Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Jagoannya Banyak yang Keok, PDIP: Pilkada Harus Dilihat secara Utuh

Astri Novaria
28/6/2018 22:05
Jagoannya Banyak yang Keok, PDIP: Pilkada Harus Dilihat secara Utuh
(Ilustrasi)

SEKRETARIS Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto menggelar konferensi pers menanggapi terkait hasil perolehan suara hitung cepat untuk 171 daerah pada Pilkada serentak 2018, Kamis (28/6). Tidak sedikit pasangan calon yang diusung PDIP kalah sebagai partai pemenang Pemilu 2014.

"Bagi PDIP, hasil Pilkada harus dilihat secara utuh. Bukan hanya pemilihan 17 provinsi, tetapi juga pemilihan ratusan bupati dan wali kota. Sebab, dalam sistem otonomi daerah, posisi wali kota dan bupati sangatlah strategis karena mereka yang memegang wilayah. Sementara Gubernur sifatnya koordinatif," ujar Hasto di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Kamis (28/6).

Seperti diberitakan, duet jagoan PDIP yang kalah antara lain pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus di Pilgub Sumatra Utara. Merujuk hitung cepat seperti lembaga survei Indikator, pasangan tersebut hanya memperoleh suara sekitar 44%. Perolehan suara Djarot-Sihar kalah dari pasangan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah alias Ijeck yang meraup suara di kisaran 56%.

Jagoan PDIP kedua yang tumbang adalah pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan yang mencalonkan di Pilgub Jabar. Di Jabar, status PDIP adalah satu-satunya parpol yang bisa mengusung pasangan calon sendiri. Berdasarkan hitung cepat lembaga survei Indikator, duet ini hanya meraup 11,58 % suara. Mereka kalah telak dari pasangan Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum yang memperoleh suara 34,27 %.

Untuk di Jawa Timur, PDIP juga harus mengalami kekalahan. Berdasarkan hitung cepat Indikator, pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) - Puti Guntur hanya mampu meraih suara 46,37%. Sementara, rivalnya, Khofifah-Emil mampu meraup 53,63 % suara.

Unggulan PDIP lainnya yang juga tumbang yakni di Pilgub Sumatera Selatan. Hitung cepat lembaga survei Indikator menyebutkan pasangan yang diusung PDIP, Dodi Reza Alex Noerdin-Giri Ramanda Kiemas hanya mampu mendulang suara 31,95 %. Dodi-Giri kalah dari pasangan Herman Deru-Mawardi yang mendapat suara 34,95%.

Begitu pun duet PDIP yang diusung untuk Pilgub Kalbar, Karolin Margret-Suryadman Gidot juga harus menelan kekalahan. Berdasarkan hitung cepat Poltracking, Karolin-Gidot hanya mampu mengumpulkan 41,51 % suara. Duet Karolin-Gidot kalah dari pasangan Sutarmidji-Ria Norsan yang mampu mengumpulkan 51,01 % suara.

Untuk Provinsi Kalimantan Timur, jagoan PDIP juga mengalami kekalahan. Berdasarkan hitung cepat Indo Barometer, PDIP yang menjagokan Rusmadi-Safaruddin hanya mampu mendapat suara 24,71. Pasangan ini kalah dari pasangan Isran-Hadi yang mengumpulkan 31,4 % suara.

Kemudian, jagoan PDIP untuk Provinsi Riau, Arsyadjuliandi Rachman-Suyatno juga harus mengalami kekalahan. Berdasarkan hitung cepat lembaga riset dan konsultan politik Polmark Indonesia, Arsyadjuliandi Rachman-Suyatno hanya mampu duduk di peringkat kedua dengan perolehan 24,35 % suara. Mereka kalah dari pasangan Syamsuar-Edy Nasution yang meraup suara 38,17 %.

Unggulan PDIP di provinsi lainnya yang juga mengalami kekalahan yakni Herman Hasanusi-Sutono yang bersaing di Provinsi Lampung. Mereka kalah dari pasangan Arinal-Chusnunia. Berdasarkan hitung cepat versi Charta Politika, Hasanusi-Sutono hanya mengumpulkan 27,97 % suara.

Mereka kalah dari pasangan Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim yang mampu meraup 36,12 % suara.

Pasangan yang diunggulkan PDIP lainnya yang juga mengalami kekalahan adalah Marianus Sae-Emmilia Nomleni (Marianus-Emmi) untuk Pilkada Provinsi NTT. Pasangan yang diusung PDIP bersama PKB ini hanya mampu meraup suara 27,31 persen. Mereka kalah dari pasangan yang diusung Partai NasDem, Golkar, dan Hanura, yaitu Victor Laiskodat-Josef Nae Soi yang mendapat perolehan suara 37,17 persen versi hitung cepat lembaga survei Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC).

"Bagi PDIP, hasil Pilkada di tingkat kabupaten/kota dan provinsi adalah kemenangan dan kisah sukses dari komitmen kaderisasi Partai. Dalam konteks itu,  kami berhasil melawan pragmatisme mengambil sembarang tokoh yang tidak jelas asal usul ideologi dan komitmennya, dan PDIP kukuh mengajukan kader untuk maju Pilkada. Dan untuk mendukung komitmen ini, PDIP menyelenggarakan sekolah Partai untuk calon kepala daerah, dan juga dilakukan psikotest," tandasnya.

Hasto menegaskan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri selalu mengingatkan agar PDIP selalu berupaya menciptakan kepemimpinan dari proses yang benar bukan dari proses upaya memecah belah masyarakat dan juga bukan melalui politik pragmatis seperti melakukan politik uang untuk kekuasaan. Kalau untuk sekedar menang kalah, sambung Hasto, tentu pihaknya akan mengusung figur yang elektabilitasnya paling tinggi, tidak harus memperhatikan apakah itu kader atau bukan, dan bagaimana komitmen ideologinya.

"Sebagai partai ideologis, PDIP sangat memperhatikan bagaimana aspek kepemimpinan ke depannya setelah terpilih menjadi kepala daerah.Jangan klaim pada kemenangan tetapi pada bagaimana proses institusi kelembagaan partai dalam menyiapkan pemimpin. Ukur dari banyak sedikitnya kader partai yang berhasil dan diperjuangkan sebagai kepala daerah melalui tahapan-tahapannya," paparnya.

Lebih lanjut, Hasto mengatakan PDIP berhasil memenangi 6 PIlkada Provinsi. Menurutnya hal itu menunjukkan kaderisasi berhasil melahirkan kepemimpinan seperti Ganjar Pranowo yang menang di Jawa Tengah, I Wayan Koster di Bali, Barnabas Orno sebagai calon wakil gubernur Maluku mendampingi Murad Ismail. Kemudian kader PDIP di Pilkada Papua, Jhon Wempi Wetipo (wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Papua) yang menjadi calon gubernur Papua, dan berdasarkan hitungan sementara masih unggul. Lebih lanjut kata Hasto, calon yang diusung PDIP juga unggul di Sulsel dan Maluku Utara.

Kemudian dari Pilkada di 154 kabupaten/kota, sambung Hasto, PDIP mengajukan pasangan calon di 151 kabupaten/kota, sementara 3 kabupaten/kota tidak ikut mencalonkan yakni Kab. Pamekasan, Hulu Sungai Selatan, dan Paniai.

"Dan dari 151 yang kita usung, 33 kader calon kepala daerah, dan 38 kader calon wakil kepala daerah dalam hitungan cepat dinyatakan menang," ungkapnya.

Pada kesempatan itu, pihaknya juga mengapresiasi penyelenggaraan Pilkada 2018 yang berlangsung aman dan damai. Hasto menyampaikan terima kasih kepada jajaran KPU, Bawaslu, aparat Polri dan TNI. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat bahwa Pilkada serentak berjalan nyaris tanpa insiden. Menurutnya, hal ini sekaligus menunjukkan kesuksesan Presiden RI Joko Widodo dalam menjaga amanah rakyat.

"Masyarakat sudah dewasa, hanya elite tertentu yang gemar menggerutu membuat suasana damai demokratis dirusak oleh kecurigaan," pungkasnya. (OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya