Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Lunak Hadapi Terorisme Global

Sri Utami
03/11/2017 09:48
Lunak Hadapi Terorisme Global
(Sumber: Humas Polri/Grafis: Caksono)

ANCAMAN kelompok terorisme mendorong Polri terus bergerak cepat dan cermat. Konsep strategi pendekatan lunak semakin banyak dipakai sebagai pencegahan meluasnya paham yang diusung para teroris.

Saat ini, fenomena terorisme global kontemporer terbagi dalam dua gelombang besar.Gelombang pertama saat kemunculan Al-Qaeda sebagai jaringan kelompok terorisme global pertama kali di dunia. Gelombang selanjutnya, dengan kemunculan Islamic State (IS) sejak 2014.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian memaparkan hal itu saat menjadi pembicara diskusi panel di Markas PBB, New York, Amerika Serikat, awal pekan ini. “Terorisme global yang telah menjadi isu utama dalam keamanan dunia internasional saat in.”

Tito menjelaskan pentingnya konsep strategi pendekatan lunak dalam menghadapi kelompok terorisme tersebut dan tidak hanya mengandalkan pendekatan kekerasan. Dalam pendekatan lunak, sedikitnya ada lima langkah yang bisa ditempuh, yakni kontraradikalisasi, deradikalisasi, kontra ideologi, menetralisir saluran, dan menetralisir situasi yang mendukung penyebaran paham radikal.

“Banyak yang antusias dengan konsep soft approach ini, terlebih ketika adanya penurunan kualitas dan jumlah serangan teror yang terjadi di Indonesia. Mengingat terorisme global tidak mungkin diselesaikan hanya dengan penggunaan senjata.”

Tito juga menyampaikan perlunya memprioritaskan penyelesaian konflik terkait warga muslim karena ideologi radikal akan berkembang aktif dan mendapat panggung jika terjadi konflik.

Jaringan IS juga berupaya menancapkan kekuasaan di Asia Tenggara melalui pelaku-pelaku yang saling terhubung antarnegara. Pada kelompok IS di Marawi, Filipina Selatan, ditemukan indikasi keterlibatan kombatan asal Indonesia.

Teroris Bima
Sementara itu, di dalam negeri, sembilan warga yang diduga terlibat dalam kelompok teroris jaringan Imam Munandar di Bima, Nusa Tenggara Barat, diterbangkan ke Mabes Polri Jakarta. Wakapolda NTB Kombes Tajuddin mengatakan kesembilan warga yang berasal dari Penato’i, Kecamatan Mpunda, Bima Kota, itu akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh Tim Detasemen Khusus 88/Antiteror.

Pemeriksaan tersebut untuk mengetahui peran dan keterlibatan mereka dalam kelompok teroris yang melakukan aksi penembakan terhadap dua anggota Polres Bima Kota pada 11 September 2017. Menurut informasi, salah satunya bernama Iqbal yang diduga menjadi pelaku penembakan.

Densus 88 pun terus melakukan pengejaran terhadap Imam Munandar. Nandar diduga berperan sebagai penggagas aksi penembakan. (Ant/P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya