden Joko Widodo.
"Tidak ada restu Presiden untuk Sudirman Said laporkan ke MKD," ucap Luhut.
Pensiunan tentara ini menganggap aneh langkah Sudirman melaporkan Novanto ke MKD. Sayangnya, dia tak menjelaskan pandangannya soal anggapan itu. Luhut yang namanya beberapa kali disebut dalam rekaman yang menjadi alat bukti pelaporan Sudirman ke MKD, merasa tak perlu mengambi langkah hukum. "Saya tidak merasa tercemar. Biasa-biasa saja menurut saya," tutur dia.(Q-1)