Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
KANDIDAT yang pantas mendampingi Ridwan Kamil di pilkada Jawa Barat ialah mereka yang mampu menjawab berbagai isu antikorupsi dan memiliki karakter religius.
Kedua hal itu berguna untuk meraih simpati masyarakat demi mendulang suara kemenangan. Demikian dikatakan Koordinator Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch Donal Fariz saat diskusi Pilkada Jabar: Melihat Figur Santri dan Antikorupsi, di D Hotel, Jalan Sultan Agung, Menteng, Jakarta, kemarin.
"Orang yang pas ialah yang bisa menjawab problem isu antikorupsi. Jabar, walaupun bertetangga dengan Jakarta, kan tidak tersentuh dengan isu-isu reformasi birokrasi," ujar Donal.
Selain dilihat dari perspektif antikorupsi, calon pendamping Ridwan Kamil juga harus bisa memunculkan politik identitas untuk memantulkan isu suku, agama, dan ras.
Maklum, tidak tertutup kemungkinan isu SARA masih digunakan dalam pelaksanaan pilkada Jabar.
"Selain itu diperlukan basis loyalis. Nah, Ridwan Kamil belum punya basis itu. Seperti basis Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) di pilkada Jakarta. Basis loyalis ini nantinya bertugas untuk menahan isu-isu yang dianggap kurang pas."
Donal mengatakan kasus korupsi yang terjadi di Jawa Barat kurun 2010-2016 mencapai 176 kasus dengan kerugian negara sekitar Rp1,991 triliun.
Rincian titik rawan kasus tersebut berupa penggelapan anggaran, mark up pengadaan, penyalahgunaan anggaran, suap, dan gratifikasi.
Kasus yang menjerat Ketua DPR Setya Novanto juga perlu diperhitungkan.
Apalagi Partai Golkar mau mengusung kadernya untuk mendampingi Ridwan Kamil.
Jika Golkar ingin memenangi perhelatan pilkada, jajaran pengurus di daerah harus mendorong pergantian terhadap Setya Novanto.
"Kenapa? Karena narasi-narasi antikorupsi yang diusung Golkar pasti sulit diterima masyarakat, khususnya bagi kader yang akan maju di pilkada. Ini bakal menjadi bencana bagi pengurus yang tidak mendesak untuk pergantian pimpinan," kata dia.
Fenomena bagus
Peneliti CSIS Arya Fernandes menambahkan saat ini telah muncul fenomena yang menjadi kabar baik bagi proses politik di tingkat lokal, yakni figur bakal calon kepala daerah bukan berlatar kader partai.
"Contohnya, Ridwan Kamil di Jabar, Khofifah di Jatim, dan Nurdin Abdullah di Sulsel. Track record mereka baik dan tidak punya masalah. Mereka ialah orang baru. Selain bukan dari parpol, tapi justru populer. Inilah yang perlu menjadi bahan evaluasi bagi parpol," ujar dia.
Dengan melihat parameter tersebut, diprediksi akan sangat sulit bagi kader yang berasal dari tingkat pusat untuk berlaga di daerah.
Regenerasi di level daerah merupakan kabar baik yang sedianya perlu diikuti jajaran elite parpol masing-masing.
Sekjen Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Kaka Suminta mengatakan Jabar memiliki keunikan yang tidak bisa disetarakan dengan Jakarta.
Artinya, isu pilkada yang pernah digunakan di Jakarta dipastikan tidak bisa diterapkan di Jawa Barat. (AD/UL/MG/P-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved