Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Hadapi Potensi Ancaman, TNI Harus Perkuat Jati Diri Bangsa

Golda Eksa
22/5/2018 14:38
 Hadapi Potensi Ancaman, TNI Harus Perkuat Jati Diri Bangsa
(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

MASUKNYA pelbagai potensi ancaman fisik dan nonfisik, seperti radikalisme dan terorisme merupakan sebuah keniscayaan. Hal itu dapat diantisipasi apabila seluruh prajurit TNI mampu menyatukan kekuatan dengan memperkuat identitas dan jati diri, serta membangun persatuan dan kesatuan yang kokoh bersama komponen bangsa.

Demikian amanat Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat memberikan pengarahan kepada para komandan dan kepala satuan jajaran di Markas Divisi Infanteri I Komando Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad), Cilodong, Jawa Barat, Selasa (22/5). Acara tersebut dihadiri Panglima Kostrad Letjen Agus Kriswanto dan ratusan perwira TNI AD.

Ia mengemukakan, sejumlah negara di kawasan dan diberbagai belahan dunia saat ini sedang menghadapi potensi ancaman yang sangat nyata, yaitu terorisme dan radikalisme generasi ketiga. Ancaman itu muncul setelah kelompok Al Qaeda dan Daesh (ISIS) di Timur Tengah dihancurkan.

"Oleh karena itu penanganan ancaman ini sangat memerlukan komitmen dan tindakan bersama yang konkret dan serius," ujar Ryamizard.

Secara umum di kawasan Asean publik sedang menyaksikan serta berhadapan dengan tiga generasi pergerakan jihad teroris global. Generasi pertama ialah kelompok Al Qaeda yang menyerang Gedung WTC di AS pada 2001. Kelompok itu kemudian dianggap sebagai ancaman bagi negara-negara di Asia, Afrika, timur tengah, dan Eropa.

"Sementara ancaman teroris generasi kedua adalah jihad global ISIS Suriah dan Irak setelah Abu Bakar Al Baghdadi mengumumkan pembentukan khilafah dan negara ISIS pada Juni 2014."

Dalam menghadapi potensi ancaman itu, sambung dia, diperlukan konsep pembangunan (mindset) dari seluruh rakyat Indonesia melalui penanaman wawasan kebangsaan yang berlandaskan Pancasila sebagai ideologi negara. Tujuannya agar rakyat tidak mudah dipengaruhi dan terprovokasi oleh upaya pencucian otak dari kelompok tertentu.

Melihat realitas tersebut, maka desain strategi pertahanan negara juga harus diarahkan dengan konsep perang rakyat semesta (total warfare) yang melibatkan pembangunan seluruh komponen bangsa. Konsep itu perlu dilandasi dengan penanaman nilai-nilai kesadaran bela negara yang lahir dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

"Strategi pertahanan tersebut merupakan strategi perang khas Indonesia yang telah menghantarkan bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya, serta menjadikannya suatu negara bangsa yang sejajar dengan bangsa-bangsa merdeka lainnya di dunia," tukas Ryamizard. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya