Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Tanggulangi Terorisme, Presiden Minta Seimbangkan Pendekatan Keras dan Halus

Nur Aivanni
22/5/2018 17:52
Tanggulangi Terorisme, Presiden Minta Seimbangkan Pendekatan Keras dan Halus
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

PRESIDEN Joko Widodo mengatakan bahwa kejahatan terorisme tidak cukup hanya dilawan dengan pendekatan hard power saja, tetapi juga butuh pendekatan soft power. Karena itu, menurutnya, pendekatan hard power dan soft power harus dilakukan secara seimbang untuk mencegah dan menanggulangi terorisme.

"Untuk itu, saya minta pendekatan hard power dengan soft power ini dipadukan, diseimbangkan dan saling menguatkan sehingga aksi pencegahan dan penanggulangan terorisme bisa berjalan jauh lebih efektif lagi," kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas dengan topik pencegahan dan penanggulangan terorisme, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (22/5).

Ia menegaskan bahwa terorisme adalah kejahatan yang luar biasa terhadap bangsa, negara dan kemanusiaan. Hampir semua negara di dunia menghadapi ancaman kejahatan terorisme. "Ancaman terorisme bukan hanya terjadi di negara-negara yang sedang dilanda konflik, tapi juga di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, juga sedang menghadapi ancaman yang sama," katanya.

Selama ini, kata Jokowi, bangsa ini lebih fokus pada pendekatan hard power yang mengedepankan pencegahan dengan melakukan penegakan hukum yang tegas, keras dan tanpa kompromi dan memburu serta membongkar jaringan teroris sampai ke akar-akarnya. "Pendekatan hard power jelas sangat diperlukan, tapi itu belum cukup. Sudah saatnya kita menyeimbangkan dengan pendekatan soft power," katanya.

Pendekatan soft power yang harus dilakukan bukan hanya dengan memperkuat program deradikalisasi kepada mantan narapidana terorisme, melainkan juga membersihkan lembaga-lembaga mulai sekolah, perguruan tinggi, ruang publik, sampai mimbar umum dari ajaran ideologi terorisme.

"Langkah preventif ini menjadi penting ketika kita melihat pada serangan teror bom bunuh diri di Surabaya, Sidoarjo yang lalu dan mulai melibatkan keluarga, perempuan dan anak-anak di bawah umur. Ini menjadi peringatan kepada kita semuanya, menjadi wake up call betapa keluarga telah menjadi target indoktrinasi ideologi terorisme," pungkasnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya