Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
MANTAN Country Manager HP Enterprise Services, Charles Sutanto Ekapradja dalam lanjutan sidang kasus KTP elektronik dengan terdakwa Setya Novanto mengatakan dirinya pernah tiga kali bertemu dengan Novanto dengan perantara Made Oka yang merupakan kenalan mertua pertamanya.
Charles menceritakan awalnya dia dihubungi Johannes Marliem yang mengaku mewakili perusahaan L1 yang bekerja sama dengan HP untuk project kartu Id. Di situ Marliem menawarkan kerja sama serupa untuk project yang lain. Namun saat itu Charles ingin mengecek kebenaran informasi tersebut lebih lanjut.
"Saya mengecek internal kebenaran statement Johannes Marlim, dan memang ada kerja sama L1 dengan HP yang mendeliver project kartu identitas untuk Home Land Security (Amerika). Kemudian saya mengecek project nation id itu apa, betul ada atau tidak sebab setahu saya akhir 90an ada proyek serupa tetapi tidak berjalan," terang Charles di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (22/1).
Dalam upaya konfirmasi tersebut dirinya kemudian bertanya kepada Made Oka Masagung dan meminta dikenalkan kepada pihak yang memiliki informasi terkait proyek nation id (KTP-e) tersebut.
Setelah beberapa waktu antara tiga minggu hingga satu bulan kemudian Made Oka kemudian menghubungi dirinya dan meminta dia untuk datang ke kantornya Made Oka dan kemudian dirinya diajak ke rumah Novanto.
Dalam pertemuan tersebut dirinya ditanya oleh Novanto terkait asal perusahaannya dan kompetensinya hingga akhirnya kemudian Novanto dan Oka berbicara di ruangan sebelah. Di perjalanan pulang Charles sempat menanyakan pengaruh dari Novanto dalam proyek tersebut.
"Saya tanya perannya (Setya Novanto) apa. Ya dia (Made Oka) bilang udah ikutin aja prosesnya," jelas Charles yang menirukan arahan Made Oka saat itu.
Charles menyebutkan dirinya sempat bertemu lagi dengan Novanto dalam kegiatan makan siang di DPR bersama dengan banyak orang tetapi dirinya mengaku tidak mengenal yang hadir saat itu karena banyak orang.
Pertemuan ketiga, dirinya kembali dipanggil ke rumah Novanto, dalam pertemuan tersebut dirinya ditanyakan terkait harga produksi dari kartu id yang dilakukan di Amerika.
"Saya ditanya cost kartu untuk produksi berapa, itu pertama. Saya jawab kalau berdasarkan pengalaman dari HP di Home Land Security harganya itu sekitar US$ 2,5 sampai US$ 3 per id," terang Charles.
Selain itu dirinya juga ditanyakan apakah chip nya dapat menggunakan produksi dari negara lain. Charles menjawab kalau HP selalu menggunakan chip terstandar. Namun, imbuhnya, bila ISO chipnya terpenuhi bisa saja digunakan.
Dalam Pertemuan ketiga tersebut Charles juga mengaku dikenalkan kepada Irvanto yang merupakan keponakan dari Setya Novanto. Menurutnya saat itu Irvanto dikenalkan secara spontan oleh Novanto namun tidak ada pembicaraan serius dan hanya perkenalan sambil lalu saja.
Charles menjelaskan pada akhirnya HP yang dia bawahi (software) tidak mendapatkan tender karena harga akhir yang ditawarkan HP untuk project tersebut sebesar US$ 60 juta. Sedangkan Johannes Marliem ingin harganya US$ 24 juta. Sedangkan yang ikut project KTP-e adalah divisi printer, server, dan PC yang bukan di bawah pimpinannya.
Terima US$ 800 ribu
Charles juga menceritakan bahwa dirinya mundur dari HP dan bergabung PT Sesko Sistem Indonesia. Kemudian bergabung dengan Johannes Marliem sekitar 2011. Saat itu Marliem meminta bantuan untuk mengawasi pengembangan software sistem chip KTP-e yang sudang dikembangkan oleh Johannes Marliem di India.
"Marliem berinisiatif mengembangkan untuk sistemnya karena tidak menggunakan software HP, makanya saya diminta mengawasi. Ide awalnya, kalau data kependudukan tunggal, maka pemerintah, bank, telko butuh verifikasi data. Software terebut yang menghubungkannya," jelas Charles.
Dari pekerjaannya sebagai konsultan tersebutlah Charles kemudian mendapatkan US$ 800 ribu meski sebelumnya dia minta US$ 900 ribu. Namun pekerjaan tersebut tidak berdasarkan kontrak oleh Johannes Marliem dan hanya berdasarkan verbal saja.
Dari uang tersebut kemudian dirinya membelikan mobil Porche seharga Rp 2,8 miliar dan rumah seharga Rp 700 juta dengan di cicil. Sisa uangnya digunakan untuk keperluan pribadi, disimpan dan juga membayar utang.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved