Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Eskalasi Semenanjung Korea Ancaman Serius Bagi Indonesia

Kisar Rajaguguk
19/12/2017 20:09
Eskalasi Semenanjung Korea Ancaman Serius Bagi Indonesia
(AFP)

KEWAPADAAN negara terhadap ancaman perang nuklir yang dilontarkan Korea Utara harus ditingkatkan mengingat eskalasi situasi di Semenanjung Korea saat ini terus bergolak. Ada kekhawatiran hal ini membuka kemungkinan terjadinya konfrontasi dengan skala serius, terutama dengan keberadaan senjata nuklir sebagai salah satu instrumen konflik.

Demikian dikatakan Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan (Unhan) Laksamana Muda TNI Amarulla Octavian dalam Seminar Nasional bertajuk Diplomasi Pertahanan Republik Indonesia terkait Krisis di Semenanjung Korea di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Depok, Selasa (19/12).

Dijelaskan dia, Korea Utara, merupakan negara yang berkonsentrasi pada keselamatan rezim dan negaranya. Sebagai negara yang terkucil secara diplomatis, maka nuklir dipilih Korut untuk mencegah dan menggetarkan negara-negara lain yang menginginkan kejatuhan rezimnya.

“ Bahkan sejak Donald Trump menjabat sebagai Presiden, Amerika Serikat secara penuh melakukan konfrontasi terhadap tindak-tanduk yang dilakukan oleh rezim Kim Jong-Un. Atas krisis tersebut, maka Indonesia haruslah berperan dalam menciptakan perdamaian dunia, “ urainya.

Ia menambahkan krisis di Semenanjung Korea tentu berdampak bagi Indonesia. Dalam tataran era globalisasi ini maka apa yang terjadi di suatu wilayah tentu berdampak dan mempengaruhi Indonesia. Jika pada skenario terburuk nantinya terjadi peluncuran rudal dan terjadi perang tentu Indonesia juga akan terkena dampaknya.

"Contohnya sekarang diluncurkan ke Jepang, tapi bisa juga kearah selatan. Kalau misal nanti terjadi kesalahan perhitungan maka ada kemungkinan senjata itu jatuh di wilayah Indonesia. Lalu bagaimana Indonesia mengantisipasi kemungkinan terburuk itu? Di sinilah TNI sebagai salah satu komponen yang harus menjaga keselamatan Indonesia," kata Octavian.

Dalam hal ini, kata dia, TNI memiliki tanggungjawab dalam melaksanakan pertahanan anti rudal yang kemungkinan diluncurkan oleh Korut. Kesiapan yang dimiliki TNI sendiri antara lain saat ini telah dibentuk Komando Pertahanan Udara Nasional.

Pasukan itu dilatih untuk bagaimana menghadapi konsep serangan udara konvensional jika dilakukan oleh pesawat udara oleh musuh. Di sisi lain, pasukan juga tidak boleh lengah akan ancaman rudal yang sewaktu-waktu bisa diluncurkan Korut.

"Sekarang mau tidak mau karena krisis di Semenanjung Korea maka kita harus bisa menghadapi serangan dari rudal. Ini sangat berbeda dengan serangan pesawat udara," tukasnya.

Serangan rudal kata dia bisa lebih cepat dari serangan pesawat udara. Bahkan daya ledaknya juga lebih tinggi dibanding serangan udara. Serangan rudal juga bisa meledak dimana saja. "Makanya disebut sebagai senjata non konvensional. Ini yang harus menjadi perhatian masyarakat Indonesia seluruhnya," paparnya.

Atas krisis tersebut, pihaknya bersama UI merasa perlu untuk mendiskusikan persoalan ini. Sehingga dapat dihasilkan rekomendasi dan usulan yang mampu membawa pada perdamaian dunia dan Indonesis khususnya.

"Disini kita ingin mendapatkan masukan apa yang seharusnya dilakukan Indonesia. Tadi ada masukan untuk mengirimkan utusan khusus misalnya militer untuk menjadi delegasi," katanya.

Jika tidak dilakukan maka kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Investasi yang sudah dibangun saat ini pun bisa dengan cepat rusak jika serangan nuklir dilakukan Korut.

"Kalau misalnya meluncur dari Korut maka kita cuma punya waktu 16 menit untuk berlindung. Itu dari kalkulasi kita. Begitu dengar (peluncuran nuklir) maka harus segera bertindak apa yang harus dilakukan. Begitu. Ada info sudah meluncur rudal itu dan apakah arahnya ke Amerika atau kemana kita tidak pernah tahu," tutupnya (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya