Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
DUKUNGAN kepada Joko Widodo untuk kembali maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 sudah tidak terbendung lagi.
Berbagai lembaga survei mengunggulkannya, partai-partai politik pun sudah mulai mendeklarasikan dukungannya untuk Jokowi, salah satunya ialah Partai NasDem.
Pertanyaan selanjutnya ialah siapa yang dianggap paling pas untuk mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden?
Wakil Presiden RI saat ini, Jusuf Kalla, membeberkan kriteria pendamping yang cocok.
Sosok tersebut harus memiliki kepribadian berbeda dengan Jokowi.
"Misal presiden dari Jawa, wakilnya dari luar (Jawa). Itu umum," kata Kalla saat memberikan pengarahan dalam Rakernas Partai NasDem di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, kemarin.
Apalagi, tambahnya, hampir 60% populasi berasal dari Jawa. Penambahan suara dari luar Jawa sangat diperlukan.
Begitu pula bila calon presiden memiliki paham nasionalis, pendampingnya harus berasal dari kalangan religius.
Presiden dari kalangan politikus, jelas Kalla, harus didampingi seorang teknokrat.
"Kalau sama, asal pilihan (suaranya) menyempit, orang (masyarakat) cenderung memilih sesuai dengan kesamaan," beber Kalla.
Cawapres pendamping Jokowi, tambah JK, memiliki keuntungan karena capres merupakan petahana.
Biasanya, petahana tidak usah melakukan kampanye besar-besaran asalkan hasil kerja selama ia memimpin dinilai memuaskan oleh masyarakat.
Kalla mengatakan pilihan pendamping Presiden Jokowi tergantung partai pendukung.
Salah satu penentu, ujar dia, ialah partai pimpinan Surya Paloh itu.
Yang jelas, JK menandaskan dirinya tidak akan kembali menjadi pendamping Jokowi.
"Maaf, saya ingin istirahat," tandas pria berumur 75 tahun tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menyatakan masih merahasiakan nama cawapres yang akan disandingkan bersama Jokowi.
Sebelumnya, NasDem melontarkan tiga nama sebagai cawapres, yakni JK, Panglima TNI Gatot Nurmantyo, serta Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan.
Dengan 'pengunduran diri' JK, pilihan NasDem mengerucut menjadi dua nama.
Namun, Surya juga masih membuka kemungkinan untuk mengumumkan nama lain sebagai cawapres asalkan calon tersebut memiliki potensi, kapabilitas, dan integritas.
"Bisa dua, bisa juga di luar itu. Yang jelas, (calon terpilih) bisa memberikan elektabilitas juga," tandas Surya. (Deo/P-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved