TNI AL Cium Kepentingan Bisnis di Balik Isu Keamanan Selat Malaka
M Rodhi Aulia
12/11/2015 00:00
(-(ANTARA/Aswaddy))
Perairan Selat Malaka dipersepsikan rawan pembajakan dan perompakan dengan target utama kapal yang berlalu-lalang. TNI Angkatan Laut memastikan persepsi tersebut sengaja disebarkan demi kepentingan terselubung.
"Ada kepentingan hegemoni di sana," kata Panglima Komando Armada Kawasan Barat (Koarmabar) Laksamana Muda TNI A Taufiq R dalam konferensi pers di Markas Komando Armabar, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Kamis (12/11).
Taufiq tidak merinci maksud di balik hegemoni tersebut. Yang jelas, bahwa kondisi perairan Selat Melaka yang dilaporkan rawan pembajakan tidak sepenuhnya benar. Bahwa terjadi pencurian di atas kapal, memang benar terjadi. Adanya sejumlah orang yang tiba-tiba memanjat ke atas kapal, ketika kapal tersebut sedang berlayar.
Namun, kata Taufiq, pelaku pencurian tidak bersenjata laiaknya perompak atau pembajak pada umumnya. Seperti kejadian pada 22 Oktober 2015 yang menimpa kapal berbendera Marshal Island, MV Merlin. Pihaknya berhasil menangkap sepuluh pelaku dengan tuduhan pencurian spare part kapal.
"Ini pencurian biasa. Tidak ada senjata api yang kita temukan. Yang ada hanya sarana prasarana, atau alat untuk memanjat," tukas dia.
Sementara, isu perompakan atau pembajakan kapal, Taufiq menduga itu ada kaitannya dengan bisnis asuransi. Artinya, semakin tidak aman suatu lintasan perairan, maka kapal yang mau tidak mau melintas, terpaksa membayar jasa asuransi dengan biaya tinggi.
Taufiq mengatakan, pihaknya menyiagakan sebanyak 32 kapal yang beroperasi 24 jam dalam sehari. Kapal itu selalu melakukan patroli di sekitar area komandonya. Termasuk di Selat Malaka. Taufiq menjamin, kondisi Selat Malaka aman dan nyaman untuk dilintasi.
"Seiring waktu berjalan (biaya) asuransi kapal yang mau lewat, pun turun drastis," ungkap dia.(Q-1)