Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Kesadaran terhadap Pancasila Meningkat

Golda Eksa
17/11/2017 08:01
Kesadaran terhadap Pancasila Meningkat
(MI/BARY FATHAHILAH)

PEMBENTUKAN Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) telah membuahkan hasil positif.

Hal itu ditandai dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya Pancasila sebagai ideologi negara.

Demikian dikatakan Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno saat memberikan pidato dalam seminar nasional bertajuk Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Sistem Pendidikan Guna Memperkukuh Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional, di Gedung Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta, Kamis (16/11).

Seminar tersebut juga menghadirkan sejumlah pembicara, seperti mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid, sejarawan Anhar Gonggong, sastrawan Ignas Kleden, dan praktisi pendidikan Arief Rachman.

Menurut Try, kebijakan pemerintah dengan mengeluarkan aturan tentang pendidikan karakter bagi anak-anak bangsa juga dipastikan dapat menghasilkan generasi muda yang cakap budi pekerti serta memahami nilai-nilai luhur Pancasila.

"Ini merupakan angin segar bagi revitalisasi Pancasila. Ini juga tanda-tanda kebangkitan agar Indonesia berdaulat, adil, dan makmur sesuai Pancasila dan UUD 1945," ujar Try.

Di hadapan peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI Lemhannas, Try juga mengingatkan agar semua pihak senantiasa mengelola bangsa dan negara, serta tetap menjaga keutuhan NKRI.

Hal itu amat berguna untuk mengatasi pelbagai rongrongan serta upaya memecah belah kesatuan bangsa.

Trauma

Mantan Panglima ABRI, itu menambahkan selama reformasi bergulir terbukti Pancasila yang merupakan simbol negara telah terabaikan.

Faktanya terlihat dari empat kali amendemen UUD 1945 yang justru tidak lagi sesuai dengan semangat awal dari para pendiri bangsa.

Bahkan, imbuh dia, ada pula trauma yang semakin memperparah keadaan dan membuat pendidikan tentang Pancasila terabaikan.

Walhasil, kondisi yang terjadi sejak reformasi itu menempatkan Pancasila dalam posisi terdegradasi.

"Pendidikan Pancasila dihapuskan karena dianggap indoktrinasi. Padahal, Pancasila mempersatukan masyarakat Indonesia yang berbeda-beda suku, agama, dan ras," terang dia.

Try berharap Pancasila tidak sekadar untuk dihafalkan, tetapi perlu diterapkan dan tidak boleh dicampur dengan pendidikan lain.

Pancasila akan semakin kuat jika masyarakat bersedia menerapkan semua nilai yang terkandung di dalamnya.

"Pendidikan Pancasila ha-rusnya fokus, jangan dicampur dengan pendidikan kewarganegaraan karena Pancasila sangat penting perannya untuk bangsa Indonesia," kata Try.

Lebih jauh, terang dia, generasi penerus bangsa sejatinya tidak larut dalam globalisasi.

Tantangan dalam era globalisasi boleh saja dijawab. Namun, sebaiknya dapat dilakukan dengan tidak melupakan nilai-nilai Pancasila.

Jimly Asshiddiqie menambahkan bahwa Pancasila merupakan perasan dari nilai-nilai yang hidup dalam sanubari seluruh rakyat Indonesia.

Nilai-nilai itu akan mempersatukan bangsa di tengah keberagaman serta memperkuat ketahanan nasional.

"Dengan persatuan, ketahanan nasional kita menjadi kuat. Sebaliknya, ketahanan nasional akan lemah jika persatuan goyah dan semangat untuk bersatu luntur," pungkasnya. (P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya