Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
SOSOK calon wakil presiden akan menentukan kemenangan bagi calon presiden di Pilpres 2019 mendatang. Hingga kini, masih misteri siapa yang akan dipilih menjadi calon wakil presiden (cawapres) untuk Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Menurut Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Adjie Alfaraby elektabilitas bukan menjadi variabel utama seseorang dipilih menjadi cawapres.
"Kita lihat pengalaman Pilpres 2009. Ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai petahana saat itu memilih Boediono sebagai cawapres. Boediono bukanlah tokoh yang saat itu memiliki elektabiltias yang tinggi. Namun SBY memiliki kriteria dan pertimbangan lain dalam memilih Boediono. Hal ini membuktikan elektabilitas tidak selamanya menjadi indikator utama," ujar Adjie di Kantor LSI, Jakarta, Senin (14/5).
Dalam survei yang dilakukannya, LSI mengembangkan sebuah metode baru dalam mengukur potensi dan kelayakan cawapres. Metode yang digunakan adalah expert judgement. Metode ini diawali dengan menentukan enam indeks kelayakan cawapres.
Keenam indeks tersebut, pertama, cawapres menambah dukungan elektabilitas. Kedua, cawapres menambah kecukupan partai. Ketiga, cawapres menambah kapasitas kemampuan memerintah.
Keempat, akseptabilitas cawapres oleh capres/kenyamanan berpasangan. Kelima, cawapres adalah tokoh yang mengakomodasi kelompok politik penting (suku, agama,sipil, militer, dan lainnya). Keenam, cawapres menambah dana kampanye.
Keenam indkes ini dinilai oleh para ahli yang berjumlah 30 orang yang berasal dari akademisi, peneliti, media dan lain-lain. Setiap indeks ada skornya antara 1-10 yang diberikan ke setiap cawapres yang dinilai.
Setiap ahli memberikan skornya setiap indeks untuk masing-masing cawapres. Skor yang dicantumkan didalam slide presentasi ini dalah skor rata-rata dari 30 ahli yang telah dibulatkan.
Dari survei yang dilakukan, tiga cawapres potensial yang memperoleh skor tertinggi untuk Jokowi dari unsur partai antara lain, Airlangga Hartarto (34), Budi Gunawan (32) dan Puan Maharani (31).
Sementara itu cawapres potensial Jokowi dari unsur militer secara berturut-turut adalah Moeldoko (34), Agus Harimurti Yudhoyono (33) dan Gatot Nurmantyo (31). Adapun tiga cawapres potensial dari unsur Islam berturut-turut adalah TGB Zainul Majdi (37), Muhaimin Iskandar (36) dan Romahurmuziy (35).
Kemudian, tiga nama teratas sebagai cawapres potensial untuk Prabowo adalah Ahmad Heryawan (37), Muhaimin Iskandar (36) dam TGB Zainul Majdi (35). Sedangkan tiga nama teratas sebagai cawapres potensial untuk Gatot Nurmantyo yakni, Muhaimin Iskandar (38), Agus Harimurti Yudhoyono (37) dan Ahmad Heryawan (36).
"Tersisa 11 bulan menuju Pilpres 2019. Memang saat ini Jokowi merupakan capres terkuat. Namun sejarah pemilu di Indonesia membuktikan bahwa tidak sedikit petahana yang sangat kuat dan perkasa jauh sebelum pemilu akhirnya kalah saat pemilihan. Bisakah Jokowi dikalahkan? Probabilitasnya 50:50. Jokowi bisa dikalahkan jika kekuatan oposisinya bersatu. Seperti bersatunya Anwar Ibrahim dan Mahatir Muhammad dalam pemilu Malaysia yang baru usai," pungkas Adjie. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved